Apa harus malu beli @adidasNEOlabel ini?

Tadi siang saya ke toko olah raga yang tidak jauh dari apato, berniat untuk membeli sepatu.  Segera saja perhatian saya tersita pada sepatu merk Adidas, model NEO label yang konon keluaran baru. Ada dua hal yang menyita perhatian dengan merk ini: tampilannya yang “beda”, kasual, sederhana, tapi tetap eye catching; dan harganya yang sedang diskon serius.

Adidas NEO Label: sebenarnya ini koleksi musim panas 🙂

Saya lalu menelaah model ini beberapa lama, membandingkannya dengan Fila dan Asics yang berdekatan. Nampaknya, pilihan saya akan jatuh pada Adidas Neo Label berwarna hitam ini.

Juga faktor harga itulah yang paling berpengaruh sebenarnya. Sepatu ini dibandrol dengan harga JPY 6.195, tetapi didiskon hingga tinggal JPY 2.990. Ini adalah potongan harga yang serius kan? Dugaan saya, diskon ini terjadi karena musim panas segera berakhir beberapa minggu lagi. Neo Label adalah koleksi musim panas yang bahkan pernah diiklankan oleh David Beckham. Maka, tanpa perlu menimbang lama-lama, setelah memastikan ukurannya cocok, saya membeli sepatu ini.

Label harga seperti ini akan menggoda banyak orang.

Setiap orang tentu kenal Adidas. Merk ini begitu akrab dengan keseharian kita.  Raksasa industri perlengkapan olah raga (terutama sepatu dan kostum) asal Jerman ini begitu mendunia. Didirikan di Jerman tahun 1948 oleh Adolf Dassler (meskipun secara resmi terdaftar sebagai badan hukum bisnis pada 18 Agustus 1949), nama Adidas ternyata singkatan nama pendirinya: Adi dari Adolf dan Das dari Dassler.

Cikal bakal Adidas sebenarnya telah dimulai tahun 1924 ketika Gebruder Dassler Schuhfabrik atau pabrik sepatu Gebruder Dassler didirikan. Tahun 1948 perusahaan ini dibagi dua: yang satu dimiliki oleh Adolf Dassler (bernama Adidas) dan satu lagi oleh saudaranya Rudolf Dassler.

Di kemudian hari, Rudolf memproduksi merk PUMA yang menjadi pesaing Adidas sejak saat itu.  Waktu saya masih SMA (itu sekitar 20 tahun lalu…hehe), PUMA dan Adidas telah menjadi merk-merk papan atas, bersama-sama Power, Reebok, dan Nike yang muncul belakangan.  Konon, tahun 2008 lalu Adidas bahkan sempat mencatatkan diri sebagai perusahaan sepatu dan alat olah raga terbesar di Eropa dan kedua terbesar di dunia.

Saya lalu ingat, jelang perhelatan Olimpiade London 2012 sempat tersiar kabar bahwa Komite Olimpiade London (LOGOC) mengadakan penyelidikan atas tuduhan eksploitasi buruh murah oleh Adidas di Indonesia. Ada 9 pabrik yang memproduksi merk Adidas di Tangerang, tetapi mereka hanya diberi upah Rp. 5.000,- per jam, atau sekitar Rp. 1,53 juta per bulan, dengan jangka kerja mencapai 65 jam per minggu.

Tudingan yang dilontarkan oleh media online The Independent itu mengganggu komite olimpiade london, sebab Adidas adalah sponsor utama. Produk Adidas rancangan Stella McCartney menjadi pakaian olah raga resmi event ini.  Sementara itu, LOGOC menggunakan Ethical Trading Initiative (ETI) yang mewajibkan sponsor menggaji buruh yang memproduksi barang-barangnya digaji minimal 20% lebih besar dari upah minimun regional di setiap negara.

Entah bagaimana kelanjutan kasus itu. Yang sempat saya dengar, Adidas mengajukan pembelaan bahwa produk-produk mereka ditangani oleh pabrik-pabrik lokal dan manajemen Adidas tidak memiliki hubungan hukum apapun dengan buruh-buruh tersebut. Yup, jawaban standar perusahaan-perusahaan multi nasional yang mengeksploitasi buruh murah di negara berkembang.

Ketika tiba di rumah, tiba-tiba timbul di pikiran saya: “jangan-jangan sepatu yang baru saja saya beli ini adalah hasil kerja buruh-buruh Rp. 5.000,- per jam tersebut”. Maka, saya lalu membolak-balik bagian dalam sepatu ini untuk menemukan label atau petunjuk lokasi pembuatan. Dan, masya allah…. Made in Indonesia tertulis dengan jelas.

Saya tidak tahu, apakah seharusnya bangga karena label Indonesia ini saya temukan di super market di Kyoto. Ataukah harus sedih dan malu mengingat bahwa produk ini dihasilkan dengan (kemungkinan) eksploitasi buruh murah di tanah air.

Jauh-jauh membeli sepatu di Kyoto, dapatnya Made in Indonesia juga. Globalisasi, oh globalisi…