Sekedar Rubik Di waktu Senggang

Rekor nasional Rubik 3×3 diselesaikan dalam waktu 6.84 detik (Stephen Adisaputra). Rekor dunia adalah 5.25 detik yang baru saja dicatatkan oleh seorang remaja Amerika pada April 2015 lalu. Rekor dunia sebelumnya, 5.63 detik dipegang selama dua tahun oleh Feliks Zemdegs dari New Zealand.

Berapa rekorku? 3.2 detik….
Eh salah, menit maksudnya… Hehehe. Ya, catatan waktu terbaik saya adalah 3 menit 20 detik.

Lumayanlah. Untuk ukuran Bapak-bapak yang kerjaan utamanya mengurus seorang anak cowok dan tiga anak cewek (dua diantaranya adalah kembar), dengan kerjaan lebih utama lagi mengajar dan meneliti, dan lalu kerjaan tambahan wajib belajar, rekor itu rasanya tidak buruk-buruk amat.

Tapi tentu saja, saya butuh motivasi mengejar rekor seseorang. Siapa dia? Namanya Will Smith (hehehe). Rekornya adalah 55 detik. Dulu, Smith pernah ngos-ngosan mengejar kebahagiaan (dalam Pursuit of Happiness). Sekarang, saya akan mengejar-kejar rekor rubik-nya (bisalah Pursuit of Smith…heheh). Do’akan saya berhasil, permirsahhh… (pake “h”, jadi mendesah…)

Btw, ada yg bisa selesaikan dalam waktu kurang dari 5 menit? Berarti bisa kita ngopi bareng sambil bawa rubik. Yang bisa selesaikan dengan waktu tercepat kopinya dibayarkan.

Atau ada yang ingin berlatih agar bisa selesaikan dalam waktu sekitar 10 menit? Lagi-lagi, bisalah kita ngopi bareng sambil bawa rubik. Secangkir kopi belum habis, tekniknya bisa dikuasai. Asalkan, kopi saya dibayarkan…

Atau ada yang mau latihan teknik dasar menyusun rubik? Marilah kita ngopi-ngopi sambil bawa rubik. Kopi belum habis, teknik dasar sudah bisa dikuasai koq. Tapi, kopi saya dibayarkan ya…

Sebenarnya, saya hanya mencari teman ngopi yang bersedia membayarkan kopi saya.. 😂😂😂😂 – at Kyoto, Japan

View on Path

Makassar Tidak Terambil

“You can take someone out off Makassar. But you can’t take Makassar out off someone”. Begitulah… Kalian bisa mengeluarkan seseorang dari Makassar, tapi kalian tidak akan pernah bisa mengeluarkan Makassar dari dalam diri seseorang.

Kalimat ini pertama saya dengar dari teman, dulu adik angkatan di Unhas. Namanya Erlita. Dia cantik, modern, dan bertahun-tahun tinggal di New York. Tapi ketika berbicara, kalimatnya dipenuhi: mi, ji, ki…

Beberapa tahun ini saya tinggal di Kyoto. Maka sering sekali saya memposting foto atau berbagi pengalaman tentang kota ini. Seorang rekan, saya yakin ia bercanda, bilang: “takkala sekalian pindah mi ki di situ”. Teman ini tentu mengira saya mengagungkan kota ini.

Saya sarapan dan minum kopi di Starbucks yang saya lewati dalam perjalanan ke kampus. Suasananya jauh dari keriuhan dan keramahan warkop ala Makassar.

Tapi di meja ini, saya bisa menghadirkan Makassar melalui tumbler kopi. Lumayan, selain bisa bantu promosikan kota, juga dapat diskon 10% karena bawa tumbler sendiri. Hehehe…

Yes, we are always Makassarian… – at Starbucks Coffee 京都三条大橋店

View on Path

Momiji dan Kyoto Musim Gugur


Namanya momiji. Bahasa latinnya adalah “acer palmatum”. Orang Inggris menyebutnya Japanese maple. Sayang, di Indonesia kita belum ada istilahnya. Tapi kita cukup akrab dengan pohon mapel, maka bisalah kita namakan “mapel Jepang”.

Ini adalah tanaman yang memberi warna musim gugur. Daunnya, yang mirip canabis, berwarna hijau menjerit pada musim panas. Ketika musim gugur datang, daun-daun momiji akan bergradasi seiring waktu: kekuningan lalu kuning menjerit, kemerahan lalu merah romantis, setelah itu kecoklatan lalu gugur. Tugasnya selesai. Musim gugur telah benar-benar datang. Proses berganti warna itu terjadi sepanjang Oktober hingga Desember. Puncaknya, saat dimana daun-daun momiji berwarna merah, umumnya terjadi di bulan November.

Konon, momiji adalah pohon khas yang hanya ada di Jepang, Semenanjung Korea, Mongolia Timur, dan Rusia Tenggara. Bagi warga Jepang, transformasi warna momiji tidak saja bermakna pergantian musim. Ada makna spiritual, sosial, ekonomi, dan historis dibaliknya.

Pada setiap puncak musim gugur, biasanya di minggu kedua bulan November, warga Jepang memiliki tradisi Momijigari (gari artinya berburu). Orang-orang akan keluar rumah mencari spot paling banyak kumpulan pohon momiji, lalu berkumpul dan melakukan berbagai aktivitas: makan-makan, bernyanyi, menari, atau sekedar bertukar cerita. Bagi pasangan yang sedang jatuh cinta, inilah masa yang ditunggu-tunggu untuk saling menggenggam tangan diliputi warna merah romantis sekeliling.

Tradisi momijigari telah dimulai sejak jaman Heian. Itu tahun 794, saudara-saudara. Kyoto masih menjadi ibu kota kekaisaran Jepang. Maka, tidak heran jika di Kyoto hingga sekarang banyak tersebar pohon momiji, seperti yang selalu saya lewati di sisi jalan ini. Merawat pohon momiji adalah merawat tradisi dan sejarah, begitu mungkin pikiran orang Kyoto. Hingga kini, Kyoto (dan juga kota Nikko di Jepang Timur) menjadi destinasi utama momijigari. Bahkan orang Jepang dari wilayah lain merasa perlu ke Kyoto untuk momijigari, meski di daerahnya juga banyak pohon momiji.

Jadilah Kyoto semarak plus-plus di bulan November: semarak oleh warna-warni daun momiji, dan oleh ribuan orang yang datang berkunjung. Beberapa tempat di Kyoto menggelar Festival Momiji (Momiji Matsuri). Dua tempat paling favorit adalah Arashiyama dan Kurama.

Awal pindah tempat tinggal, saya sering mengeluh karena jarak apato yang jauh dengan kampus. Dulu, saya butuh waktu 15-20 menit bersepeda. Sekarang, paling cepat 40 menit. Belakangan, ketika menyadari bahwa 40 menit itu sesungguhnya terlewati di bawah hamparan daun-daun momiji, saya revisi keluhan itu menjadi hiburan. Ya, warna-warna ini semakin hari akan berangsur cantik. Sadar bahwa keindahan itu ternyata menyelimuti kita. (*)

Menelisik Cuaca Setiap Hari

Ada dua hal yang nampaknya dipercaya oleh kebanyakan orang Jepang sepenuh hati: “ramalan cuaca” dan “jadwal kereta”. Teman saya berkata, “jika pemerintah tidak lagi memberi ramalan cuaca hari ini yang presisi, atau mengatur jadwal kereta yang sesuai, saya yakin kepercayaan publik akan hilang”. Itulah kata kuncinya: “kepercayaan publik”.

Pernah sekali waktu saya keluar apato di pagi hari yang cerah. Udara hangat, matahari pagi bersinar cukup terang, langit cerah sedikit berawan. Akan tetapi, orang-orang lalu lalang dan bersepeda membawa payung tergulung. Itu adalah masa-masa awal saya di Jepang. Maka, saya berpikir: “ah, nampaknya payung juga telah menjadi mode ya… Cerah begini koq pada bawa payung..”

Dan sore harinya, hujan benar-benar turun!

Kemudian saya ketahui, orang Jepang sangat lekat dengan perubahan cuaca. Setiap malam menjelang tidur, atau pagi hari sebelum keluar rumah beraktivitas, orang-orang akan menelisik perkiraan cuaca. Ini akan menentukan ketebalan baju hari ini, perlu bawa payung atau tidak, dan apakah bisa melakukan aktivitas luar ruangan atau tidak.

Sumber informasi pertama dan utama adalah Japan Meteorological Agency (JMA) atau Kisho-cho (tulisan kanjinya: 気象庁). Ini lembaga pemerintah yang didirikan tahun 1956 dengan mandat khusus “memantau, memperkirakan, dan mengumumkan” kondisi iklim dan cuaca. Media-media mengambil informasi dari sini. Juga publik dapat bebas melihat informasi cuaca (dan peringatan waspada, jika ada) harian hingga mingguan di websitenya.

JMA setiap hari menampilkan informasi terkini. Setiap tahun, kawasan Pasifik menjadi langganan taifun, kata orang Indonesia “angin topan” atau “angin putar”. JMA selalu menampilkan proses taifun sejak terbentuk, gerakan dan tujuannya, kadang-kadang hingga interval 10-15 menit. Tahun lalu, saya mengikuti via website JMA proses taifun yang diberi nama Vongfong, nama yang imut untuk angin berkecepatan 215 km/jam dengan dampak kerusakan hingga US$ 100 juta. Ketika itu, taifun ini diperkirakan akan melewati Jepang bagian selatan dan tengah seminggu sebelumnya. Menjelang hari Vongfong lewat, negara dalam keadaan siaga. Sekolah dan kantor diliburkan. Orang-orang memenuhi super market untuk belanja kebutuhan, sebab besok akan ada taifun dan kita baiknya di rumah saja.

Vongfong adalah topan fropis terkuat tahun lalu. Nama-nama taifun ini hingga sekarang belum saya pahami asal-asal usulnya. Ada topan Haiyan, Glenda, Katrina, Nuri, Ketsana. Nama imut untuk kekuatan dan kerusakan yang bisa ditimbulkan.

Hari ini cuaca bagus di pagi hari, suhu udara 16 derajat celcius. Tapi tetap saja, liriklah dulu website JMA. Hari ini diperkirakan tidak ada hujan. Ada mendung di siang hari dengan suhu sampai 23 derajat. Dan sore hingga malam suhu akan menurun tajam. Artinya, jika akan pulang malam, bawalah pakaian lebih tebal yang hangat. Begitulah cara orang Jepang merespon cuaca harian. (*)

#KyotOktober – at 三十三間堂 (Sanjūsangen-dō)

View on Path

Hari Antri Semrawutkah Ini?

Ini hari libur, Sport Day. Peringatan ketika Jepang jadi tuan rumah Olympiade pada 1964. Dulu, Sport Day diperingati pada setiap tanggal 12 Oktober. Sejak tahun 2000, Sport Day diganti jadi hari Senin minggu kedua bulan Oktober. Tentu, maksudnya biar bisa libur panjang. Di Jepang, libur berkorelasi positif dengan produktifitas dan kinerja. Banyak libur bagus, tapi terlalu banyak libur jadi tidak bagus.

Apato saya sekarang hanya berjarak 50-an meter dengan Sanjosangendo Temple. Di seberang jalan Temple ini ada Kyoto National Museum, satu diantara museum yang belum pernah saya kunjungi (saking banyaknya museum di kota ini).

Pagi ini, ketika keluar rumah, saya liat banyak sekali orang antri di pintu museum yang belum buka. Cukup panjang. Antri bukanlah hal aneh di Jepang, semua orang antri tanpa kenal status sosial. Tetapi, antrian pagi ini di depan museum tidak biasa. Tampak tidak teratur dan semrawut.

Dan ini tidak lazim. Orang Jepang selalu antri dengan tertib, membentuk garis yang nyaris lurus. Biasanya orang antri satu-satu. Jadi tidak sambil ngobrol dengan temannya, yang membuat mereka merusak “keindahan” antrian.

Maka, setelah memotret ini, saya segera menyeberang dan ingin tahu. Ada hal penting apa sampai orang-orang ini antri bergerombol, sibuk bercerita dengan rekan di kiri-kanan. Begitu dekat, dugaan saya bahwa ini bukan orang-orang Jepang rupanya tepat. Mereka berbicara dengan bahasa, yang sangat dapat dipastikan, bahasa Mandarin. “Pantas”, kata saya dalam hati. (*)

View on Path