Ogata, Legenda Hidup Yang Termenung Sedih

Ketika Ogata memasuki ruang pertemuan, puluhan orang yang menunggunya terdiam. Tidak ada satu suarapun, bahkan suara napaspun tidak terdengar. Ya, nampaknya semua orang menahan napas menyasikan langkahnya yang lamban namun kokoh, membawa tubuhnya memasuki ruangan ini.  Sesaat sebelum ia tiba di kursinya, seseorang tiba-tiba bertepuk tangan. Spontan, semua yang hadir di ruangan ini turut bertepuk tangan, memberi penghormatan atas kedatangannya.

Sadako Ogata.  Banyak orang menyapanya Madame Ogata.  Ia perempuan berusia 86 tahun, dengan semangat yang jauh lebih muda dibanding usianya.  Pada usia ini, kebanyakan orang akan berada di rumah bermain dengan cucu atau cicit, atau mungkin akan berada di rumah jompo tempat penampungan orang tua.  Namun, Madame Ogata masih saja bergerak ke berbagai belahan dunia, mengurusi berbagai isu kemanusiaan yang menjadi concern-nya.

Bagi orang-orang yang berkiprah dalam hubungan internasional, khususnya yang akrab dengan issue kemanusian, pendidikan, anak-anak, dan diplomasi organisasi internasional, kemungkinan besar pernah mengenal namanya.  Di Jepang, ia adalah legenda hidup.  Banyak orang Jepang yang memiliki karir di organisasi internasional, atau bekerja pada bidang kemanusiaan, namun tidak ada yang setara dengannya.

Ia lahir pada tahun 1927, sehingga ia dapat mengenang dengan terang bagaimana Perang Dunia II membawa kehancuran, bukan saja pada yang kalah, tetapi juga bagi pihak yang menang.  Masa remajanya dilewati di tengah suasana perang, dan masa mudanya dihabiskan pada saat Jepang sedang berjuang keras untuk bangkit dari keterpurukan akibat kalah dan hancur saat perang itu.  Maka, ia memilih akan berbuat apa saja bagi kemanusiaan, bagi perdamaian.

Sejak akhir dekade 1960-an, Madame Ogata telah berkiprah di Perserikatan Bangsa-Bangsa.  Ia menjadi wakil Jepang pada sidang-sidang Majelis Umum PBB pada tahun 1970, 1975, 1976-1978, dan 1978-1979.  Madame Ogata adalah Direktur Eksekutif UNICEF pada 1978-1979.  Setelah itu, pada periode 1991 – 2001 (atau 10 tahun tanpa tergantikan), ia menjadi Direktur Eksekutif UNHCR, badan PBB yang mengurusi pengungsi.  Setelah itu, pada masa 2003 – 2012 ia dipercaya oleh Pemerintah Jepang menjadi Presiden JICA (Japan International Cooperation Agency).

Dapatlah dibayangkan betapa berpengaruhnya Madame Ogata.  Ia telah mengunjungi seluruh negara di dunia, bertemu dengan berbagai kelompok, berinteraksi dengan berbagai type manusia.  Banyak kebijakan telah ia torehkan di dunia internasional, terutama pada urusan pengungsi dan bantuan luar negeri Jepang. Bagi mereka yang berinteraksi dengan bantuan luar negeri Jepang pada dekade 2000-an kemungkinan besar pernah mendengar namanya.  Pengalaman hidupnya tampak tergambar dari raut wajahnya yang dipenuhi garis-garis ketuaan: penuh kebijaksanaan.

Hari ini, Kamis (26 September 2013), Madame Ogata berkunjung ke Graduate School of Global Studies, Doshisha University.  Ia ingin bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa asal Afghanistan yang disekolahkan oleh Pemerintah Jepang di kampus ini, yang merupakan bagian dari program rekonstruksi Afghanistan.  Beruntung saya adalah “resident mentor” di program Global Resource Management di sini, sehingga sayapun berkesempatan hadir pada acara dialog ini.

Kunci Hidup Ogata

Madame Ogata tidak berceramah.  Ia hanya memberi pengantar sangat singkat, bahwa kedatangannya kali ini adalah ingin mendengar.  Ia ingin mengetahui aspirasi, gagasan, masalah-masalah, ekspresi, pandangan, atau apa saja dari setiap yang hadir di ruangan ini.  Saya berpikir, mungkin Madame Ogata telah merasa cukup berbicara selama puluhan tahun pada berbagai forum. Maka, sekarang ini ia ingin lebih banyak mendengar.

Berbagai suara silih berganti terdengar dari peserta, diselingi dengan komentar atau jawaban seperlunya dari Madam Ogata.  Tentu saja, rekan-rekan dari Afghanistan yang paling bersemangat.  Namun, rekan-rekan dari negara lain, dan juga dari Jepang tidak kalah antusiasnya. Ada yang bertanya tentang tips-tips berkarir di organisasi internasional, hingga pertanyaan soal Suriah dan Timur Tengah.

Lalu, seorang mahasiswi Jepang bertanya: “Apa yang membuat Anda begitu powerful, Ogata San?”.  Tanpa diduga-duga, Madame Ogata tertunduk dalam.  Ia kemudian menopang tangannya ke dahinya, sambil sesekali menggelengkan kepala, dengan pandangan yang tertuju ke lantai.  Seluruh ruangan lalu hening. Semua orang menunggu jawaban beliau.  Kemudian, setelah beberapa menit yang menegangkan, Madame Ogata menjawab singkat: “I am sorry, I don’t have answer for that question. I am sorry…”

Dari ekspresinya, tampak sekali ia tidak menghendaki pertanyaan seperti itu.  Mungkin ia merasa hanya orang biasa, yang tidak berbeda dengan orang lain.  Sehingga istilah “berkuasa” (powerful) adalah kata yang tidak pantas ditujukan padanya.  Atau mungkin juga, pertanyaan seperti itu menyadarkan dirinya pada usia yang telah senja.  Mungkin saja ia teringat bahwa istilah powerful sering dilekatkan pada dirinya dan itu akan segera berlalu.

Entahlah… Semua yang hadir hari itu hanya dapat menduga-duga.  Sebagai legenda hidup, satu pertanyaan yang dapat membuat Madame Ogata termenung tentu saja merupakan pertanyaan yang bermakna penting bagi.  Ya, bahkan untuk orang baik sekalipun, istilah “berkuasa” bisa saja begitu menakutkan, atau membuat sedih.(*)