Pendidikan Karakter Itu Tidak Perlu Kurikulum

Zidan sekarang bersekolah di salah satu sekolah negeri di Kyoto.  Ia mulai lagi dari kelas satu (ichinensee).  Waktu di Indonesia, Zidan sudah bersekolah di kelas satu, selama enam bulan.  Karena di Jepang tahun ajaran baru dimulai pada April (spring), maka Zidan kembali masuk ke kelas satu.

Banyak orang, terutama kalangan awam, yang menyangka bahwa sebagai negara maju Jepang menerapkan sistem pendidikan modern yang mengajarkan sains dan pengetahuan tinggi bagi siswa-siswa sejak di kelas satu sekolah dasar.  Sejak lama, dari berbagai bahan bacaan tentang sistem pendidikan Jepang, saya tahu bahwa tidaklah demikian adanya.  Pendidikan Jepang di sekolah dasar justru terkesan sederhana.  Dan, begitu Zidan berkesempatan merasakan sendiri, kesederhanaan itu kental terasa.

Guru-guru menyarankan agar anak-anak ichinensee tidak  diantar ke sekolah.  Mereka harus dibiasakan melakukan segala sesuatu sendiri, mandi sendiri, berpakaian sendiri, dan berangkat sekolah sendirian.  Di sini ada kebijakan, jika ingin masuk sekolah negeri, seorang anak hanya boleh masuk di sekolah yang letaknya paling dekat dengan tempat tinggalnya.

Waktu mau daftar sekolah, orang tua tidak memilih sekolah.  Pertama-tama, kita harus ke Ward Office (semacam kantor Camat, kalau di Indonesia) dan mendaftar disana. Ward Office akan menentukan sekolah untuk anak, pertimbangan pertamanya adalah lokasi terdekat dari tempat tinggal.

Anak-anak ichinensee di Kyoto wajib memakai semacam label di punggung berwarna kuning.  Label ini digantungkan menutupi tas ransel, sehingga sangat mencolok.  Apalagi warnanya kuning, warna terang yang tidak lumrah di Kyoto yang didominasi coklat.  Kata gurunya, label ini harus dipakai begitu meninggalkan rumah menuju sekolah.  Jarak rumah dan sekolah Zidan sekitar 1 km, melewati 1 lampu merah dan beberapa perempatan jalan kecil.

Awalnya, saya pikir label ini untuk memberi peringatan bagi orang-orang yang ditemui agar memberi perhatian dan berhati-hati.  Label ini umum dikenal sebagai penanda bahwa pemakainya adalah anak kelas satu, yang masih harus memperoleh perhatian dan bimbingan.

Sesuai saran gurunya, pada tiga hari pertama, saya mengantar Zidan ke sekolah setiap hari. Itu hanya boleh pada minggu pertama saja. Minggu selanjutnya, ia harus berangkat sendiri.

Di dekat sekolah Zidan, ada juga sekolah menengah pertama.  Pagi hari saat siswa-siswa baru datang, para guru berdiri di depan gerbang sekolah, dan menyapa anak-anak yang baru datang dengan “Selamat Pagi…”  Ketika Zidan dan saya lewat di depan sekolah itu, kami juga disapa oleh guru-guru sekolah tersebut.

Saat tiba di sekolah Zidan, guru-guru hingga kepala sekolah tersebar di depan gerbang sekolah, menyapa anak-anak dan orang tua yang mengantarnya.

Sepanjang perjalanan ke sekolah Zidan, kami banyak sekali mendapatkan sapaan “Selamat pagi…” dari orang-orang yang kami temui.  Ada ibu-ibu yang sedang menyapu halaman rumahnya, ada pekerja kantoran yang terburu-buru mengejar kereta, ada juga volunteer berusia separuh baya yang mengatur lalu lintas untuk anak-anak sekolah yang lewat di perempatan dekat rumahnya.

Saya sempat berpikir, orang-orang di Kyoto ramah-ramah ya… Kita tidak saling mengenal, tetapi saling menyapa.  Tetapi, kemudian saya mengingat-ingat bahwa saya selalu berpapasan dengan orang-orang setiap hari di banyak tempat, tetapi tidak memperoleh sapaan dan ucapan seperti kalau saya mengantar Zidan ke sekolah.

Dari seorang rekan orang Jepang, belakangan saya ketahui, bahwa orang-orang itu ramah dan memberi sapaan karena mereka melihat saya bersama seorang anak ichinensee (anak kelas satu).  Hal itu telah menjadi kebiasaan, bahwa ketika kita bersama dengan seorang anak yang memakai label ichinensee, orang-orang berpartisipasi menunjukkan bagaimana seharusnya sesama manusia saling bersikap jika bertemu.  Mereka sebenarnya tidak sedang menyapa saya, tetapi sedang memberikan pendidikan karakter dan pelajaran tentang hidup bersama kepada si anak yang bersama kita.

Sungguh menakjubkan. Pendidikan karakter dan tata perilaku dalam hidup sehari-hari tidak perlu menjadi mata pelajaran dan kurikulum.  Tidak perlu menghafal definisi, berbagai macam type ini-itu, dan sebagainya. Cukup dengan perilaku nyata yang melibatkan partisipasi aktif orang tua dan masyarakat, serta tentu saja sekolah.

Sekali lagi, Jepang membuktikan bahwa sekolah bukanlah penanggung jawa utama pendidikan anak. Ia hanya pelengkap. Ujung tombaknya adalah orang tua dan lingkungan masyarakat… (*)