Tahun Baru 2022 dan Hujan Yang Menyertai

Sekitar tiga jam menjelang pergantian tahun 2021 menuju 2022, saya memutuskan untuk tidur. Tidak maksud apa-apa (apalagi bermaksud alay ingin tidur selama setahun), tapi benar-benar mengantuk saja. Beberapa hari menjelang tutup tahun 2021, sebagaimana lazimnya tutup tahun yang lalu-lalu, aktivitas selalu meningkat pesat. Maka, rasa lelah sering terasa.

Beberapa kawan mengajak perayaan pergantian tahun. Kali ini saya benar-benar tidak minat. Rasanya, banyak cita-cita yang belum tercapai, sehingga agak malu juga merayakan pergantian tahun dengan suka cita. Tapi tidak layak juga merayakan dengan kesedihan, sementara kebanyakan orang mencoba optimisme dan mencanangkan harapan pada tahun baru.

Tahun 2021 meninggalkan jejak yang kompleks. Pandemi belum usai. Padahal, ketika awal pandemi melanda pada Maret 2020, banyak pihak optimis situasi akan membaik pada awal 2021, buruk-buruknya pada pertengahan 2022. Ketika itu, orang-orang menunggu hadirnya vaksin.

Ternyata, hingga 2021 berakhir, pandemi belum usai. Selain vaksinasi yang belum memenuhi target minimal untuk menciptakan herd immunity, juga hadirnya varian baru virus corona yang silih berganti unjuk diri terus mendorong ketidakpastian. Di Indonesia, kebijakan berubah setiap saat. Begitu juga di banyak tempat lain di dunia.

Selama tahun 2021, saya hanya melakukan lima kali perjalanan udara ke luar kota. Itupun dengan protokol kesehatan yang berubah-ubah dan ketat. Sekali ke Kendari, sekali ke Surabaya (lalu ke Ponorogo), dua kali ke Pontianak, dan sekali ke Yogyakarta.

Sementara itu, berbagai aktivitas selama 2021 masih didominasi oleh aktivitas online, meskipun di kampus sudah semakin sering pertemuan-pertemuan tatap muka langsung. Namun, suasana siaga pandemi masih terus berlaku: memakai masker kemana-mana, mencuci tangan dan membawa hand sanitizer, serta mandi setiap kali pulang ke rumah.

Ada banyak catatan pada 2021, namun tidak banyak yang dapat diingat. Mungkin ini semacam masa transisi (semoga) memasuki post pandemic living. Bahwa kebiasaan-kebiasaan baru sedang dibiasakan, protokol kesehatan semakin diintensifkan, dan kesadaran tentang perlunya peduli sesama dan lingkungan makin meningkat.

Akhirnya, pergantian tahun 2021 menuju 2022 berlangsung diselimuti hujan deras. Setidaknya, di Makassar curahnya cukup tinggi. Mungkin ini semacam kode, bahwa tahun mendatang akan dipenuhi keteduhan, kesejahteraan, atau mungkin kesiapsiagaan untuk banyak tinggal di rumah.(*)

Fushimi Inari Taisha: Salah Satu Kuil Shinto Tertua di Kyoto

Pada 1 Januari 2014 ini saya dan keluarga mengunjungi kuil Fushimi Inari.  Tentu saja, tujuan kami berkunjung adalah untuk jalan-jalan dan foto-foto.  Kuil ini begitu terkenal, dimana setiap tahun baru ada ribuan (mungkin jutaan) orang dari berbagai penjuru Jepang berkunjung kesini.  Motif mereka berkunjung, konon, adalah untuk berdo’a demi penghidupan dan rejeki yang lebih baik di tahun baru ini.  Ya, kuil ini dikenal sebagai lambang kemakmuran pertanian dan keuntungan bisnis.

Pilar-pilar (torii) menuju gerbang kuil (sumber: www.japan-guide.com)

Kuil yang terletak di sebelah selatan Kota Kyoto ini sangat mudah dijangkau.  Lokasinya hanya 10 menit jalan kaki dari stasiun Keihan dan stasiun JR (dua jasa transportasi kereta Jepang).  Jika kita telah berada di Kyoto, kuil ini bahkan bisa dicapai hanya dengan bersepeda sekitar 20-30 menit saja.

Bagi warga Jepang yang masih memiliki kepercayaan shinto yang kuat, kuil ini memiliki arti penting, karena kuil ini dianggap sebagai pimpinan dari 32.000-an sub-kuil (dalam bahasa Jepang disebut “bunsha“) Inari yang tersebar di seluruh Jepang.

Sementara bagi para wisatawan, kuil ini menarik karena terdapat lebih 10.000 tiang kayu berwarna oranye yang berjejer membentuk lorong-lorong yang panjang.  Konon, pilar-pilar yang berdiri membentuk lorong panjang ini adalah sumbangan dari orang-orang pribadi atau perusahaan.  Itulah sebabnya, pada setiap tiang terdapat tulisan huruf Kanji berwarna hitam, yang merupakan nama dari penyumbangnya.

Menurut catatan, kuil Fushimi Inari dibangun pada tahun 711 oleh keluarga Hata, yang mempunyai dewa utama Ukanomitama-no-Mikoto (dewa beras dan makanan).  Bangunan utama yang disebut Go Honden dibangun pada tahun 1499, sementara gerbang besar lainnya yang bernama Romon Gate dibangun pada tahun 1589 oleh Toyotomi Hideyoshi, seorang samurai.(*)

Suasana pengunjung pada tahun baru 2014. Antrian ini terjadi sepanjang hari (foto: Ishaq)

Suasana pengunjung pada tahun baru 2014. Antrian ini terjadi sepanjang hari (foto: Ishaq)

Salah satu tiang bertulisan kanji (foto: Ishaq)

Salah satu tiang bertulisan kanji (foto: Ishaq)

Gerbang Romon di pintu masuk kuil (sumber: www.japan-guide.com)