Jelang Akhir Musim Gugur, Daun-daun Maple Mulai Menguning

Ada fenomena khas setiap musim gugur di Kyoto, yaitu berubahnya warna daun-daun maple.  Pohon maple mungkin tidak dikenal luas di Indonesia.  Di Jepang, khususnya Kyoto, pohon maple mudah ditemui dimana-mana.  Setiap sisi jalan, taman-taman kota, dan di halaman rumah-rumah penduduk atau perkantoran, pohon maple tumbuh.

Daun-daun Maple (Momiji) yang berguguran memenuhi jalan di Kampus Doshisha, Kyoto (Foto: Ishaq)

Orang Jepang mengenal maple sebagai “momiji”.  Menurut wiki, istilah latinnya adalah Acer Palmatum.  Pada awal musim gugur, daun-daun maple yang semula berwarna hijau (sebagaimana daun pohon pada umumnya) akan berubah perlahan-lahan menjadi kemerahan, lalu coklat, hingga kemudian kuning.  Saat berwarna kuning itulah, daun-daun momiji akan berguguran memenuhi tanah.  Indahnya, warna menjadi berwarna kekuningan, dipenuhi daun-daun momiji.

Pohon Maple di sisi Jalan Karasuma, Kyoto (Foto: Ishaq)

Kekaguman orang-orang Jepang terhadap perubahan warna daun maple ini diabadikan dengan “festival momiji” pada setiap akhir bulan Nopember.  Biasanya, festival ini diadakan pada hari Sabtu atau Minggu, atau kadang juga pada kedua hari itu.  Festival ini lazim diadakan di seluruh Jepang.

Namun, nampaknya yang paling terkenal adalah Festival Momiji yang diadakan di sekitar Arashiyama, Kyoto.  Di festival ini, selain orang-orang berkumpul di sekitar pohon-pohon momiji yang berwarna-warni, juga ditampilkan berbagai kesenian tradisional Jepang, terutama tari-tarian  dan pertunjukan musik tradisional yang disebut koto dan sakuhachi (suling yang terbuat dari bambu).  Arashiyama adalah kawasan hutan bambu.

Daun-daun Momiji yang berwarna-warni di salah satu halaman kantor di Kyoto (Foto: Ishaq)

Berubahnya warna momiji menjadi kuning merupakan pertanda musim gugur telah mencapai puncaknya.  Itu berarti tidak lama lagi cuaca akan berubah menjadi semakin dingin.  Maka, momen festival momiji ini dimanfaatkan oleh orang-orang Jepang bukan saja untuk berkumpul dengan sejawat dan keluarga, namun juga sekaligus sebagai pertanda untuk segera bersiap memasuki musim dingin.

Di akhir bulan Nopember dan awal Desember, yang merupakan puncak perubahan warna momiji, suhu udara mulai turun dibawah 10 derajat celscius.

Keindahan momiji ini menjadikan kota Kyoto tidak kehilangan semarak dan daya tariknya saat akhir musim gugur.  Apalagi, pohon-pohon momiji tumbuh di tengah-tengah kota yang memang tidak terlalu banyak bangunan tinggi.  Oh ya, pemerintah Kyoto memang sangat membatasi pembangunan gedung tinggi di Kyoto, demi menjaga kelestarian ratusan bangunan tradisional (kuil, candi, dan tempat ibadah).

Kota ini benar-benar bisa menjadi contoh baik bagi kota-kota Indonesia yang ingin menjadi kota dunia berbasis budaya.  Herannya, kenapa jarang ya, pejabat-pejabat Indonesia yang studi banding ke sini? Just saying… 🙂

Pohon Momiji di Kampus Doshisha, Kyoto (foto: Ishaq)