Diplomasi Publik Israel: Dapatkah Membohongi Realitas?

Delegasi Israel (paling kiri dan paling kanan). Yang kacamata ini adalah Sekretaris Kabinet di Kantor Perdana Menteri.

Hari ini, kampus kami kedatangan delegasi dari Palestina dan Israel dalam rangka “Young Leader session”, suatu program yang dilaksanakan oleh Kementerian Luar Negeri Jepang sejak 1997.  Program ini, formalnya, bertujuan untuk meningkatkan saling pengertian dan memicu kepercayaan baru dalam mengatasi berbagai konflik dan perbedaan.

Ada 5 orang hadir pada session terbatas yang diadakan selama sekitar 2 jam. Dua orang dari Israel (salah seorang adalah The Cabinet Secretary, begitu tertulis di kartu namanya), dan tiga orang lainnya dari Palestina. Mereka tidak berasal dari wakil pemerintah.  Bahkan, yang seorang (satu-satunya wanita dan tidak berjilbab) adalah orang Palestina yang sedang belajar Ilmu Politik di Oxford, Inggris.

Seperti biasa, diskusi tentang Israel-Palestina cukup menarik.  Mereka berbicara dengan perspektif yang sangat berbeda, dan sesekali terjadi debat antara mereka.  Wakil Palestina itu begitu mengkritik dominasi dan kecenderungan Israel menjalankan peran sebagai polisi kawasan, kepemilikan nuklir, keengganan meratifikasi Nuclear Proliferation Treaty (NPT), dan berbagai isu lain. Sementara delegasi Israel begitu bangga dengan label sebagai negara paling demokratis di Timur Tengah.

Untuk isu Syiria, misalnya, wakil-wakil Palestina menganggap itu masalah internal dan seharusnya diselesaikan internal, sementara wakil Israel bersikukuh bahwa harus ada intervensi internasional untuk menyelesaikan masalah itu. Mereka juga berbicara tentang isu “rejim tidak demokratis yang bersenjata” adalah sangat berbahaya.

Ketika sessi tanya jawab, saya menyempatkan diri berargumen, meskipun tidak cukup paham masalah ini. Saya katakan: “Bagi kebanyakan orang awam di Indonesia yang mayoritas muslim, akar masalah di Timur Tengah adalah Israel.  Saya juga adalah salah satunya.  Kebijakan Israel peace for land dan land for peace adalah kebijakan yang telah memicu agressifitas negara. Apakah Anda mengetahui hal ini?  Dan apakah Anda tahu bagaimana dengan di negara-negara muslim lainnya? Dan bagaimana respon Anda?”

Mereka berdua nampak tercengang, mungkin tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. Namun dengan (anggapan saya) lips service mereka berusaha menjawab dengan berapi-api, membantah anggapan demikian.  Tetapi, tidak disangka-sangka, jawaban mereka justru dibantah langsung oleh wakil dari Palestina. Ia nampaknya senang mengetahui bahwa ada orang yang sepaham dengan mereka, dan memanfaatkan waktu untuk berbicara tentang realitas aneksasi, pengambilalihan wilayah, kekerasan, pembunuhan di wilayah konflik.

Ketika diskusi selesai, kedua delegasi Israel itu datang dan berkata: “berkunjunglah ke Israel untuk mengetahui realitas yang sebenarnya, agar Anda tidak hanya mengetahui realitas dari media dan opini yang mungkin saja bias”. Maka, kita tukaran kartu nama dan foto-foto…

Beberapa jam setelahnya, saya bertemu dengan seorang rekan Palestina, mahasiswa Ph.D juga, tetapi ia tadi tidak hadir. Saya bertanya, mengapa tadi tidak hadir. Ia berkata, itu forum propaganda Israel. Mereka ingin menampilkan wajah lainnya yang palsu kepada dunia.  Saya tidak ingin terlibat perdebatan di forum, karena saya menghargai kampus kita yang mengundang mereka.

Lalu, kawan ini, Iyaas Salim, bercerita lebih banyak lagi tentang wajah Israel di Palestine. Ia bukan berbicara dari buku atau media, tetapi dari pengalamannya sebagai orang Palestina. Saya berpikir, jika benar Israel sedang menjalankan diplomasi publik, dapatkah negara itu membohongi realitas? Bukankah, dalam diplomasi publik modern, ada ungkapan: “if you want to change the image, then change the reality”? (*)

Bekerja di Perusahaan Jepang, Diharapkan Seumur Hidup

Perusahaan-perusahaan Jepang menganggap tenaga kerjanya (human resource) sebagai asset paling penting perusahaan. Itu bukan hanya slogan, tetapi dibuktikan dalam praktek sehari-hari.

Kemarin saya berbincang-bicang dengan seorang teman di kampus, namanya Kazuto Nakamura. Dia mahasiswa master tahun kedua (istilahnya M2) di Graduate School of Global Studies, Doshisha University, yang meneliti tentang Azerbaijan. Saya bertanya, apa rencananya setelah selesai kuliah. Dengan santai ia menjawab, bekerja.

Lalu, ia bercerita bahwa ia telah melewati proses seleksi pada suatu perusahaan kimia (perusahaan itu baru saja membuka perwakilan di Kalimantan, katanya).  Setelah selesai ujian thesis pada Maret tahun depan, ia akan mulai bekerja pada April.  Artinya, masa tunggunya setelah kuliah tidak sampai sebulan.

Saya bertanya, apakah kamu bisa bekerja secepat itu karena kamu bergelar Master? Dia bilang, perusahaan Jepang lebih senang merekrut pegawai dengan tingkat pendidikan sekolah menengah, sekolah kejuruan, atau sarjana. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin terbatas pilihan kerja baginya. Umumnya, kalau seseorang memutuskan untuk melanjutkan ke pendidikan doktoral berarti dia memilih karir untuk menjadi peneliti (di perguruan tinggi atau lembaga riset swasta) atau menjadi dosen.

Lelaki berbaju biru ini sangat humble, penampilan sederhana, tidak berbeda dengan pegawai lainnya. Tetapi, di perusahaan ini, dia adalah CEO tertinggi.

Saya jadi ingat special lecture sekitar bulan Mei 2012. Juga pada suatu kunjungan ke beberapa perusahaan Jepang di bulan yang sama. Apa yang dikatakan Nakamura San, persis seperti apa yang diungkapkan oleh Agola Sensei yang memberi lecture ketika itu. Dan persis juga dengan apa yang saya lihat di Kyowa Enterprise, perusahaan pemasok spare part untuk Mitsubishi, Kawasaki, dan Yamaha, yang saya kunjungi bersama beberapa rekan.

Perusahaan Jepang memandang pegawai dan pekerjanya sebagai asset, dalam arti sesungguhnya. Saat wawancara kerja, aspek pengetahuan dan skill adalah penilaian nomor kesekian. Prioritas selalu diberikan pada aspek-aspek psikologis, seperti integritas, loyalitas, komitmen, kerjasama, dan lain-lain.  Apapun latar belakang seorang pekerja baru, ia akan melewati serangkaian proses pelatihan dan peningkatan skill sebelum diberi tanggung jawab menangani suatu pekerjaan.

Perusahaan-perusahaan mempersiapkan pekerjanya untuk tinggal lama, bahkan jika mungkin seumur hidup. Itulah sebabnya, proses seleksi dilakukan ketat. Dalam hal pekerjaan, perusahaan betul-betul memperhatikan kebutuhan dan kepentingan karyawan, memastikan ia tidak bosan dan bersedia tinggal lama. Bagaimanapun, biaya besar untuk melatih dan mempersiapkan karyawan menjadi tenaga skillful adalah asset yang harus dijaga.

Dengan sistem seperti ini, maka tentu perusahaan lebih menyukai tenaga kerja yang, ibarat bangunan, “memiliki fondasi kuat, tetapi belum ada bangunan apa-apa”. Karena fondasinya kuat (analogi untuk karekter mental dan personality), maka ada peluang membuat bangunan kokoh dan tinggi (analogi untuk: skill dan keahlian handal). Ini menjelaskan mengapa para sarjana jauh lebih disukai dibandingkan para master apalagi doktor.

Sistem promosi di kebanyakan perusahaan menggunakan metode senioritas.  Asumsinya, seseorang yang sudah lama berada disuatu perusahaan berarti sudah menguasai sejumlah pekerjaan. Ia sudah tahu kelebihan dan kekurangan dari jenis-jenis pekerjaan, apa yang harus ditingkatkan, dan bagaimana gagasan untuk memperbaikinya.

Sehingga, jarang sekali ada anak-anak muda bergelar Ph.D bidang manajemen dari perguruan tinggi ternama yang ujuk-ujuk direkrut menjadi manajer di suatu perusahaan Jepang.  Seorang manajer adalah seseorang yang “tahu bekerja”, bukan yang “tahu bagaimana bekerja”. Mungkin, itulah sebabnya semakin tinggi jabatan seseorang, semakin lama dia menghabiskan waktu di kantor untuk memastikan semua pekerjaan selesai.

Saya kemudian menduga-duga, jangan-jangan inilah salah satu kunci kekuatan sistem manajemen bisnis Jepang. Sejak Perang Dunia II berakhir, dunia sudah beberapa kali melewati krisis ekonomi serius. Kebanyakan perusahaan-perusahaan Jepang berhasil melewati masa-masa krisis, pada saat kebanyakan perusahaan di Amerika dan Eropa megap-megap untuk waktu lama sampai kemudian diselamatkan atau dibiarkan mati.

Agola Sensei bercerita dalam kuliahnya (sayangnya, belum bisa saya konfirmasi dengan data aktual) tentang salah satu perusahaan besar di Jepang yang sangat terkenal.  Sekali waktu, perusahaan mengalami krisis serius akibat ekonomi lesu dan penjualan menurun drastis.  CEO perusahaan menemui Presiden Komisaris yang sedang sakit. Sang CEO menyampaikan kondisi aktual perusahaan, sekaligus usulan mengatasi keadaan: “memberhentikan ratusan karyawan, untuk mengurangi beban perusahaan terhadap gaji dan tunjangan”.

Sang Presiden Komisaris marah.  Ia berkata: “bagaimana kita bisa memproduksi barang-barang berkualitas jika pegawai-pegawai yang sudah begitu ahli kita lepaskan?”, katanya.  Lalu, sang Presiden Komisaris berkata kepada CEO, “kembalilah kepada pegawai, kumpulkan mereka, bicarakan kondisi perusahaan, dan dengarkan apa saran mereka. Perusahaan ini adalah rumah dan keluarga bagi mereka. Mereka tahu apa yang terbaik”.

Dengan perasaan malu, sang CEO melakukan saran itu. Tanpa banyak proses, seluruh pegawai secara suka rela sepakat agar gaji mereka dipotong dan jam kerja mereka ditambah hingga perusahaan kembali normal. Di tengah badai krisis ekonomi, perusahaan itu tetap bertahan.

Saya jadi ingat, bagaimana cara perusahaan-perusahaan Amerika mengatasi krisis.  Pada 2009, perusahaan asuransi terkenal AIG terancam bangkrut akibat krisis ekonomi.  Manajemen AIG “merengek-rengek” kepada pemerintah, meminta dana talangan demi menyelamatkan perusahaan yang menyangkut hajat hidup orang banyak itu.

Betul, pemerintah AS menyuntik US$ 170 Juta untuk menyelamatkan perusahaan itu.  Ironisnya, tidak sampai sebulan setelah itu, para eksekutif AIG membagi-bagi bonus senilai total US$ 165 Juta, sebagai bagian dari upaya memotivasi kinerja!

Bagi saya yang awam, kisah ini cukup memberi penjelasan bagaimana kapitalisme di Amerika dan Jepang bekerja: “kapitalisme berbasis profit” vs “kapitalisme berbasis manusia”. Itu istilah saya… (*)

Taliban, Melihat Sisi Lain dari Petingginya

Tanggal 27 Juni 2012, Graduate School of Global Studies, Doshisha University menggelar perhelatan besar: International Conference on Afghanistan Reconciliation and Peace Building. Untuk pertama kalinya, petinggi  Taliban hadir dalam pertemuan non negosiasi  di luar negeri.

Wakil dari Taliban yang hadir dalam pertemuan ini adalah Shaikh Iadena Mohammad.  Beliau adalah anggota Political Council of Islamic Emirate of Afghanistan.  Ini adalah nama yang digunakan sekarang setelah mereka digusur paksa oleh pasukan Amerika pada tahun 2001.  Shaikh Iadena adalah seorang pria berwajah teduh, dengan sorban putih dan janggut panjang.

Saya beruntung memperoleh kesempatan untuk bertemu langsung dan berbincang (dengan bantuan seorang penerjemah).  Sebagaimana dalam presentasinya, beliau kembali menegaskan komitmen Taliban terhadap pasukan Amerika di Afghanistan.  Taliban siap membangun perdamaian abadi, hanya dan jika hanya diawali dengan penarikan mundur pasukan Amerika dari Afghanistan.

Menurut Shaikh Omar, Taliban sebenarnya membangun komunikasi dan negosiasi rahasia dengan Amerika pada beberapa pertemuan di Qatar. Namun, pada bulan Maret 2012, Taliban menarik diri dari proses negosiasi, karena Amerika menolak menerima syarat yang diajukan Taliban, yaitu pembebasan tawanan politik di penjara-penjara yang dikendalikan pasukan Amerika.

“Bagi kami, Amerika adalah penjajah.  Mereka menyerbu negara kami dengan cara tidak manusiawi.  Semua pihak mengkonfirmasi 120 ribu rakyat sipil Afghanistan menjadi korban kekejaman pasukan Amerika. Dan kami tidak bisa mentoleransi hal itu”, kata Shaikh Iadena.

Konferensi ini juga dihadari oleh Advisor to the President on Internal Security of Islamic Republic of Aghanistan, Dr. Masoom Stanekzai. Beliau diutus khusus oleh Presiden Hamid Karzai untuk menghadiri pertemuan ini.

Selama pertemuan, nampak jelas perbedaan visi pemerintah dan Taliban tentang kehadiran pasukan Amerika.  Meskipun ada timeline yang telah dirancang untuk penarikan mundur pasukan Amerika pada 2014, namun kelompok Taliban tidak percaya sepenuhnya.  “Amerika adalah super power, semua mengakui hal itu. Kami juga mengakui hal itu. Kami membutuhkan bantuan Amerika dan komunitas internasional untuk masa depan Afghanistan yang lebih baik. Tetapi, kami tidak akan berkompromi dengan hadirnya pasukan Amerika di tanah Afghanistan”, tegas Shaikh Iadena.

Ketika Dr. Masoom Stanekzai menegaskan bahwa Amerika memiliki pangkalan militer di lebih 100 titik di seluruh dunia. Ada pasukan Amerika di Arab Saudi, di Qatar, bahkan di Jepang, tetapi negara-negara itu tidak mempersoalkan hal tersebut.  Sehingga, ia merasa tidak logis jika Taliban mempersoalkan kehadiran pasukan Amerika di Afhanistan.

Dengan sangat diplomatis, seorang tokoh Mujahiddin dari faksi Hezb-i Islami yang turut hadir sebagai nara sumber, Dr. Ghairat Baheer, mengungkapkan “Ya, tetapi di negara-negara tersebut, pasukan Amerika tidak membunuh ratusan ribu rakyat sipil”.  Hezb-i Islami maupun Taliban memiliki visi yang sama tentang penarikan pasukan Amerika dari Afghanistan.

Asahi Shimbun, salah satu koran terkemuka di Jepang yang mengadakan wawancara khusus dengan Shaikh Iadena disela-sela rehat pertemuan ini, menuliskan dalam laporannya (di link ini) bahwa kehadiran tokoh penting Taliban dalam forum internasional seperti ini adalah hal yang baru pertama kali terjadi.  Ini menunjukkan gejala perubahan orientasi gerakan Taliban, yang mulai membangun kampanye global.

Di akhir pertemuan, saya berkesempatan untuk berfoto bersama Shaikh Iadena Mohammad.  Sesaat sebelum foto, pengawal beliau mendatangi saya dan berbisik: “Mohon foto ini jangan disebarluaskan.  Beliau hingga kini masih tercatat sebagai salah satu tokoh yang paling dicari oleh Amerika Serikat”. Saya memastikan bahwa ini hanya untuk koleksi pribadi. Dalam hati, saya berkata “wow…!”***

Wisata Kampus, Hanya Ada di Doshisha, Kyoto…

Seorang student volunteer (memegang bendera Doshisha) sedang memberi penjelasan kepada peserta tour kampus. (Photo: Ishaq)

Doshisha University adalah universitas swasta papan atas di Jepang.  Berbeda dengan universitas lainnya, kampus ini memiliki sejarah panjang.  Berdiri pada tahun 1875 oleh Joseph Hardy Neeshima yang baru kembali dari Amerika membawa gagasan baru tentang kebebasan berpikir.  Saat ini jaringan pendidikan Doshisha meliputi jenjang taman kanak-kanak hingga program doktoral.

Ada beberapa kampus Doshisha.  Kampus yang terletak di Kyotanabe, Nara (sekitar 40 menit dengan kereta dari Kyoto City) mencakup wilayah sangat luas, sampai-sampai areal itu disebut Doshisha City.  Sementara kampus di Kyoto City terletak di perempatan Jalan Imadegawa dan Jalan Karasuma.  Di kampus ini (dimana Global School of Graduate Studies tempat saya belajar berlokasi), penuh bangunan bersejarah peninggalan abad ke-19 yang tetap dipergunakan, namun tidak sedikitpun meninggalkan arsitek lama.

Papan pengumuman dipajang pada lokasi yang tidak mengganggu gedung Kampus. (Photo: Ishaq)

Kampus Doshisha di Imadegawa ini juga dikelilingi oleh beberapa kuil.  Hanya beberapa puluh meter di sebelah utara terletak Kyoto Imperial Palace, kawasan Istana Kekaisaran saat Kyoto masih menjadi ibu kota Jepang.  Di sebelah utara, terdapat Sokoku-ji Temple, salah satu kuil Budha yang berdiri sejak tahun 1382.  Kawasan yang sangat asri, teduh, dan menyenangkan. (Dari jendela ruangan saya di lantai 2, kita bisa menyaksikan kuil ini dan pemandangan indah disekitarnya).

Arsitektur peninggalan Abad ke-19 yang tersebar di lingkungan Kampus Doshisha di Imadegawa. (Photo: Ishaq)

Meskipun bangunan-bangunan adalah peninggalan abad ke-19, namun Doshisha adalah kampus yang sama modernnya dengan kampus-kampus Jepang dan kampus-kampus di negara maju.  Misalnya, akses masuk ke gedung-gedung utama menggunakan kunci elektronik berkode (setiap mahasiswa memiliki nomor kode khusus yang harus diinput pada panel di dinding). Jadi, saat di luar jam kantor, setiap orang yang masuk dan keluar tercatat secara eektronik.

Setiap hari, biasanya yang ramai pada akhir pekan, banyak rombongan wisatawan datang berkunjung.  Mereka dipandu oleh student volunteer yang dikoordinasikan oleh International Office, memberi penjelasan tentang berbagai hal, terutama sejarah dan arsitektur bangunan.  Tentu saja, ada banyak hal yang membuat rombongan ini datang.  Tapi nampaknya, promosi Doshisha-lah yang paling berperan.  Internasional Office rajin sekali menyebarkan informasi tentang hal ini ke berbagai institusi, baik di dalam negeri Jepang maupun di luar negeri.

Mahasiswa program Master, Kanat Abdurrahmanov dari Kyrgiztan. (Photo: Ishaq)

Di Indonesia, mungkin kita tidak menemukan hal seperti ini.  Soalnya, bangunan kampus dari jaman Belanda umumnya dirombak atau diabaikan.  Misalnya, di Jakarta kita mengenal STOVIA adalah sekolah kedokteran yang menjadi cikal-bakal Universitas Indonesia, dan menjadi bagian penting dari kelahiran Budi Utomo pada 1908.  Tetapi, dimana sekarang Gedung Stovia itu?  Hanya sedikit orang yang tahu bangunan tua yang (nyaris) terabaikan di sekitar Senen tersebut.

Sementara kampus Universitas Indonesia di Salemba saat ini begitu sesak dan semrawut.  Padahal, gedung Fakultas Kedokteran di kampus itu adalah peninggalan Belanda yang tentu saja mempunyai makna sejarah.

Di Makassar, kita sudah hampir pasti akan kehilangan Kampus Baraya di Kandea, tempat pertama kalinya Universitas Hasanuddin berdiri.  Setelah kampus Tamalanrea dibangun, kampus Baraya tinggal menunggu penawar tertinggi yang kemungkinan akan menghancurkan bangunan itu dan menjadikannya pusat belanja atau kawasan perumahan. Ini sebenarnya aneh.  Dengan luasnya tanah di Makassar, kenapa orang tidak berpikir menjaga sejarah? (*)

Perjalanan Panjang Menuju Kyoto (2): Doshisha University

Rencana untuk kuliah di Jepang telah ada di benak saya sejak 2005.  Ketika itu, saya menjadi program officer dari suatu proyek kerjasama Unhas dengan The World Bank Institute.  Salah seorang expert dari WBI yang bertugas adalah Eiji Oyamada, Ph.D, yang berasal dari Doshisha University.  Ia nampaknya tertarik dengan pekerjaan saya, dan berkata kepada Wakil Rektor IV Unhas, Dr. Dwia Aries Tina, akan membajak saya ke Kyoto.

Waktu itu saya memang sedang mencari peluang untuk melanjutkan S2.  Saya berpikir bahwa peluang untuk belajar di Kyoto terbuka lebar dengan ketertarikan Sensei Oyamada.  Akan tetapi, Sensei Oyamada ternyata masih berstatus BKO (istilah ini lazim di militer..hehe) di Universitas Paramadina.  Beliau sedang dikontrak oleh universitas warisan Almarhum Nurcholis Madjid itu sebagai Direktur Kerjasama Internasional.

Karena pertimbangan waktu dan usia, saya memutuskan untuk “menunda” rencana kuliah di Kyoto dan mengambil program magister hubungan internasional di Universitas Indonesia, sejak 2008-2010.  Saya masih terus berkomunikasi dengan Sensei Oyamada dan membina hubungan dengan beliau.

Atas rekomendasi beliau, saya berkesempatan mengikuti Summer Course on Managing Integrity di Central European University, di Budapest, Hungaria, pada musim panas 2009.  Di sinilah saya mengerti apa arti “trust” dalam budaya Jepang.  Sekali kita memperoleh kepercayaan mereka, maka selamanya mereka akan mendukung kita.

Selesai kuliah di Universitas Indonesia saya berniat kembali ke Makassar.  Namun komunikasi dengan Sensei Oyamada terus berlanjut.  Awal 2010, Sensei Oyamada kembali ke Doshisha.  Beliau mengatakan bahwa akan mencarikan beasiswa agar saya dapat menempuh pendidikan paska sarjana untuk memperoleh Ph.D di Doshisha University, Kyoto.

Saya mulai mencari-cari informasi tentang kampus ini.  Soalnya, tidak banyak yang mengetahui kisah tentang Doshisha University.  Di Indonesia, orang-orang lebih mengenal Ritsumeikan University, Kyoto University, Tokyo University, dan lain-lain, dibanding Doshisha University.

Belakangan saya tahu, Doshisha University adalah perguruan tinggi “papan tengah” di Jepang menurut versi berbagai lembaga peringkat universitas.  Pada tahun 2009, menurut webomatrics, Doshisha berada di peringkat 50-an di Jepang.  Menurut peringkat THIES University Rank, Doshisha berada di posisi 40-an.

Tetapi Doshisha University adalah universitas dengan tradisi liberalisme dan internasionalisme yang kuat.  Sejarah universitas ini dimulai sejak tahun 1875, pada saat Joseph Hardy Nesheema mendirikan Doshisha masih sebatas lembaga pendidikan bahasa Inggris.  Pada masa itu, Jepang masih sangat kental dengan tradisi yang diwariskan turun-temurun.  Doshisha hadir sebagai bentuk perubahan besar dalam model belajar.

Tradisi panjang terhadap visi liberalisme dan internasionalisme inilah yang membuat Doshisha University dijadikan sebagai salah satu dari 13 universitas di Jepang yang masuk dalam program Global 30 yang diinisiasi pada tahun 2009.  Program ini merupakan proyek Kementerian Pendidikan Jepang yang menetapkan universitas inti untuk internasionalisasi (core universities for internationalization), dengan tujuan merekrut sebanyak mungkin mahasiswa-mahasiswa internasional untuk belajar di Jepang dan sebaliknya.

Kementerian Pendidikan Jepang merencanakan akan merekrut sekitar 300.000 mahasiswa asing untuk belajar di Jepang hingga 2020.  Ke-13 universitas yang ditetapkan sebagai universitas inti untuk tujuan tersebut adalah: Tohoku University, University of Tsukuba, The University of Tokyo, Nagoya University, Kyoto University, Osaka University, Kyushu University, Keio University, Sophia University, Meiji University, Waseda University, Doshisha University, and Ritsumeikan University.

Hal ini menunjukkan bahwa kampus yang saya pilih untuk memperoleh Ph.D adalah universitas yang diperhitungkan di Jepang.  Tentu saja proses seleksi itu dilakukan dengan mekanisme ala Jepang yang ketat.  Maka, tentu tidak salah jika saya boleh berbangga bisa melanjutkan studi di kampus ini.

Untuk memperoleh informasi tentang Doshisha, website kampus di alamat www.doshisha.ac.jp dapat diakses.