Jakarta Sudah Habis Sejak 1992

Tahun 1992, Iwan Fals yang konon mulai “melunak” meluncurkan album berjudul Hijau. Pada album itu, terdapat single berjudul “Lagu Dua”.

Iwan Fals mengkritik habis Jakarta. Syair pembukanya adalah: “Jakarta sudah habis….”

Keseluruhan lagu ini mencerca Jakarta, dengan gaya khas Iwan Fals. Coba simak syair-syair berikut:

Jakarta sudah habis
Musim kemarau api
Musim penghujan banjir

Jakarta tidak bersahabat
Api dan airnya bencana
Entah karena kebodohan kecerobohan
Atau keserakahan

Jakarta sudah habis
Diatasnya berdiri bangunan bangunan industri
Disekitar bangunan bangunan itu
Bangunin bangunin memproduksi belatung

Jakarta sudah habis
Warna tanahnya merah kecoklat coklatan
Mirip dengan darah
Mirip dengan api
Mirip dengan air mata

Tanah Jakarta sedang gelisah
Jangan lagi dibuat marah
Tanah Jakarta sedang gelisah
Jangan lagi dibuat marah

Jakarta sudah habis
Dijalan jalan marah ( Dijalan )
Dijalan marah marah
Dirumah rumah marah ( Dirumah )
Dirumah marah marah
Apa enaknya ?

Jakarta sudah habis
Empat puluh persen rakyatnya
Beli air dari PAM
Sisanya gali sendiri

Persoalannya gali pakai apa ?
Tentu saja gali pakai duit
Duitnya terbuat dari air mata asli

Jakarta sudah habis

Sebentar lagi kita akan menjual
Air mata kita sendiri
Karena air mata kita
Adalah air kehidupan

Jakarta sudah habis
Tetapi Indonesia bukan hanya Jakarta

Membaca syair lagu itu, rasanya telat bagi segala diskusi dan perdebatan ditengah suasana banjir hari-hari ini. Situasi Jakarta sekarang adalah situasi yang sudah ada sejak 28-30 tahun lalu.

Iwan Fals menyuarakannya melalui lagu. Namun ada banyak pakar yang telah menuangkan kekhawatiran itu melalui artikel ilmiah, atau para teknokrat yang menuliskannya dalam paper kajian kebijakan publik.

Jakarta sudah habis. Jakarta sedang gelisah. Tanah Jakarta tidak bersahabat. Itu telah ada sejak 30 tahun lalu.

Dan hari ini, kita masih berdebat soal Anis dan Ahok.

Padahal, seperti kata Iwan Fals, “Indonesia bukan hanya Jakarta”.(*)

Siapa Lawan Potensial Yang Bisa Kalahkan Ahok?

Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P) malam ini (20/09) memberi kejutan.  Setelah beberapa hari publik bertanya-tanya, PDI-P (tepatnya Megawati) akhirnya mengumumkan kandidat usungan untuk Pilgub DKI Jakarta.  Sang incumbent lengkap, Ahok dan Djarot, ditetapkan sebagai figur andalan PDI-P.

Yang paling kecewa adalah pendukung Tri Rismaharini, Walikota Surabaya.  Meskipun Risma berkali-kali menyatakan tidak akan meninggalkan Surabaya, belakangan ia berkata “tergantung kehendak Tuhan”.  Ini bukan saja sinyal, tetapi pernyataan diam-diam ingin diusung ke DKI.  Beberapa survei juga menampilkan angka keunggulan Risma. Entah surveinya benar atau survei yang didesain untuk mengunggulkan Risma.

Tadi siang, saya melihat tayangan di Kompas TV. Liputan tentang Risma yang sedang marah-marah dengan wajah tegang. Ia memarahi anak buahnya yang tidak becus.  Meskipun awam, saya yakin tayangan itu di-setting.  Dari teknik pengambilan gambar, perpindahan fokus dan timing zoom-in, saya yakin sekali adegan marah-marah itu adalah “drama untuk keperluan televisi”.

Jelas sekali Risma sedang “berkomunikasi” dengan para pengambil keputusan di PDI-P untuk memilih dirinya.  Tetapi sayang, komunikasi publik ini tidak cukup bersuara menyentuh Megawati.  Sang incumbent DKI tetap menjadi pilihan.

Menduga Motif PDI-P

Ketika Teman Ahok berhasil mencapai angka satu juta KTP, banyak partai politik ketar-ketir.  Dukungan untuk maju sebagai calon independen adalah ancaman delegitimasi partai politik.  Mungkin, dari sisi pendidikan politik ini adalah fenomena positif. Yaitu, rakyat semakin matang dan dewasa dalam berpolitik.  Kedewasaan berpolitik rakyat adalah sesuatu yang paling ditakutkan oleh partai politik.  Di tubuh partai-partai di Indonesia, instrumen-instrumen oligarkis masih dominan.  Delegitimasi partai politik bukan saja ancaman bagi demokrasi, tetapi sekaligus juga ancaman bagi eksistensi para oligark.

Meskipun menghadapi banyak kerikil (ya, saya masih menyebutnya kerikil saja), jalan untuk kembali bertarung di Pilgub DKI pada 2017 tetap lebar. Ia telah mengantongi rekomendasi Golkar, Hanura, dan Nasdem. Ia telah memiliki “sejuta” KTP dari Teman Ahok.  Juga, semakin banyak saja survei yang mengunggulkan dirinya.  Dan, diantara begitu banyak figur yang sedang sempoyongan untuk memperoleh kendaraan politik (baik partai politik maupun jalur independen), Ahok paling siap.

Dari kalkulasi politik, Ahok adalah figur menang.  Meskipun perhelatan Pilgub adalah praktek politik penuh intrik, setidaknya Ahok telah mengendalikan begitu banyak sumber daya politik.  Ia paling siap menang, dan paling besar kemungkinan besar menang.

PDI-P tidak ingin kehilangan momentum ini.  Dalam kacamata menang-kalah (sesuatu yang masih lazim dalam politik praktis di tanah air), mendukung Ahok berarti memastikan kemenangan.  Sementara itu, mendukung kandidat lain berarti “bermain judi”.  Jadi, lumrah saja jika kemudian PDI-P memutuskan dukungan untuk Ahok.  Logika menang-kalah nampaknya bertemu dengan logika kepentingan publik yang dominan.  Ya, meskipun banyak pihak yang mencerca gaya kepemimpinan Ahok, mengejek pendekatannya dalam menata Jakarta, namun banyak juga yang secara konsisten puas dengan tindak-tanduk Ahok mendekonstruksi banyak hal di ibu kota.

Lawan Potensial Ahok

Tetapi, siapakah yang dapat mengimbangi posisi di atas angin Ahok saat ini?  Cukup sulit mengelaborasinya.  Figur-figur yang disebut akan menantang Ahok tampak masih jauh keteteran, bahkan figur yang berlari sekalipun.  Setidaknya, ada 2 aspek paling menonjol yang menjadi penghambat figur-figur lain.  Pertama, kendaraan politik. Hingga kini, belum jelas siapa yang bisa secara legal memenuhi syarat untuk menjadi calon Gubernur DKI.  Partai politik semakin sedikit tersisa. Sementara dukungan suara independen tampak belum berkonsolidasi.

Kedua, rekam jejak.  Kita melihat hadirnya figur-figur dengan integritas memadai.  Ada Yusril Ihza Mahendra, Adhyaksa Dault, atau Sandiaga Salahuddin Uno.  Juga ada Anies Baswedan.  Semua berintegritas, namun dengan level rekam jejak yang berbeda.  Dalam hal membenahi kesemrawutan, apalagi untuk daerah seruwet Ibu Kota Jakarta, belum ada yang bisa menyamai rekam jejak Ahok.

[rpi]

Meskipun demikian, tetap saja ada peluang bagi muncul figur atau pasangan figur yang bisa mengimbangi.  Meskipun memiliki segudang keunggulan, Ahok juga memiliki sederet titik lemah.  Jika saja ada pasangan calon yang dapat menampilkan keunggulan seperti yang dimiliki Ahok, dan sekaligus menampilkan keunggulan yang tidak dimilikinya, maka calon usungan PDI-P (dan Golkar, Hanura, Nasdem) ini perlu meningkatkan kewaspadaan.

Para mantan menteri nampaknya akan sulit “turun level” dengan berpasangan sesama mantan menteri.  Misalnya, Yusril berpasangan dengan Dault, atau Anies dengan Yusril.  Meskipun ini kekuatan besar, tetapi kalkulasi politiknya sulit diterima.  Tapi, jika saja itu terjadi, maka benar-benar kelanggengan Ahok memang mengkhawatirkan.

Maka, saya berpikir, akan lebih ideal jika Sandiaga S. Uno mau sedikit melangkah mundur dengan memposisikan diri sebagai calon wakil gubernur.  Dan menyerahkan calon gubernur kepada figur yang lebih matang dalam politik dan pemerintahan: antara Yusril atau Anies Baswedan. (*)

Terminal 1 Bandara Soetta, Sangat Konsisten

Suasana keberangkatan di Bandara Ngurah Rai, Denpasar (foto: Ishaq)

Suasana keberangkatan di Bandara Ngurah Rai, Denpasar (foto: Ishaq)

Kapan terakhir saya ke Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta? Wah, ternyata sudah lama juga. Kalau tidak salah ingat, mungkin pada tahun 2010-an, waktu saya masih kuliah di UI dan sering bolak-balik Makassar-Jakarta dengan penerbangan murah.

Ya, di Terminal 1 ini bermukim berbagai maskapai yang melayani rute domestik yang murah.  Sedangkan untuk ruten domestik yang premium (Garuda) mangkalnya di Terminal 2, bersama-sama dengan penerbangan internasional.

Waktu itu, setiap kali berada di Terminal 1, perasaan kelas ekonomi selalu menyelimuti kita. Mulai dari pemandangan di luar terminal hingga suasana di dalam Terminal hingga ke tempat menunggu boarding, situasinya benar-benar khas.  Kalau malam hari, banyak calon penumpang yang “berserakan” di pelataran karena kursi tunggu yang sangat tidak cukup. Apalagi, banyak orang yang jika hendak bepergian selalu “takut terlambat”.  Mereka hadir berjam-jam sebelum jadwal keberangkatan.

Selain itu, pemandangan calo-calo tiket, bercampur dengan calo-calo taksi atau kendaraan rental, penjual keliling “bisik-bisik” (sebab mereka menawarkan dagangan seperti jam atau parfum sambil bisik-bisik, takut ketahuan petugas bandara), termasuk anak-anak yang menawarkan jasa semir sepatu turut meramaikan suasana Terminal 1.  Pemandangan demikian tidak akan kita temui di Terminal 2.

Hari ini, (Kamis, 22 Agustus 2013) saya harus menemui seorang kolega untuk mendiskusikan urusan penting. Sebenarnya, bisa saja urusan ini dibicarakan via telepon.  Tetapi, kan jauh lebih baik jika bertemu langsung.  Keputusan bisa diambil setelah mendiskusikan berbagai alternatif.  Selain itu, sudah cukup lama saya tidak bertemu beliau.  Jadi saya putuskan saja ke Jakarta, pergi-pulang.

Jadi, saya berangat dari Makassar pada pukul 13.30 Waktu Makassar, tiba di Jakarta sekitar pukul 15.30 Waktu Jakarta. Lalu ke Plaza Indonesia di Jalan Thamrin.  Setelah ngobrol sekitar 3 jam, pukul 21.00 saya kembali ke Bandara Soekarno-Hatta. Penerbangan saya sebenarnya pukul 04.00. Tetapi kali ini saya memutuskan untuk “menghabiskan waktu” saja di Bandara. (Itulah mengapa ada cukup waktu menulis blog ini…hehehe).

Saya memilih menggunaan penerbangan murah saja. Itu berarti Terminal 1.  Jadilah saya bisa menelusuri terminal ini dan menilai-nilai kemajuan atau perubahan apa yang sudah terjadi setelah sekian tahun sejak 2010 itu.

Amazing! Terminal ini sungguh konsisten: hampir tidak ada perubahan berarti. Situasi bangunan masih tetap sama. Toilet yang baru diperbaiki, mesin pengering tangan tidak bekerja.  Salah satu WC yang coba saya masuki tempat toilet paper-nya kosong melompong.

Dan di pelataran terminal, keramaian masih seperti dulu.  Banyak calon penumpang berselonjor kaki di lantai bersama barang bawaan bejibun.  Bahkan ada yang menggelar tikar untuk tidur-tiduran (atau tidur beneran?).  Penjual “bisik-bisik”, tukang semir sepatu, calo-calo tiket, dan calo-calo taksi atau mobil rental.  Semua masih seperti dulu.(*)

Catatan:

Kali ini saya tinggal agak lama di bandara, dan juga hingga dini hari. Entah baru kali ini ada atau sudah sejak lama, pada sekitar pukul 01.00 ternyata banyak tukang pijit yang menawarkan jasa memberikan pijatan bagi calon penumpang yang kelelahan menunggu di pelataran. Maka, jadilah pelataran depan terminal 1 itu menjadi tempat pijat massal…