Bawa Sepeda di @IndonesiaGaruda dari Jepang

Kali ini saya bermaksud membawa sepeda ke Indonesia. Selama di Kyoto dalam tiga bulan terakhir saya memakai sepeda yang bisa dilipat, yang menurut saya lumayan bagus. Rasanya sayang kalau  harus ditinggalkan.

Saya pernah mendengar bahwa dalam penerbangan, baik domestik maupun internasional, sepeda masuk kategori sport equipment. Perlakuannya sama seperti papan seluncur. Di Garuda Indonesia, membawanya di pesawat tidak dikenakan biaya bagasi, sama seperti alat musik. Informasi resmi tentang ketentuan bagasi dapat dilihat disini. Lihat di bagian Peralatan Olahraga.

Pertanyaannya, bagaimana seharusnya sepeda itu diperlakukan sehingga memenuhi ketentuan bagasi gratis?

Di website tercantum ukuran kotak yang diperbolehkan. Dengan demikian, saya awalnya berasumsi bahwa ia harus dimasukkan ke dalam kotak karton. Tapi, kenapa papan seluncur (surfing) sering kita lihat dibawa tanpa dimasukkan ke dalam box ya?

Jika harus dimasukkan box juga repot. Mencari box yang sesuai ukuran seperti tercantum pada website Garuda tentu tidak mudah.

Maka, untuk memastikan bisa dibawa tanpa masalah berarti, saya mulai mencari informasi.

Komunikasi dengan sosial media Garuda menyebutkan bahwa harus dimasukkan dalam kotak karton. Saya bertanya ke teman di Garuda juga informasinya sama, bahkan dia bilang sebaiknya diwrapping. Saya berpikir, yang diwrapping “sepedanya” atau “box-nya” ya?

Tas Sepeda

Di Jepang, pengguna sepeda lipat akrab dengan tas (namanya Rinko Bukuro). Tas ini adalah perlengkapan wajib jika ingin membawa sepeda di kereta: dilipat, lalu dimasukkan ke Rinko Bukuru, tidak boleh dalam keadaan polos.

Saya lalu bertanya ke kantor Garuda Jepang. Apakah bisa jika sepeda itu saya masukkan ke rinko bukuro dan bukan dalam kotak karton. Jawabnya, bisa. Meskipun demikian, karena sumber informasi yang bervariasi, saya berniat untuk menggunakan tas dan juga me-wrapping di Bandara nanti.

Jadi saya mencari rinko bukuro yang sesuai. Di Kyoto, toko-toko sepeda besar umumnya menjual berbagai macam varian rinko. Saya mendatangi toko Asahi Base Bycicle di daerah Takano. Ini tidak jauh dari apato saya dulu. Untuk memastikan bisa masuk ke dalam rinko bukuro, saya membawa serta sepeda ke toko itu.

Pelayan di toko sangat ramah. Ia mengajak saya ke lantai 2 dan menunjukkan berbagai macam rinko, dengan harga bervariasi. Yang paling murah 2.900 Yen. Ada yang harganya sampai 10.000 Yen. Saya memilih yang paling murah dan meminta untuk dicoba dulu. Maka sepeda saya dilipat dan coba di masukkan ke Rinko itu. Cocok. Jadi saya mengambilnya.

Dari Kyoto ke Bandara Kansai di Osaka lumayan jauh, tetapi ada bermacam pilihan transportasi: kalau kita membawa banyak barang atau bagasi berat, yang paling efisien adalah menggunakan Shuttle service. Kita order tiga hari sebelumnya, dan akan dijemput di tempat tinggal. Pilihan lain adalah kereta cepat dari Stasiun Kyoto, atau menggunakan bus dari dekat Stasiun Kyoto.

Saya mencoba Shutle service. Pada saat reservasi, saya sampaikan bahwa saya akan membawa sepeda. Ternyata, kedua perusahaan layanan shutle service yang ada di Kyoto (MK Taxi dan Yasaka Shutle) tidak diperkenankan membawa sepeda, meskipun dilipat dimasukan tas.

Di website JR West (perusahaan kereta api), disebutkan bahwa boleh membawa sepeda di kereta, namun harus masuk rinko. Untuk memastikan, saya bertanya langsung ke counter information di Kyoto Station dan menanyakan hal ini. Benar. Katanya boleh. Nanti sepeda itu bisa diletakkan di tempat bagasi di kereta.

Maka, pada hari “H”, sepeda saya masukan rinko. Bisa ditenteng dan ditaruh di punggung sebagaimana halnya tas selempang ukuran jumbo. Tentu saja lumayan berat, sekitar 15 kg.

Saya menuju Stasiun Kyoto menggunakan taksi (lumayan mahal dibanding menggunakan Subway). Sebenarnya, jika hanya sepeda yang dibawa, atau ada teman perjalanan yang bisa bantu bawakan barang lain, menggunakan Subway jauh lebih efisien. Sebagai perbandingan, tarif Subway dari tempat saya ke Stasiun Kyoto hanya 260 Yen. Sedangkan dengan taksi, tarifnya sampai 2.100 Yen. Keuntungannya, taksi mengambil saya di depan apato, jadi tidak perlu berjalan ke stasiun Subway yang cukup jauh.

Tiba di stasiun, saya naik kereta tanpa kesulitan. Hanya berjalan menuju peron saja yang harus terseok-seok: membawa tas ransel, 1 bagasi pakaian berukuran besar (kopornya beroda), membawa 1 box sedang berisi buku-buku (saya taruh di atas kopor), dan sepeda dalam tas yang diselempangkan di punggung.

Begitu kereta jalan, rasanya lega. Tahap pertama membawa kereta teratasi.

Tiba di bandara, kembali saya harus terseok-seok, tampak sangat rempong dengan barang sebegitu banyak. Tetapi begitu ketemu trolley, masalah selesai. Semua barang itu muat 1 trolley dan saya bisa ke lantai-lantai atas (tempat check-in internasional di Bandara Kansai) tanpa kesulitan. Lift memang didesain untuk penggunan berbarang banyak.

Sebelum ke tempat wrapping, saya langsung ke counter check-in dulu. Saya pikir, nantilah jika petugas check-in meminta di-wrapping baru saya lakukan.

Di counter check-in Garuda, petugas nampaknya familiar dengan barang bawaan saya. Si mbak Jepang yang cantik hanya memastikan: “is this bicycle, Sir?”. Setelah itu, ia memproses bagasi tanpa masalah.

Begitu semua barang masuk bagasi, lega rasanya.

Sore harinya, setelah tujuh jam penerbangan non stop ke Denpasar, sepeda itu telah ada di Denpasar. Beberapa saat lalu, sepeda itu juga baru saja masuk ke bagasi untuk ke Makassar.

Dan semuanya gratis!

Rekomendasi untuk Garuda

Jika boleh tambah saran, Garuda Indonesia sebaiknya menambahkan informasi di website-nya tentang ketentuan bagasi. Untuk sepeda, bisa dimasukkan ke dalam tas sepeda (Rinko Bukuru kalau di Jepang). Ini akan sangat membantu persiapan penumpang yang hendak bawa sepeda, terutama mengurangi kebingungan sebelum keberangkatan.(*)

4 Alasan Bersepeda di Kyoto

Sepeda adalah kendaraan penting (jika tidak ingin disebut kendaraan utama) untuk komuter di Kyoto.  Setiap hari, dimana saja, kapan saja, kita akan melihat orang berseliweran menggunakan sepeda.  Sungguh pemandangan yang menyenangkan, mengingat dewasa ini semakin berkurang saja kota-kota di dunia yang masih mempertahankan kebiasaan warganya bersepeda.  Kota-kota di Indonesia bahkan nyaris tidak ada lagi pengguna sepeda untuk aktivitas sehari-hari, kecuali untuk keperluan berekreasi dan berolah raga pada akhir pekan.

Mempertahankan warga agar mau terus menggunakan sepeda tentu bukan hal mudah.  Bagi warga dan pengguna, mereka seharusnya menerima insentif yang nyata dari aktivitas menggunakan sepeda.  Sehingga, menarik untuk menelisik alasan-alasan mengapa orang Kyoto masih terus saja menggunakan sepeda.  Saya mencatat ada setidaknya empat alasan tambahan (selain alasan-alasan yang telah umum, misalnya: karena menyehatkan, karena lebih hemat energi, atau karena ramah lingkungan).

Inilah keempat alasan tersebut…

1-IMG_1109Alasan pertama adalah kenyamanan. Menggunakan sepeda di Kyoto jauh lebih nyaman bagi pengguna dibandingkan kendaraan umum lainnya.  Ada anggapan umum di masyarakat bahwa di jalan raya, pengguna sepeda dan pejalan kaki adalah pihak-pihak yang harus dihormati dan dihargai.  Sehingga, bagi setiap pengguna sepeda dan pejalan kaki akan selalu tersedia jalur jalan untuk mereka.

Selain itu, jika kita perhatikan di setiap penyeberangan jalan raya (zebra cross) mobil dan motor akan berhenti sejenak jika ada sepeda motor atau pejalan kaki yang akan menyeberang.  Kesadaran seperti inilah yang membuat kebanyakan pengguna jalan merasa bahwa mereka memperoleh hak istimewa jika menggunakan sepeda atau berjalan kaki jika dibandingkan menggunakan kendaraan bermotor seperti mobil atau sepeda motor.

Alasan kedua adalah berkaitan dengan status sosial.  Seringkali di banyak kota di dunia, terutama di negara berkembang, ada anggapan bahwa menggunakan mobil merupakan pertanda status sosial yang tinggi.  Sementara menggunakan sepeda berarti strata sosial rendah, karena tidak mampu membeli mobil.

Akan tetapi, hal ini tidak terjadi di Jepang.  Menggunakan sepeda sebagai alat transportasi dilakukan karena pilihan sangat rasional.  Tidak ada strata sosial yang melekat pada seorang pengguna sepeda.  Di kebanyakan kampus-kampus besar, para professor, rektor, dekan, bahkan ahli-ahli peraih nobel di Kyoto (Kyoto University dikenal karena memiliki 8 ahli peraih nobel ilmu pengetahuan) bergerak kemana-mana menggunakan sepeda.  Apalagi, pada dasarnya kebanyakan orang yang bekerja di Jepang, dan Kyoto khususnya, menggunakan kendaraan itu hanya pada pagi hari menuju kantor, dan sore hari ketika pulang.  Jadi, untuk apa menggunakan mobil yang membutuhkan bahan bakar jika hanya akan diparkir dengan biaya parkir yang mahal?  Maka, menggunakan sepeda (jika rumah jauh maka pilihannya adalah kereta atau subway) adalah pilihan paling rasional.

1-IMG_1112Alasan ketiga adalah soal keamanan.  Jalur bagi pengguna sepeda di daerah-daerah yang padat kendaraan bermotor selalu didesain seaman mungkin, sehingga memastikan bahwa pengguna sepeda selalu terlindungi.  Polisi juga selalu memperhatikan kelengkapan setiap pengguna sepeda, misalnya lampu (untuk keperluan bersepada malam hari), atau memeriksa rem secara rutin.  Selalu saja ada petugas yang memberhentikan sepeda untuk memeriksa rem, dan menyetelnya jika dirasa kurang cengkeraman.  Jika telah diperiksa, sepeda akan diberi stiker, sehingga tidak perlu terus-terusan dihentikan oleh petugas.  Nanti pada beberapa bulan kemudian baru akan dihentikan lagi.

1-IMG_0266Alasan  terakhir adalah soal kemudahan parkir yang murah (bahkan sebagian besar adalah gratis), serta mudah ditemukan di banyak tempat.  Umumnya, di gedung-gedung pemerintah, di kampus-kampus, atau di pasar dan pusat berbelanjaan, parkir adalah gratis.  Sementara di stasiun kereta atau di pusat perbelanjaan, parkir berkunci biasanya berbayar cukup murah, sekitar 100-150 Yen setiap 6 jam atau lebih. Bahkan, tidak jarang ada tempat parkir yang memberi 200 Yen untuk 24 jam.  Bandingkan dengan parkir untuk mobil yang bisa mencapai ribuan yen untuk setiap beberapa jam.  Seorang teman saya mengatakan bahwa untuk parkir mobilnya di dekat apato, ia harus membayar sekitar 30.000 yen (lebih 3 juta rupiah) setiap bulan.

1-IMG_1115Akan tetapi, tetap saja ada warga yang nakal dan memarkir sepedanya sembarangan.  Meskipun sudah diberi tanda tidak boleh parkir, ada saja yang melanggar.  Untuk mengatasi hal-hal seperti, maka pada waktu-waktu tertentu akan ada petugas dari pemerintah kota yang mengangkut sepeda-sepeda yang terparkir pada tempat-tempat dilarang parkir.  Bisa sampai ratusan sepeda yang terjaring kalau sudah ada razia seperti ini.  Sepeda-sepeda itu akan disimpan di tempat yang disebut “penjara sepeda”.  Untuk menebus sepeda kita yang tertangkap dan dimasukan penjara ini, kita harus menebus 3.000 yen per sepeda.

Banyak yang menganggap bahwa bersepeda di Jepang agak rumit dan penuh aturan.  Hal itu betul, namun sebenarnya aturan itu tidak sulit untuk dijalankan.  Misalnya, aturan mengenai lampu depan, mengenai berboncengan yang tidak boleh kecuali untuk anak-anak di bawah usia 10 tahun tetapi harus di tempat duduk khusus, dan sebagainya.  Tujuannya adalah untuk keselamatan dan kenyamanan saja sebenarnya. (*)

Astaga, Ada Pelanggaran Hukum Massal di Kyoto

Pengendara sepeda di Jepang berasal dari berbagai lapisan, ibu rumah tangga hingga eksekutif. Suasan sore di pusat bisnis Osaka. (Photo: Ishaq)

Akibat tingginya angka kecelakaan yang melibatkan pengendara sepeda dan pejalan kaki, National Police Agency (NPA) Jepang akan menertibkan pengendara sepeda, dan “mengusirnya” dari jalur pejalan kaki  (pedestrian). Ini aturan sebenarnya,  tetapi selama ini diabaikan.  Baru tahu, kalau ternyata orang Jepang bisa juga mengabaikan peraturan yang berlaku… hehe.

Menurut revisi Undang-Undang Lalu Lintas Jepang tahun 2008,  pengendara sepeda harus menggunakan sisi kiri jalan raya, dan tidak boleh melintas di jalur pejalan kaki (pedestrian).  Aturan ini dikecualikan bagi pengendara anak-anak di bawah 13 tahun, orang tua di atas 70 tahun, pengendara yang cacat fisik, atau karena kondisi terpaksa (misalnya konstruksi jalan).

Pada sisi jalan yang lebar, jalur pengendara sepeda dan pejalan kaki dipisahkan. Tapi, hanya sedikit jalur seperti ini, seperti tampak di Jl. Horikawa, Kyoto. (Photo: Ishaq)

Juga aturan ini menyebutkan bahwa jika pedestrian lebarnya lebih minimal 2 meter, maka dibuat jalur khusus (biasanya dengan warna jalan yang berbeda) untuk pengendara sepeda.   Memang, di beberapa jalan utama yang sisi jalannya cukup lebar, ada jalur untuk pejalan kaki dan ada juga penanda untuk jalur pengendara sepeda.  Tetapi, itu tidak banyak.  Sebagian besar jalur pejalan kaki tidak sampai 2 meter lebarnya.

Jadi, selama ini orang-orang di Kyoto (bahkan mungkin di seluruh Jepang) melakukan pelanggaran hukum massal.  Setiap hari saya bersepeda ke kampus, dengan waktu tempuh sekitar 25-30 menit.  Begitu juga pulangnya.  Saya biasa memilih jalan yang berbeda-beda, biar tidak bosan.  Kadang-kadang juga saya ke pusat kota Kyoto sekitar stasiun atau sekitar Kyoto Tower.

Yang saya saksikan adalah pengendara sepeda 99% menggunakan jalur pejalan kaki.  Sudah pasti, saya yang orang asing berpikir inilah aturannya.  Apalagi beberapa kali berpapasan dengan polisi, dan tidak pernah dilarang atau diberi peringatan.

Sepeda adalah alat transportasi penting di Kyoto. (Photo: Ishaq)

Rupanya, menurut laporan NPA sebagaimana dilansir koran The Yomiuri Shimbun (27/10), dalam 10 tahun terakhir ini, kecelakaan di jalan raya yang melibatkan sepeda mengalami penurunan sebesar 10%.  Akan tetapi, kecelakaan antara sepeda dan pejalan kaki mengalami kenaikan hingga 50% atau mencapai angka  2.760 kasus.

Penyebabnya sudah dapat dipastikan: karena pejalan kaki dan pengendara sepeda berada di jalur yang sama.  Tudingan diarahkan kepada pengendara sepeda yang “ugal-ugalan”, bahkan ada yang memacu sepeda hingga kecepatan mencapai 40 atau 50 km/jam.

Untuk itu, masih menurut The Yomiuri (oh ya, link beritanya ada disini), sejak Selasa 25 Oktober 2011, NPA menginstruksikan seluruh jajarannya, termasuk di perfektur dan kota-kota di Jepang, untuk “mengusir” pengendara sepeda dari pedestrian, kecuali yang memang disiapkan jalur untuk sepeda.

Pada langkah awal, polisi akan menghentikan setiap pengendara sepeda yang ditemui di pedestrian dan meminta mereka menggunakan sisi kiri jalan, sesuai aturan yang berlaku.  Tidak akan ada hukuman.  Teguran keras (biasanya dengan pencatatan identitas) akan diberikan bagi pengendera sepeda yang ugal-ugalan.  Jika pengendera seperti ini kedapatan lagi melakukan hal yang sama, barulah diberi sanksi.

Artinya, sepanjang cara bersepeda kita cukup normal dan wajar, tidak perlu khawatir ditahan oleh polisi.  Paling-paling dihentikan dan disuruh pindah ke jalan raya saja.

Kemarin, ketika dalam perjalanan ke kampus, saya memang sempat melihat ada 1-2 pengendara sepeda yang berbicara dengan polisi.  Nampaknya, mereka dihentikan oleh polisi, awalnya saya menduga mereka melakukan pelanggaran.  Mungkin, itu bagian dari sosialisasi pengaktifan kembali kebijakan lalu lintas tersebut.

Tentu saja, regulasi ini masih menimbulkan perdebatan kecil.  Pengguna jalan raya mengkhawatirkan terjadinya peningkatan kecelakaan di jalan raya yang melibatkan pengendara sepeda.  Dengan berpindahnya sepeda ke jalan-jalan raya, maka jalur untuk mobil dan motor akan sedikit menyempit.  Resiko untuk terjadinya kecelakaan makin besar.

Kita tinggal lihat saja, apakah pengguna sepeda memang bersedia untuk pindah ke jalan raya, yang sebenarnya lebih nyaman dan bisa lebih cepat.(*)