Seorang Jepang dan Ironi Negeri Penghasil Coklat

Kalau menyebut coklat (chocolate) sebagian besar kita segera memiliki imajinasi tentang kelezatan.  Ya, diolah dalam bentuk apapun (es krim, coklat batangan, wafer, kue dan roti, bahkan minuman hangat atau dingin), hanya satu kata yang dapat mewakili coklat: lezat.

Buah coklat dan biji coklat asal Sulawesi di Toko Dari-K, Kyoto.

Sebagian besar juga orang mengetahui bahwa chocolate adalah produk olahan dengan bahan baku cocoa atau cacao atau kakao atau biji coklat.  Indonesia adalah produsen biji coklat terbesar ketiga di dunia (setelah Cote d’Ivoire dan Ghana) dengan kemampuan produksi hingga 14% dari total produksi dunia.  Dan menurut informasi dari website Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, pulau Sulawesi adalah penghasil terbesar biji coklat di Indonesia, dimana luas lahan di Sulawesi mencapai hampir 60% dari total lahan coklat di seluruh negeri ini.

Saya memang tidak terlibat di urusan biji coklat ini. Paling-paling, kaitan terjauh saya dengan coklat adalah pada urusan konsumsi saja. Tetapi saya cukup sering mendengar tentang kebun-kebun coklat di berbagai daerah di Sulawesi, terutama di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat.

Pada saat krisis moneter 1997 menerpa Indonesia, para petani coklat adalah orang-orang yang berbahagia. Hasil perkebunan mereka menjadi bernilai tinggi berkali-kali lipat. Penyebabnya, biji coklat yang mereka hasilkan ternyata produk ekspor, yang dipasarkan dengan mata uang dollar Amerika. Jika US$ 1 yang sebelumnya hanya sekitar Rp. 2.000,- tiba-tiba menjadi Rp. 10.000,- bahkan pernah menembus angka Rp. 18.000,-, maka wajarlah petani-petani coklat ini menjadi kaya raya. Itu kisah bertahun lalu.

Depan Toko Coklat Dari-K, di wilayah Sanjo lama, Kyoto. Thank to Abah Hamid untuk jepretannya.

Hari Miggu (9 Desember 2012) kemarin, ada pengalaman menarik yang mendorong saya untuk sedikit lebih perhatian pada urusan coklat dan biji coklat asal Sulawesi ini. Seorang teman Indonesia mengajak saya bertemu seorang Jepang bernama Keiichi Yoshino. Ia memiliki perusahaan produk olahan biji coklat (kakao), yang menjual bermacam kue, minuman, bahkan teh (ocha) yang diracik dengan campuran ampas kulit biji coklat. Toko bernama Dari-K itu terletak di kompleks pertokoan Sanjo lama, di dekat Jalan Horikawa, Kyoto.  Tokonya terbilang kecil, tetapi apa yang dia jual, menurut saya, bukan sesuatu yang kecil.

Ia menamakan toko dan perusahaannya Dari-K Co. Ltd. Alamat website-nya www.dari-k.com. Ketika ditanya tentang nama ini, ia mengatakan “coklat yang saya produksi berasal dari biji coklat di Sulawesi. Karena Pulau Sulawesi itu berbentuk huruf K, maka saya namakan saja Dari-K. Selain itu, nama saya kan Keiichi. Jadi ini juga inisial nama saya”, jelasnya sambil tersenyum.

Yoshino San masih terbilang muda. Saya perkirakan usianya belum mencapai 30 tahun. Kata teman saya, dulunya ia adalah bankir di Tokyo. Ia meninggalkan pekerjaan itu, lalu beralih menjadi pengusaha coklat. Ia telah beberapa kali berkunjung ke Sulawesi Selatan dan Barat untuk melihat langsung bagaimana petani-petani disana menanam dan mengolah coklat. Kami lalu bercerita tentang Sulawesi dan coklat.

Tiba-tiba saya menyadari bahwa selama ini saya belum pernah menemui satupun pabrik atau toko yang menjual penganan, kue-kue, atau makanan apa saja yang dihasilkan dari biji coklat Sulawesi di Sulawesi Selatan atau Makassar.  Toko Dari-K di Kyoto inilah toko pertama yang saya temui, dimana semua produk coklat olahannya berasal dari biji coklat Sulawesi.

Papan nama toko Coklat Dari-K. Siapa sangka jika papan nama ini ada di Kyoto, dan bukan di salah satu daerah di Sulawesi?

Kata Yoshino San, adalah sungguh ironis kalau suatu daerah penghasil biji coklat tidak mempunyai pabrik atau tidak memproduksi makanan atau minuman coklat.  Bukankah ironis, jika ingin menikmati coklat yang dihasilkan oleh biji coklat Sulawesi, kita justru harus ke negara lain?

Saya setuju, tapi juga agak malu-malu.  Setuju dengan gagasan bahwa seharusnya ada upaya meningkatkan kapasitas petani kita, sehingga mereka tidak hanya menjual bahan baku, tetapi juga menjual barang jadi yang tentu saja harga dan keuntungan bisa jauh lebih tinggi. Dan saya agak malu, karena gagasan seperti itu datang dari seorang Jepang, dan bukannya dari kita orang Indonesia.

Yoshino San tidak hanya berhenti pada gagasan, tetapi ia benar-benar berbuat. Pada musim panas lalu, ia ke Polewali, Sulawesi Barat, membawa serta beberapa pegawainya.  Di sana, ia mengumpulkan sekitar 40 petani coklat, dan pegawai-pegawainya mengajarkan mereka cara mengolah biji coklat menjadi minuman coklat. Mereka, para petani itu, sungguh surprised. Itulah untuk pertama kalinya mereka mengetahui cara membuat minuman coklat dari biji coklat mereka sendiri.

Tidak berhenti disitu, Yoshino San bahkan bermaksud membuka pabrik pengolahan coklat di Polewali pada musim semi atau musim panas tahun depan.  Dan ia juga menjajaki peluang untuk membuka pabrik yang sama di Makassar.  Idenya adalah, orang-orang yang berkunjung ke Makassar seharusnya menjadikan penganan coklat Sulawesi sebagai souvenir saat mereka kembali. Dan orang-orang Sulawesi seharusnya dapat menjadikan produk siap konsumsi coklat sebagai produk kebanggaan, yang akan mereka jadikan souvenir saat bepergian.

Saya tahu ini ide biasa. Banyak orang yang memiliki ide seperti ini, tetapi tidak bisa direalisasikan. Mungkin mereka tidak punya cukup modal, mungkin juga mereka tidak cukup mendapat dukungan (baik dari pemerintah maupun masyarakat). Yang paling saya khawatirkan adalah gagasan-gagasan seperti itu kelak akan lumpuh dan tidak bisa direalisasikan karena takluk oleh rejim perdagangan biji coklat yang, menurut pemahaman awam saya, menguasai produksi biji coklat.

Di Sulawesi Selatan saja, ada perusahaan-perusahaan besar yang sangat diuntungkan dengan perdagangan biji coklat internasional.  Mereka ini adalah eksportir-eksportir besar yang menguasai suplai coklat hingga level petani. Mereka tentu tidak akan membiarkan benih-benih gagasan seperti ini berkembang dan mengancam bisnis mereka.

Saya berharap, Yoshino San bisa merealisasikan idenya, bisa memperoleh dukungan (terutama dari pemerintah daerah), dan bisa menunjukkan kebanggan baru bagi Sulawesi sebagai penghasil coklat. Entah berapa lama ia akan bertahan, tapi gagasan seperti ini harus selalu dihidupkan…