Terminal 1 Bandara Soetta, Sangat Konsisten

Suasana keberangkatan di Bandara Ngurah Rai, Denpasar (foto: Ishaq)

Suasana keberangkatan di Bandara Ngurah Rai, Denpasar (foto: Ishaq)

Kapan terakhir saya ke Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta? Wah, ternyata sudah lama juga. Kalau tidak salah ingat, mungkin pada tahun 2010-an, waktu saya masih kuliah di UI dan sering bolak-balik Makassar-Jakarta dengan penerbangan murah.

Ya, di Terminal 1 ini bermukim berbagai maskapai yang melayani rute domestik yang murah.  Sedangkan untuk ruten domestik yang premium (Garuda) mangkalnya di Terminal 2, bersama-sama dengan penerbangan internasional.

Waktu itu, setiap kali berada di Terminal 1, perasaan kelas ekonomi selalu menyelimuti kita. Mulai dari pemandangan di luar terminal hingga suasana di dalam Terminal hingga ke tempat menunggu boarding, situasinya benar-benar khas.  Kalau malam hari, banyak calon penumpang yang “berserakan” di pelataran karena kursi tunggu yang sangat tidak cukup. Apalagi, banyak orang yang jika hendak bepergian selalu “takut terlambat”.  Mereka hadir berjam-jam sebelum jadwal keberangkatan.

Selain itu, pemandangan calo-calo tiket, bercampur dengan calo-calo taksi atau kendaraan rental, penjual keliling “bisik-bisik” (sebab mereka menawarkan dagangan seperti jam atau parfum sambil bisik-bisik, takut ketahuan petugas bandara), termasuk anak-anak yang menawarkan jasa semir sepatu turut meramaikan suasana Terminal 1.  Pemandangan demikian tidak akan kita temui di Terminal 2.

Hari ini, (Kamis, 22 Agustus 2013) saya harus menemui seorang kolega untuk mendiskusikan urusan penting. Sebenarnya, bisa saja urusan ini dibicarakan via telepon.  Tetapi, kan jauh lebih baik jika bertemu langsung.  Keputusan bisa diambil setelah mendiskusikan berbagai alternatif.  Selain itu, sudah cukup lama saya tidak bertemu beliau.  Jadi saya putuskan saja ke Jakarta, pergi-pulang.

Jadi, saya berangat dari Makassar pada pukul 13.30 Waktu Makassar, tiba di Jakarta sekitar pukul 15.30 Waktu Jakarta. Lalu ke Plaza Indonesia di Jalan Thamrin.  Setelah ngobrol sekitar 3 jam, pukul 21.00 saya kembali ke Bandara Soekarno-Hatta. Penerbangan saya sebenarnya pukul 04.00. Tetapi kali ini saya memutuskan untuk “menghabiskan waktu” saja di Bandara. (Itulah mengapa ada cukup waktu menulis blog ini…hehehe).

Saya memilih menggunaan penerbangan murah saja. Itu berarti Terminal 1.  Jadilah saya bisa menelusuri terminal ini dan menilai-nilai kemajuan atau perubahan apa yang sudah terjadi setelah sekian tahun sejak 2010 itu.

Amazing! Terminal ini sungguh konsisten: hampir tidak ada perubahan berarti. Situasi bangunan masih tetap sama. Toilet yang baru diperbaiki, mesin pengering tangan tidak bekerja.  Salah satu WC yang coba saya masuki tempat toilet paper-nya kosong melompong.

Dan di pelataran terminal, keramaian masih seperti dulu.  Banyak calon penumpang berselonjor kaki di lantai bersama barang bawaan bejibun.  Bahkan ada yang menggelar tikar untuk tidur-tiduran (atau tidur beneran?).  Penjual “bisik-bisik”, tukang semir sepatu, calo-calo tiket, dan calo-calo taksi atau mobil rental.  Semua masih seperti dulu.(*)

Catatan:

Kali ini saya tinggal agak lama di bandara, dan juga hingga dini hari. Entah baru kali ini ada atau sudah sejak lama, pada sekitar pukul 01.00 ternyata banyak tukang pijit yang menawarkan jasa memberikan pijatan bagi calon penumpang yang kelelahan menunggu di pelataran. Maka, jadilah pelataran depan terminal 1 itu menjadi tempat pijat massal…