Bawa Sepeda di @IndonesiaGaruda dari Jepang

Kali ini saya bermaksud membawa sepeda ke Indonesia. Selama di Kyoto dalam tiga bulan terakhir saya memakai sepeda yang bisa dilipat, yang menurut saya lumayan bagus. Rasanya sayang kalau  harus ditinggalkan.

Saya pernah mendengar bahwa dalam penerbangan, baik domestik maupun internasional, sepeda masuk kategori sport equipment. Perlakuannya sama seperti papan seluncur. Di Garuda Indonesia, membawanya di pesawat tidak dikenakan biaya bagasi, sama seperti alat musik. Informasi resmi tentang ketentuan bagasi dapat dilihat disini. Lihat di bagian Peralatan Olahraga.

Pertanyaannya, bagaimana seharusnya sepeda itu diperlakukan sehingga memenuhi ketentuan bagasi gratis?

Di website tercantum ukuran kotak yang diperbolehkan. Dengan demikian, saya awalnya berasumsi bahwa ia harus dimasukkan ke dalam kotak karton. Tapi, kenapa papan seluncur (surfing) sering kita lihat dibawa tanpa dimasukkan ke dalam box ya?

Jika harus dimasukkan box juga repot. Mencari box yang sesuai ukuran seperti tercantum pada website Garuda tentu tidak mudah.

Maka, untuk memastikan bisa dibawa tanpa masalah berarti, saya mulai mencari informasi.

Komunikasi dengan sosial media Garuda menyebutkan bahwa harus dimasukkan dalam kotak karton. Saya bertanya ke teman di Garuda juga informasinya sama, bahkan dia bilang sebaiknya diwrapping. Saya berpikir, yang diwrapping “sepedanya” atau “box-nya” ya?

Tas Sepeda

Di Jepang, pengguna sepeda lipat akrab dengan tas (namanya Rinko Bukuro). Tas ini adalah perlengkapan wajib jika ingin membawa sepeda di kereta: dilipat, lalu dimasukkan ke Rinko Bukuru, tidak boleh dalam keadaan polos.

Saya lalu bertanya ke kantor Garuda Jepang. Apakah bisa jika sepeda itu saya masukkan ke rinko bukuro dan bukan dalam kotak karton. Jawabnya, bisa. Meskipun demikian, karena sumber informasi yang bervariasi, saya berniat untuk menggunakan tas dan juga me-wrapping di Bandara nanti.

Jadi saya mencari rinko bukuro yang sesuai. Di Kyoto, toko-toko sepeda besar umumnya menjual berbagai macam varian rinko. Saya mendatangi toko Asahi Base Bycicle di daerah Takano. Ini tidak jauh dari apato saya dulu. Untuk memastikan bisa masuk ke dalam rinko bukuro, saya membawa serta sepeda ke toko itu.

Pelayan di toko sangat ramah. Ia mengajak saya ke lantai 2 dan menunjukkan berbagai macam rinko, dengan harga bervariasi. Yang paling murah 2.900 Yen. Ada yang harganya sampai 10.000 Yen. Saya memilih yang paling murah dan meminta untuk dicoba dulu. Maka sepeda saya dilipat dan coba di masukkan ke Rinko itu. Cocok. Jadi saya mengambilnya.

Dari Kyoto ke Bandara Kansai di Osaka lumayan jauh, tetapi ada bermacam pilihan transportasi: kalau kita membawa banyak barang atau bagasi berat, yang paling efisien adalah menggunakan Shuttle service. Kita order tiga hari sebelumnya, dan akan dijemput di tempat tinggal. Pilihan lain adalah kereta cepat dari Stasiun Kyoto, atau menggunakan bus dari dekat Stasiun Kyoto.

Saya mencoba Shutle service. Pada saat reservasi, saya sampaikan bahwa saya akan membawa sepeda. Ternyata, kedua perusahaan layanan shutle service yang ada di Kyoto (MK Taxi dan Yasaka Shutle) tidak diperkenankan membawa sepeda, meskipun dilipat dimasukan tas.

Di website JR West (perusahaan kereta api), disebutkan bahwa boleh membawa sepeda di kereta, namun harus masuk rinko. Untuk memastikan, saya bertanya langsung ke counter information di Kyoto Station dan menanyakan hal ini. Benar. Katanya boleh. Nanti sepeda itu bisa diletakkan di tempat bagasi di kereta.

Maka, pada hari “H”, sepeda saya masukan rinko. Bisa ditenteng dan ditaruh di punggung sebagaimana halnya tas selempang ukuran jumbo. Tentu saja lumayan berat, sekitar 15 kg.

Saya menuju Stasiun Kyoto menggunakan taksi (lumayan mahal dibanding menggunakan Subway). Sebenarnya, jika hanya sepeda yang dibawa, atau ada teman perjalanan yang bisa bantu bawakan barang lain, menggunakan Subway jauh lebih efisien. Sebagai perbandingan, tarif Subway dari tempat saya ke Stasiun Kyoto hanya 260 Yen. Sedangkan dengan taksi, tarifnya sampai 2.100 Yen. Keuntungannya, taksi mengambil saya di depan apato, jadi tidak perlu berjalan ke stasiun Subway yang cukup jauh.

Tiba di stasiun, saya naik kereta tanpa kesulitan. Hanya berjalan menuju peron saja yang harus terseok-seok: membawa tas ransel, 1 bagasi pakaian berukuran besar (kopornya beroda), membawa 1 box sedang berisi buku-buku (saya taruh di atas kopor), dan sepeda dalam tas yang diselempangkan di punggung.

Begitu kereta jalan, rasanya lega. Tahap pertama membawa kereta teratasi.

Tiba di bandara, kembali saya harus terseok-seok, tampak sangat rempong dengan barang sebegitu banyak. Tetapi begitu ketemu trolley, masalah selesai. Semua barang itu muat 1 trolley dan saya bisa ke lantai-lantai atas (tempat check-in internasional di Bandara Kansai) tanpa kesulitan. Lift memang didesain untuk penggunan berbarang banyak.

Sebelum ke tempat wrapping, saya langsung ke counter check-in dulu. Saya pikir, nantilah jika petugas check-in meminta di-wrapping baru saya lakukan.

Di counter check-in Garuda, petugas nampaknya familiar dengan barang bawaan saya. Si mbak Jepang yang cantik hanya memastikan: “is this bicycle, Sir?”. Setelah itu, ia memproses bagasi tanpa masalah.

Begitu semua barang masuk bagasi, lega rasanya.

Sore harinya, setelah tujuh jam penerbangan non stop ke Denpasar, sepeda itu telah ada di Denpasar. Beberapa saat lalu, sepeda itu juga baru saja masuk ke bagasi untuk ke Makassar.

Dan semuanya gratis!

Rekomendasi untuk Garuda

Jika boleh tambah saran, Garuda Indonesia sebaiknya menambahkan informasi di website-nya tentang ketentuan bagasi. Untuk sepeda, bisa dimasukkan ke dalam tas sepeda (Rinko Bukuru kalau di Jepang). Ini akan sangat membantu persiapan penumpang yang hendak bawa sepeda, terutama mengurangi kebingungan sebelum keberangkatan.(*)

Masa Lalu Tuhan

Kyoto adalah kota seluas Makassar, berpenduduk kira-kira sebanyak Makassar. Di Kyoto, terdapat sekitar 2.000 kuil, dengan beragam karakteristik. Di setiap kuil tersedia bermacam jimat dan jampi-jampi, juga ritual untuk mendekati Tuhan.

Rasanya agak paradoks. Mayoritas orang Jepang memgklaim diri tidak beragama, pun begitu di Kyoto. Akan tetapi, jiwa dan hati orang-orang disini selalu butuh tempat bersandar. Mungkin untuk sekedar memberi motivasi tambahan bagi hidup, atau mungkin karena mereka mengetahui ada kekuatan di atas kekuatan yang kasat mata.

Maka, orang-orang di Jepang percaya bahwa mendatangi kuil adalah “menyerahkan” kelemahan manusiawi pada kekuatan di atas kekuatan hidup itu. Kuil-kuil di sini adalah representasinya, dan tersegmentasi jelas.

Misalnya, jika ingin mendapat berkah agar dilapangkan rejeki dan kemakmuran, orang-orang akan berkunjung ke Fushimi Inari Shrine. Kuil shinto ini menjadi pusat kunjungan orang-orang dari berbagai penjuru Jepang pada saat tahun baru. Orang Jepang percaya bahwa kuil pertama yang mereka kunjungi pada awal tahun merupakan wujud harapan nasib mereka pada setahun mendatang. Itulah sebabnya, kunjungan ke kuil pada awal tahun (disebut Hatsumode) adalah ritual sangat penting bagi orang Jepang.

Sementara itu, bagi orang asing, kuil adalah daya tarik non religius. Mungkin karena arsitekturnya, mungkin karena sejarahnya, atau bisa jadi karena mitos-mitos yang meliputinya. Sebagian besar kuil-kuil di Kyoto telah berusia ratusan hingga ribuan tahun. Tentu saja, diusia sepanjang itu, tidak heran ada banyak kisah dibaliknya. Entah itu kisah tentang Tuhan, atau sekedar kisah tentang masa lalu… – at 伏見稲荷大社 (Fushimi-Inari-Taisha Shrine)

View on Path

Asal Mula Bulan Lampu-lampu a.k.a. Winter Illuminations di Jepang

Bulan Desember adalah saat datangnya musim dingin. Warga Jepang selalu mempunyai kebiasaan unik menyambut pergantian musim. Adakalanya, kebiasaan ini datang dari warisan leluhur. Namun tidak jarang kebiasaan-kebiasaan ini juga berasal dari adaptasi kehidupan modern yang masuk dan mempengaruhi masyarakat Jepang dalam waktu yang belum terlalu lama.

Salah satu tampilan lampu-lampu di Kota Osaka (Foto: Ishaq)

Salah satu tampilan lampu-lampu di Kota Osaka (Foto: Ishaq)

Salah satunya adalah illumination, atau pertunjukan lampu-lampu. Pada sepanjang bulan Desember (sebagian ada yang telah mengawalinya sejak Nopember) berbagai kota di Jepang dihiasi semarak lampu warna-warni. Biasanya, pengelola taman-taman, hotel-hotel dan mall-mall akan menghiasi halaman atau pohon-pohon dengan berbagai dekorasi lampu beraneka bentuk dan warna.

Pada beberapa tempat, pertunjukan lampu-lampu itu dilangsungkan dengan sangat spektakuler, melibatkan teknologi perlampuan yang cukup canggih.  Pertunjukan di Osaka Castle (disebut Osaka Castle 3D Mapping Super Illumination) ditampilkan dengan menjadikan bangunan Osaka Castle sebagai medium.  Berbagai efek cahaya dengan teknologi 3D ditampilkan, bahkan memberi efek seolah-olah bangunan Osaka Castle itu terbelah menjadi dua. Sungguh luar biasa.

Suasana penuh lampu-lampu ini sekarang telah menjadi semacam kebiasaan menyambut musim dingin.  Semakin tahun, kebiasaan ini makin meluas di berbagai kota Jepang. Di Kyoto sendiri, selain halaman-halaman hotel di sekitar down town, juga ada waktu khusus di pertengahan bulan Desember yang disiapkan untuk acara lampu-lampu ini.  Lokasinya di salah satu area taman hutan yang cukup terkenal di daerah Arashiyama.

Sejarah

Sejak kapan kebiasaan ini dimulai?  Sayangnya, saya tidak memiliki informasi mendetail (mungkin ini bisa menjadi tugas mereka yang mengkaji soal-soal sosial budaya atau sejarah ya…).  Tetapi informasi yang saya dapatkan menyebutkan bahwa festival illuminasi di Kobe pada tahun 1995 adalah festival iluminasi yang pertama kali diadakan di Jepang (tentu saja informasi saya ini bisa jadi keliru, jadi perlu diperiksa kembali).  Festival ini dinamakan Kobe Luminarie, dan memiliki kisah yang berasal dari bencana dahsyat. 

Kobe Luminaire Tahun 2011 (foto: Wikipedia)

Pada tanggal 17 Januari 1995, gempa bumi hebat meluluhlantakkan Kobe dan sekitarnya.  Gempa yang dikenal dengan nama Great Hanshin Earthquake ini menelan korban meninggal 6.434 jiwa. Sebanyak 4.600 diantaranya adalah penduduk Kobe.  Gempa ini juga membuat lebih 150.000 bangunan (sebagian besar di Kota Kobe) rata dengan tanah.

Kehancuran transportasi terjadi dengan ambruknya rel kereta api utama Hanshin Expressway.  Kehancuran jalur kereta dan subway ini menjadi berita yang menghiasi halaman depan berbagai media di dunia, sebab konstruksi rel kereta Jepang memiliki reputasi tahan terhadap gempa.  Selain itu semua, kerugian ekonomi akibat gempa ini diperkirakan mencapai US$ 102.5 milyar (atau sekitar 2.5% dari GDP Jepang ketika itu)!

Begitu dahsyatnya hentakan gempa bumi di Kobe sehingga pada masa-masa awal paska gempa, warga Jepang sempat dilanda kepedihan dan frustrasi mendalam.   Jepang adalah negara yang terbiasa dengan gempa sehingga negara ini sangat maju dalam hal teknologi early warning system dan teknologi bangunan konstruksi tahan gempa.  Selama bertahun-tahun, Jepang sangat bangga dengan keunggulan mereka dalam dua bidang ini.

Gempa Kobe bukan saja menghancurkan bangunan dan menelan korban jiwa.  Namun juga telah meluluhlantakkan kebanggaan tersebut.  Situasi pada fase-fase awal paska gempa sangat memprihatinkan.  Salah satu penyebabnya adalah Jepang tidak siap menghadapi kerusakan separah itu.  Pemerintahan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Moriichi Murayama mendapatkan kritikan tajam, akibat lambat memobilisasi relawan, dan juga pada tahap awal menolak bantuan yang ditawarkan oleh Amerika Serikat, Korea Selatan, Inggris, dan Mongolia.  Semua itu adalah perpaduan dari bentuk ketidaksiapan dan rasa malu karena kehilangan harga diri.

Kobe Luminaire Tahun 2013 (Foto: Wikipedia)

Selama berbulan-bulan, warga Kobe hidup dalam kegelapan.  Selain dalam makna kontekstual, juga secara tekstual, akibat diputusnya aliran listrik, gas, dan air dalam jangka waktu cukup lama karena kerusakan infrastruktur.  Pada bulan Desember 1995, munculah gagasan untuk menyelenggarakan festival Luminarie.  Kata ini berasal dari bahasa Inggris “luminary” yang berarti: (a) benda yang menghasilkan cahaya; (b) seseorang yang menjadi inspirasi bagi orang lain.

Kobe Luminarie adalah kegiatan simbolik “menyalakan lampu” untuk warga Kobe, menerangi hari-hari mereka yang penuh kegelapan, memberikan isyarat bahwa masa depan yang terang akan datang, dan yang terpenting: mengirimkan pesan bahwa mereka tidak sendiri.  Lampu-lampu yang dinyalakan itu berasal dari sumbangan pemerintah Italia dan instalasi lampu-lampunya dikerjakan oleh desainer Valerio Festi (pemilik Studio Festi, Italia) dan Hirokazu Imaoka (seniman Jepang).  Sebanyak 200.000 lampu yang dilukis tangan menghiasi festival ini.

Pada awalnya, Kobe Luminaire dipersiapkan untuk sekali pertunjukkan saja.  Akan tetapi, perhatian dan simpati yang begitu besar, serta permintaan dari warga Kobe sendiri yang begitu terinspirasi, mendorong pertunjukkan ini menjadi acara tahunan.  Paska gempa, pariwisata Kobe adalah sektor yang juga luluh lantak.  Namun, Kobe Luminarie telah menjadi atraksi wisata baru, yang mengundang pengunjung semakin banyak.  Setiap tahun , Kobe Luminarie dikunjungi oleh 3,5 juta wisatawan, dan menghasilkan donasi sekitar US$ 1.3 juta, dan mendatangkan keuntungan dari sponsorship dan penjualan merchandise mencapai US$ 6.1 juta.

Kini, acara menyalakan lampu telah menjadi sesuatu yang menyebar luas di Jepang.  Di mulai pada bulan Nopember, puncaknya pada bulan Desember.  Di beberapa tempat, ada yang berakhir pada bulan Januari, namun ada juga yang mempertahankannya sampai bulan Februari, hingga momentum valentine.  Mungkin banyak orang yang tidak mengetahui bahwa menyalakan lampu yang kini menjadi hiburan itu, pada awalnya adalah sesuatu yang mengandung makna simbolik begitu dalam.  Di Jepang, setiap hal yang menyentuh perasaan dan memiliki nilai manusiawi mendalam biasanya langgeng untuk waktu yang lama. (*)

Berikut beberapa tampak iluminasi di Jepang. Sumber foto: Niigata (www.japan-attractions.jp), Kyomizudera, Shiodome, dan Keyaizaka Street (www.japan-guide.com)

Illumination di Niigata

Kyomizudera in Kyoto

Shiodome, Tokyo

Keyakizaka Street in Roppongi Hills

Semua Berawal dari Inovasi, dan Keberanian

Apakah Anda pengguna laptop?  Sebagian besar professional, manager, aktivis, jurnalis hingga mahasiswa dan orang biasa kini akrab bahkan memiliki perangkat ini.  Laptop atau variasi-variasinya seperti notebook, atau netbook adalah perangkat yang memiliki fungsi nyaris sama seperti personal computer Desktop, tetapi berukuran jauh lebih kecil.  Kini bahkan kita dapat menjumpai variasi laptop dalam bentuk sangat kecil hingga seukuran saku.  Bahkan, jika kita cermati, perangkat-perangkat pendukung mobilitas berkomunikasi dan berkomputer seperti smartphone atau tablet PC sedikit banyak terinspirasi dari laptop.

Di pasaran kini tersedia begitu banyak pilihan laptop atau notebook, baik yang diproduksi oleh merk-merk terkenal maupun pemain-pemain baru.  Tetapi, tahukah kita asal muasal laptop itu diproduksi?

Selasa 26 Nopember 2013, saya berkesempatan jumpa dengan Atsutoshi Nishida, lelaki berusia 70 tahun yang masih sangat energik, tipikal orang-orang produktif Jepang yang tetap gesit bahkan hingga diusia tua.  Mungkin ia tidak terlalu dikenal dalam bidang non IT.  Tetapi dalam dunia industri elektronik, ia orang penting. Jabatannya saat ini adalah: Direktur Dewan Pimpinan Toshiba Corporation (pokoknya, di manajemen Toshiba Corporation, dia inilah orang dengan jabatan tertinggi).  Ia hadir di kampus kami memberi kuliah umum yang sangat ekslusif, hanya diikuti oleh sekitar 50-an partisipan.

Selama 1,5 jam, Nishida San membagi inspirasi tentang tantangan berkarir di era globalisasi, baik bagi individu-individu maupun bagi korporasi.  Kata kuncinya adalah inovasi.  Ya, kita mungkin sering mendengar bagaimana inovasi menjadi faktor utama keberlanjutan setiap gagasan di kancah global.

Namun, dari sekian banyak kisahnya, saya paling terkesan dengan fakta bahwa Atsutoshi Nishida adalah salah seorang tokoh dibalik peluncuran komputer laptop pertama di dunia.  Ia bercerita sekilas (benar-benar hanya sekilas, sebagai bumbu dari seluruh ceramahnya hari itu) tentang laptop produksi massal pertama di dunia, Toshiba tipe T1100.  Nishida San adalah staf Divisi Personal Computer Toshiba pada tahun 1985, itulah tahun dimana Laptop T1100 dilemparkan ke pasar.  Belakangan, pada 1995 Nishida San dipercaya menjabat General Manager Personal Computer Division.

Ketika Toshiba T1100 ditawarkan ke pasar, para kompetitor elektronik tertawa.  Sebagian besar menganggap langkah Toshiba adalah “tindakan bisnis masa depan yang dilakukan hari ini”.  Dari sisi kalkulasi pasar, sebuah komputer jinjing belumlah menjadi kebutuhan.  Namun, ketika itu Toshiba menganggap bahwa era komputer jinjing hanya persoalan waktu saja.  Ketika pintu itu terbuka, Toshiba ingin berada di pintu terdepan dan telah siap memasuki pasar itu.  Hal itu memberi peluang bagi untuk terus berinovasi, pada saat kompetitor baru mau beradaptasi.

Betul saja. Puluhan tahun setelah itu, ketika pasar laptop makin terbuka, Toshiba mencatatkan record sebagai “World’s First bla…bla…” untuk banyak inovasi komputer jinjing.  Setelah “World’s First Industry Standard Notebook PC” pada 1985 itu, berturut-turut Toshiba mengantongi:

“The World’s First Notebook PC with on Intel(c)286 Processors” untuk Toshiba T3100 pada 1986.

“The World’s First Notebook PC with on Internal Hard Disk Drive” untuk Toshiba T3100E pada 1988.

“The World’s First Notebook PC with on Active Matrix Screen” untuk Toshiba T4400 pada 1991.

“The World’s First Notebook PC with on Intel(c) Pentium Processor” untuk Tecra CS/CDT pada 1994.

“The World’s First Notebook PC with on Lithium-Ion Battery” untuk Tecra T6600C pada 1995.

“The World’s First Palm PC with Full Windows 95” untuk Toshiba Libretto 50 pada 1997.

“The World’s First Wireless Laptop” untuk Toshiba Portege 4000 pada 2001.

“The World’s First Notebook with a 17″ Widesreen Display” untuk Toshiba Satelite P25 Series pada 2003.

“The World’s First RoHS-Compliant Notebook PC” untuk Toshiba Tecra S3 pada 2005.

“The World’s Thinnest Widescreen 12,1″ Notebook PC with 7 mm Super-multi DVD Drive” untuk Toshiba Portege R500 pada 2007.

“The World’s First Notebook PC with Quad-core Cell-based Processor” untuk Toshiba Qosmio G50 pada 2008.

“The World’s First Ultraportable with a 512 GB SSD” pada tahun 2009.

“The World’s First Dal 7″ Touch Screens” untuk Libretto W100 pada 2010.

“The World’s First Notebook with Harman Kardon Speakers” untuk Toshiba NB 250 pada 2011.

Atsutoshi Nishida menekankan, salah satu isu kritikal dalam bidang inovasi adalah keberlanjutan.  Untuk itu, inovasi itu tidak cukup hanya pada level produk saja, tetapi yang paling penting adalah pada aspek value.  Itulah yang dilakukan Toshiba.  Korporasi ini berani melakukan inovasi nilai, mengubah cara pandang masyarakat dunia tentang tradisi berkomputer dan berinteraksi dengan menawarkan sesuatu yang baru.  Begitu nilai baru hasil inovasi ini diterima, Toshiba dapat leluasa melakukan inovasi produk yang orientasinya pastilah jangka pendek.

Laptop Toshiba T1100 yang diluncurkan pada 1985 itu berspesifikasi: RAM 256 KB (bandingkan dengan RAM masa kini yang bermain di angka juta-an KB), media penyimpan ketika itu hanya floppy drive 3.5″ berkapasitas 720 KB dan floppy drive 5.2″  berkapasitas 360 KB (bandingkan dengan media-media penyimpan sekarang yang bermain di angka 500 jutaan KB), dan tentu saja masih layar monochrom serta OS Disk Operating System versi 2.11 (pasti banyak penggila komputer sekarang ini yang tidak paham lagi OS apa ini).  Saya membayangkan jika dibandingkan dengan teknologi laptop sekarang ini, alangkah primitif-nya T1100 itu.  Tetapi, siapa sangka bahwa benda primitif itu hanya berusia tidak lebih 28 tahun lalu dari masa kini.

Begitu cepat teknologi elektronik dan komputasi berkembang, dan begitu massif inovasi yang terjadi hari ini.  Tentu saja, Toshiba bukanlah penemu pertama.  Namun, langkah besar Toshiba pada 1985 sedikit banyak mendorong terjadinya kompetisi.  Dan kompetisi inilah yang menjadi energi bagi terjadinya inovasi berkelanjutan.

Sungguh, hari ini adalah pengalaman baru yang luar biasa.  Kita mungkin bisa membaca kisah-kisah inspiratif dari tokoh-tokoh dengan pikiran besar seperti Atsutoshi Nishida.  Akan tetapi bertemu langsung, berbicara, dan mendengarkan langsung tuturan kisahnya meninggalkan kesan yang jauh lebih dalam lagi. (*)

Diwawancarai Sebagai Seorang Muslim Yang Tinggal di Jepang

Suasana Sholat Jum'at di Kyoto Muslim Association (foto: ishaq)

Suasana Sholat Jum’at di Kyoto Muslim Association (foto: ishaq)

Islam adalah agama dengan jumlah pemeluk sangat sedikit di Jepang.  Tetapi tentu saja saya tidak bisa menyebut bahwa Islam adalah agama minoritas.  Sebab secara sosiologi politik, minoritas itu adalah konsep tentang relasi kuasa, dan bukan sekedar angka statistik.

Artinya, jumlah yang kecil tidak berarti minoritas.  Begitu jumlah yang besar tidak serta-merta berarti mayoritas.  Konteks minoritas-minoritas adalah hubungan mempengaruhi berdasarkan mainstream idea tertentu.  Di Jepang, pengaruh aspek-aspek di luar jangkauan rasio (beyond rationality) masih cukup penting.  Menariknya, masyarakat Jepang masih dapat bertindak rasional dalam hidup bermasyarakat yang terus berubah.

Akhir-akhir ini, saya merasakan bahwa perhatian warga Jepang terhadap Islam mengalami kemajuan.  Awalnya adalah pada bulan Ramadhan tahun 2012 lalu.  Ada beberapa kabar yang menunjukkan makin pesatnya perhatian warga Jepang terhadap Islam.

Setiap Ramadhan, warga Muslim Kyoto mengadakan Ifthar Party, semacam acara buka puasa bersama.  Masing-masing Muslim dari setiap negara akan menggelar makanan khasnya masing-masing untuk dinikmati bersama.  Pada momen ini juga diundang warga Jepang non muslim yang berminat untuk mengenal lebih jauh Islam dan kehidupan warga muslim.

Pada Ifthar Party tahun 2012 lalu, untuk pertama kalinya Walikota Kyoto turut hadir.  Selain memberikan sambutan singkat, beliau juga menyempatkan diri untuk berkeliling mencicipi makanan dari berbagai negara.

Saat itu, saya juga mendengar kabar bahwa di Tokyo, Perdana Menteri Jepang juga untuk pertama kalinya mengundang para duta besar negara-negara Muslim pada suatu jamuan buka puasa bersama dan makan malam.

Sekitar tiga minggu lalu, sekelompok mahasiswa Doshisha Women College of Liberal Art (DWCLA) meminta saya menjadi nara sumber untuk kegiatan penulisan artikel mereka di koran berbahasa Jepang.  Mereka meminta saya membagikan berbagai kesan saya sebagai seorang Muslim yang hidup di Jepang.  Sepanjang proses wawancara yang berlangsung beberapa kali itu, saya merasakan kesempatan tidak saja membagikan pemahaman dasar tentang Islam tetapi juga belajar kembali tentang hal-hal mendasar tentang Islam.  Sebab, kebanyakan pertanyaan mereka berkaitan dengan hal-hal dasar yang kadang-kadang tidak pernah ditanyakan oleh seorang Muslim.

Dan ternyata menjadi seorang Muslim yang rasional adalah hal yang sudah hampir saya lupakan.  Hal itu saya sadari setelah banyak memperoleh pertanyaan “mengapa” dari Yui Tani, Tomoko Yoshikawa, dan kawan-kawannya.  Misalnya, mereka bertanya: “mengapa kalau shalat harus ruku dan sujud?”.  Ketika saya menjawab bahwa itulah ajaran Islam, mereka kembali bertanya: “mengapa Anda menerima ajaran seperti itu?”.  Wow…

Dan, dengan sedikit mengeles karena pemahaman rasional yang terbatas, saya hanya selalu memposisikan diri pada pemilahan antara ibadah dan muamallah. Bahwa kalau untuk ibadah, kita membutuhkan waktu panjang untuk mendiskusikannya, dan butuh waktu panjang untuk memahaminya.  Jadi, lebih baik kita berbicara pada tataran muamallah saja.

Nampaknya mereka cukup paham hal itu.  Apalagi, artikel yang akan mereka tulis sebenarnya lebih berfokus pada bagaimana kesan seorang Muslim yang hidup di Jepang, di tengah perbedaan nilai dan budaya.

Kesan saya sendiri terhadap wawancara ini adalah adanya minat yang makin tinggi dari warga Jepang terhadap Islam.  Mungkin saja minat ini berkaitan dengan pertimbangan ekonomi (ya, sekitar 1,6 milyar pemeluk Islam di seluruh dunia merupakan pasar yang sangat signifikan).  Akan tetapi, juga mungkin saja minat ini berkaitan dengan motif-motif pencarian spiritual dari individu-individu di Jepang.

Proses wawancara kemudian berlangsung intensif.  Mahasiswi-mahasiswi DWCLA ini kemudian sering mengirim email atau menaruh pesan inbox di facebook saya, berisi pertanyaan-pertanyaan individual. Misalnya: “sebagai seorang Muslim apa kendala yang paling sering dihadapi selama hidup di Jepang”.  Atau “jika ingin mengusulkan sesuatu, apa yang Anda usulkan bagi pemerintah atau warga Jepang”, dan sejenisnya.

Berkali-kali saya mengatakan bahwa meskipun saya adalah Muslim yang berasal dari negara dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia, harap agar pandangan ini dianggap sebagai pandangan pribadi.  Hal berbeda mungkin saja diberikan oleh Muslim lain, meskipun juga ia berasal dari negara yang sama.

Saya menunggu bagaimana respon warga Jepang jika saja wawancara tersebut betul-betul termuat di media massa. (*)