Diwawancarai Sebagai Seorang Muslim Yang Tinggal di Jepang

Suasana Sholat Jum'at di Kyoto Muslim Association (foto: ishaq)

Suasana Sholat Jum’at di Kyoto Muslim Association (foto: ishaq)

Islam adalah agama dengan jumlah pemeluk sangat sedikit di Jepang.  Tetapi tentu saja saya tidak bisa menyebut bahwa Islam adalah agama minoritas.  Sebab secara sosiologi politik, minoritas itu adalah konsep tentang relasi kuasa, dan bukan sekedar angka statistik.

Artinya, jumlah yang kecil tidak berarti minoritas.  Begitu jumlah yang besar tidak serta-merta berarti mayoritas.  Konteks minoritas-minoritas adalah hubungan mempengaruhi berdasarkan mainstream idea tertentu.  Di Jepang, pengaruh aspek-aspek di luar jangkauan rasio (beyond rationality) masih cukup penting.  Menariknya, masyarakat Jepang masih dapat bertindak rasional dalam hidup bermasyarakat yang terus berubah.

Akhir-akhir ini, saya merasakan bahwa perhatian warga Jepang terhadap Islam mengalami kemajuan.  Awalnya adalah pada bulan Ramadhan tahun 2012 lalu.  Ada beberapa kabar yang menunjukkan makin pesatnya perhatian warga Jepang terhadap Islam.

Setiap Ramadhan, warga Muslim Kyoto mengadakan Ifthar Party, semacam acara buka puasa bersama.  Masing-masing Muslim dari setiap negara akan menggelar makanan khasnya masing-masing untuk dinikmati bersama.  Pada momen ini juga diundang warga Jepang non muslim yang berminat untuk mengenal lebih jauh Islam dan kehidupan warga muslim.

Pada Ifthar Party tahun 2012 lalu, untuk pertama kalinya Walikota Kyoto turut hadir.  Selain memberikan sambutan singkat, beliau juga menyempatkan diri untuk berkeliling mencicipi makanan dari berbagai negara.

Saat itu, saya juga mendengar kabar bahwa di Tokyo, Perdana Menteri Jepang juga untuk pertama kalinya mengundang para duta besar negara-negara Muslim pada suatu jamuan buka puasa bersama dan makan malam.

Sekitar tiga minggu lalu, sekelompok mahasiswa Doshisha Women College of Liberal Art (DWCLA) meminta saya menjadi nara sumber untuk kegiatan penulisan artikel mereka di koran berbahasa Jepang.  Mereka meminta saya membagikan berbagai kesan saya sebagai seorang Muslim yang hidup di Jepang.  Sepanjang proses wawancara yang berlangsung beberapa kali itu, saya merasakan kesempatan tidak saja membagikan pemahaman dasar tentang Islam tetapi juga belajar kembali tentang hal-hal mendasar tentang Islam.  Sebab, kebanyakan pertanyaan mereka berkaitan dengan hal-hal dasar yang kadang-kadang tidak pernah ditanyakan oleh seorang Muslim.

Dan ternyata menjadi seorang Muslim yang rasional adalah hal yang sudah hampir saya lupakan.  Hal itu saya sadari setelah banyak memperoleh pertanyaan “mengapa” dari Yui Tani, Tomoko Yoshikawa, dan kawan-kawannya.  Misalnya, mereka bertanya: “mengapa kalau shalat harus ruku dan sujud?”.  Ketika saya menjawab bahwa itulah ajaran Islam, mereka kembali bertanya: “mengapa Anda menerima ajaran seperti itu?”.  Wow…

Dan, dengan sedikit mengeles karena pemahaman rasional yang terbatas, saya hanya selalu memposisikan diri pada pemilahan antara ibadah dan muamallah. Bahwa kalau untuk ibadah, kita membutuhkan waktu panjang untuk mendiskusikannya, dan butuh waktu panjang untuk memahaminya.  Jadi, lebih baik kita berbicara pada tataran muamallah saja.

Nampaknya mereka cukup paham hal itu.  Apalagi, artikel yang akan mereka tulis sebenarnya lebih berfokus pada bagaimana kesan seorang Muslim yang hidup di Jepang, di tengah perbedaan nilai dan budaya.

Kesan saya sendiri terhadap wawancara ini adalah adanya minat yang makin tinggi dari warga Jepang terhadap Islam.  Mungkin saja minat ini berkaitan dengan pertimbangan ekonomi (ya, sekitar 1,6 milyar pemeluk Islam di seluruh dunia merupakan pasar yang sangat signifikan).  Akan tetapi, juga mungkin saja minat ini berkaitan dengan motif-motif pencarian spiritual dari individu-individu di Jepang.

Proses wawancara kemudian berlangsung intensif.  Mahasiswi-mahasiswi DWCLA ini kemudian sering mengirim email atau menaruh pesan inbox di facebook saya, berisi pertanyaan-pertanyaan individual. Misalnya: “sebagai seorang Muslim apa kendala yang paling sering dihadapi selama hidup di Jepang”.  Atau “jika ingin mengusulkan sesuatu, apa yang Anda usulkan bagi pemerintah atau warga Jepang”, dan sejenisnya.

Berkali-kali saya mengatakan bahwa meskipun saya adalah Muslim yang berasal dari negara dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia, harap agar pandangan ini dianggap sebagai pandangan pribadi.  Hal berbeda mungkin saja diberikan oleh Muslim lain, meskipun juga ia berasal dari negara yang sama.

Saya menunggu bagaimana respon warga Jepang jika saja wawancara tersebut betul-betul termuat di media massa. (*)