Waspada Jebakan Konferensi Internasional Abal-abal

Dalam beberapa tahun terakhir ini, dunia pendidikan tinggi Indonesia diramaikan oleh perbincangan tentang “presentasi di konferensi internasional”.  Perbincangan ini menghangat, terutama sejak Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) memberlakukan aturan baru: setiap dosen yang hendak naik pangkat ke jenjang tertentu wajib memiliki paper yang telah dipresentasikan pada forum konferensi internasional.  Bahkan, sekarang ini ada aturan dimana seorang dosen hanya dapat menjadi professor jika telah mempresentasikan karyanya di forum internasional.

Sayangnya, saya belum juga mengetahui definisi jelas dari “konferensi internasional” itu, terutama dalam konteks akademik (sekarang ini saya sedang mencari tahu, dan akan saya posting disini jika sudah ketemu definisinya).  Sehingga, banyak orang yang mengartikan konferensi internasional itu sesuka-sukanya saja.  Ada yang secara sederhana mengartikannya: “yang penting konferensi tersebut berbahasa Inggris atau bahasa asing”.  Ada pula yang mengartikan: “yang penting diselenggarakan di luar negeri”.

Terlepas dari debat itu, hal ini rupanya menjadi trend global.  Seiring dengan trend “World Class University” yang mulai marak pada awal dekade 2000-an, banyak perguruan tinggi di dunia mendorong dosen-dosen mereka untuk memiliki “international engagement”.  Hal ini nampaknya didorong oleh indikator lembaga-lembaga pemeringkat perguruan tinggi dunia.  International engagement ini bisa dalam bentuk berpartisipasi di forum akademik (konferensi) internasional atau menulis artikel yang dipublikasikan pada jurnal internasional.

Rupanya, ada sebagian orang di luar sana yang melihat hal ini sebagai peluang bisnis yang menggiurkan.  Karena dosen-dosen ini membutuhkan konferensi internasional yang dapat menerima paper mereka untuk dipresentasikan, maka maraklah lembaga-lembaga dadakan dibentuk untuk mengeruk keuntungan.  Caranya, mereka mengorganisir suatu konferensi akademik (yang bisa dengan mudah diberi label “internasional”), menerima pendaftaran paper dan presenter, dan menarik biaya pendaftaran.  Jumlah biaya pendaftaran ini terbilang rendah, akan tetapi jika diakumulasi bisa mencapai angka yang fantastis.

Tentu saja, sebagai akademisi yang baik kita berharap paper yang kita presentasikan di forum internasional adalah paper yang benar-benar layak.  Sayangnya, hampir tidak ada mekanisme untuk menguji bagaimana suatu paper pada konferensi internasional itu di seleksi.  Konon, ada semacam proses review yang dilakukan oleh suatu panel ahli.  Tetapi, publik tidak pernah mengetahui, apa dan bagaimana proses review dilakukan.  Sehingga, salah satu langkah awal dan utama untuk menilai apakah suatu konferensi internasional itu kredibel atau tidak adalah dengan menelaah kredibilitas institusi pelaksananya.

Hal selanjutnya yang perlu diteliti adalah kredibilitas dari panitia ilmiah (atau istilah kerennya adalah scientific committee) dari suatu konferensi.  Biasanya, konferensi internasional itu memiliki panitia ilmiah yang berasal dari berbagai negara.  Saya tidak tahu pasti dari berapa negara setidaknya para panitia ilmiah ini berasal.  Tetapi saya kira, semakin banyak ahli dari semakin banyak negara akan semakin kredibel konferensi internasional tersebut.

Namun demikian, tetap saja kita perlu mencermati juga kredibilitas dan latar belakang dari masing-masing panitia ilmiah ini.  Saya baru saja menerima undangan call for paper suatu konferensi internasional yang akan diselenggarakan di Botswana.  Nama kegiatannya cukup menggiurkan: International Conference on Social Sciences and Humanities.  Ketika saya melihat daftar panitia ilmiah, terdapat lebih 20-an nama yang berasal dari lebih 10-an negara, dari Amerika, Eropa, Asia, Afrika, hingga Pasifik.

Akan tetapi, ketika saya mencoba mencari tahu latar belakang dari masing-masing nama itu (karena di website penyelenggara hanya dicantumkan nama, universitas atau institusi afiliasi, dan negara) saya menjadi terperangah.  Nama-nama itu benar-benar adalah nama ahli atau pakar dari institusi atau universitas yang disebutkan.  Tetapi, banyak diantara mereka yang bidang keahliannya, menurut pendapat saya, jauh dari topik konferensi.  Misalnya, ada seorang professor yang ahli kimia organik, ada yang ahli geologi, ada pakar matematika, ada juga peneliti ruang angkasa.  Tentu saja, kita menghubungkan “social sciences and humanities” dengan disiplin-disiplin ilmu tersebut dengan cara yang dipaksa-paksakan.

Akhir-akhir ini memang banyak sekali tawaran yang diumumkan melalui internet untuk berpartisipasi di forum-forum akademik internasional seperti itu.  Seharusnya, para dosen di Indonesia berhati-hati dan selektif.  Akan tetapi, hal itu perlu juga diikuti oleh sikap kritis DIKTI, terutama orang-orang yang duduk di tim penilai angka kredit dosen.  Jangan sampai, setiap bukti presentasi di konferensi internasional ditelan mentah-mentah begitu saja.  Bagaimana mau berkembang ilmu pengetahuan kita kalau begitu kan…? (*)

 

Konferensi Internasional, Bukan Sekedar Tampil

Pada 29-30 September saya mengikuti The Second Annual Conference of Japan Association of Human Security Studies (JAHSS) di Aichi University, Nagoya.  Saya juga berkesempatan mempresentasikan paper berjudul Jeopardizing Transition: Freedom of Worship, The Power of Local Government, and Democratization in Indonesia.

Kinhide Mushakoji, President JAHSS, memberi pengantar pada pembukaan konferensi.

Ini momen penting, karena dua alasan personal. Pertama, mempresentasikan paper pada forum akademik bertaraf internasional merupakan syarat wajib menyelesaikan studi S3 di Doshisha University. Kedua, inilah pertama kalinya saya mempresentasikan paper pada forum internasional, yang menurut penilaian saya, bukan hanya sekedar tampil.

Di awali pada Juni 2012, saya mengirimkan extended abstract untuk diseleksi oleh komite ahli. Di website JAHSS terpampang jelas siapa saja ahli-ahli yang bertugas mereview abstract. Lalu, pada pertengahan Juli 2012, diumumkan abstrak-abstrak yang diterima dan dipersilahkan mengirimkan full paper. Alhamdulillah, saya menerima email konfirmasi itu.  Mumpung masih ada waktu, saya memperbaiki paper, mengkonsultasikan kepada beberapa teman termasuk juga meminta pandangan Sensei.

Prof. Glenn Dawson Hook (University of Sheffield) dan Prof. Alan Hunter (Coventry University) menjadi panelis pada sesi pembukaan.

Paper yang kita kirimkan kemudian ditampilkan di website konferensi, dapat di download bebas.  Ini tentu motivasi untuk membuat paper sebaik mungkin. Publik akan menilai karya kita, sekaligus merupakan pertaruhan kredibilitas penyelenggara. Jika terdapat unsur-unsur yang dapat mencoreng kredibilitas (misalnya dugaan plagiarisme, atau teknik penulisan yang amburadul) bisa merusak reputasi semua. Maka, baik penulis maupun komite pelaksana sangat hati-hati dalam urusan ini.  Bagi penulis paper yang karena alasan tertentu tidak ingin papernya di tampilkan di website dipersilahkan menyampaikan kepada komite dengan alasan logis (misalnya masih ada kelemahan data, masih bersifat draft, atau alasan lainnya).

Paper-paper ini ditampilkan sekitar sebulan sebelum pelaksanaan konferensi. Jadi, siapa saja yang tertarik dengan topik dan paper tertentu dapat membaca sejak awal, dan berkesempatan untuk memberikan komentar, pertanyaan, atau sanggahan pada saat konferensi berlangsung.  Tentu saja, dengan demikian mereka harus berusaha hadir pada sessi paralel sesuai jadwal presentasi paper yang diminati.

Saya memperoleh jadwal presentasi selama 20 menit. Terima kasih kepada Sensei, yang memberi kesempatan Rehearsal, sehingga 10 menit dapat saya maksimalkan untuk presentasi, dan 10 menit untuk diskusi.

Pada saat sessi paralel berlangsung, setiap sessi menampilkan 3-4 orang presenter. Ada 2 presenter lain yang bersama saya di session dengan sub topik “Democracy, Livelihood, and Migration in Asia“, yaitu Fabiola Tsugami dari Polandia (kandidat Ph.D Waseda University) yang mengangkat topik “Human Trafficking dan Human Security”; dan Bui Thu Thi Sang dari Vietnam (kandidat Ph.D Kyushu University), yang mengangkat tentang Corruption and Human Security.  Saya sendiri membahas topik Human Security dan Democratization.

Hal yang menarik adalah pada setiap sesi paralel ini ada seorang komentator ahli yang memberikan ulasan dan tanggapan terhadap setiap paper. Di tangan komentator ahli itu telah ada paper-paper setiap presenter. Begitu selesai presentasi, komentator ahli ini akan memberikan ulasan, komentar, tidak jarang kritikan, untuk kesempurnaan paper.  Setelah itu, paralel session chair (moderator) akan mempersilahkan kepada audiens yang hadir untuk memberi komentar.

Di sesi paralel yang saya ikuti, Prof. Dinil Pushpalal dari Tohoku University yang menjadi komentator ahli. Secara pribadi, saya merasa cukup bangga dengan respon Prof. Pushpalal terhadap paper saya.  Ia mengatakan bahwa ia membaca paper saya berkali-kali, karena isu yang angkat (menurutnya) menarik. Ia juga mohon maaf kepada dua presenter lain, karena ia tidak sempat membaca detail paper mereka, seperti ia membaca paper saya. Lalu, komentarnya terhadap konten paper pun meluncur dari beliau.

Terasa benar profesionalisme dan kredibilitas akademik dijaga pada konferensi ini.  Sebagai presenter, ada kebanggaan tersendiri, sebab kita tahu bahwa paper dan presentasi kita memperoleh penghargaan yang selayaknya. Saya kira, hal paling membahagiakan bagi seseorang yang menulis adalah tulisannya dibaca orang lain. (*)