Tragedi Mesir dan Kisah Nyata Seorang “Tom Hanks” dari Palestina

tom hank the terminal

Victor Navorski (diperankan Tom Hanks) tidur di bangku terminal di JFK Airport, New York (sumber: internet)

Pada tahun 2004, ada sebuah film drama komedi menarik berjudul The Terminal, disutradarai si maestro imajinasi Steven Spielberg.  Film ini mengisahkan tokoh rekaan bernama Viktor Navorski (diperankan aktor kawakan Tom Hanks) yang tiba-tiba saja “kehilangan negara”.

Navorski adalah warga negara Krakozhia (tentu saja ini juga negara rekaan), terletak di wilayah perbatasan Eropa Timur dan Asia Tengah. Negara ini sedang mengalami konflik internal perebutan kekuasaan.  Ketika Navorski sedang dalam perjalanan belasan jam di udara menuju New York, Amerika Serikat, di tanah airnya eskalasi konflik meningkat menjadi perang saudara hebat.  Dampaknya, pemerintah AS menyatakan tidak mengakui lagi kedaulatan Krakozhia.

Pada saat pesawat yang ditumpangi Navorski mendarat di Bandara Internasional John F. Kennedy, New York, masalah dimulai.  Navorski tidak diperbolehkan melewati imigrasi, karena ia memegang passpor negara yang tidak diakui (unrecognized).  Dia juga tidak bisa meninggalkan AS karena (lagi-lagi) ia memegang paspor negara yang “secara hukum internasional dianggap tidak ada”.

Maka, terjebaklah Navorski di ruang penyangga. Ia tidak bisa menuju pintu keluar, karena itu berarti memasuki wilayah AS.  Untuk itu, ia butuh paspor yang diakui.  Ia juga tidak bisa menuju pintu keberangkatan, sebab selain butuh tiket, ia juga butuh paspor yang diakui.  Jadilah Navorski terkurung di area itu selama sembilan bulan!  Di penghujung film, Navorski kemudian berhasil meninggalkan AS dan kembali ke tanah airnya setelah perang saudara berakhir, tertib sipil tercipta, dan pemerintah AS memulihkan pengakuan kedaulatan terhadap Krakozhia.

Seharusnya film ini dapat menjadi bahan diskusi hukum internasional dan hubungan internasional yang menarik.  Sayangnya, kisah di atas adalah latar belakangnya saja.  Keseluruhan film itu mengisahkan drama khas Hollywood, tentang percintaan, karakter baik vs. karakter jahat, semangat, dan semacamnya.

Meskipun demikian, pada salah satu kuliah di Jurusan Hubungan Internasional Unhas, saya mendorong mahasiswa untuk menonton film itu dan mendiskusikan dengan teman-teman.  Mungkin saya akan mengajak mahasiswa nonton bersama dan mendiskusikannya kalau saya kembali nanti. Terutama setelah hari ini saya menemukan kisah yang sangat mirip dengan kisah Navorski.

Dan ini adalah kisah nyata…

Saya dipercaya mengorganisir konferensi internasional tentang Resolusi Konflik dan Identitas di Graduate School of Global Studies, Doshisha University, Kyoto.  Sebanyak 14 pembicara ahli dari 7 negara diundang berbicara dan berdiskusi.  Salah seorang pembicara adalah Associate Professor Waleed Al Modallal, seorang ahli ilmu politik dari University of Gaza, Palestina.

Professor Waleed (tengah) berbincang bersama rekan dari Palestina, Iyaas Salim, dan nara sumber lain dari Zambia, Prof. Jotham C. Momba (foto: ishaq)

Professor Waleed (tengah) berbincang bersama rekan dari Palestina, Iyaas Salim, dan nara sumber lain dari Zambia, Prof. Jotham C. Momba (foto: ishaq)

Palestina terdiri atas wilayah Jerusallem dan Tepi Barat (yang dikendalikan oleh Israel) dan wilayah Gaza yang dikendalikan oleh Hamas, organisasi pergerakan yang dicap sebagai teroris oleh pemerintah AS.  Akses masuk dan keluar Gaza adalah melalui Kairo, Mesir.  Bandara internasional Kairo merupakan pintu internasional satu-satunya bagi warga Palestina yang bermukim di Gaza.

Meskipun konferensi internasional di Doshisha berlangsung pada tanggal 5 dan 6 Juli, namun Professor Waleed meninggalkan Gaza sejak tanggal 30 Juni.  Selain pertimbangan waktu tempuh Kairo – Kyoto yang membutuhkan waktu belasan jam, juga ada proses pemeriksaan keamanan yang ketat bagi warga Palestina di bandara Kairo.  Betul saja, setelah sempat tertahan 2 hari di Bandara Kairo, Professor Waleed terbang ke Jepang menggunakan Emirate Airline pada tanggal 2 Juli.

Rupanya, eskalasi politik di Kairo dan Mesir umumnya meningkat.  Puncak krisis terjadi pada tanggal 3 Juli, ketika militer Mesir melakukan kudeta terhadap Presiden Muhammad Mursi, yang menjabat melalui pemilu demokratis setahun sebelumnya.  Tentara Mesir mengambil alih kendala negara, menyerahkan pimpinan interim pemerintahan kepada Ketua Mahkamah Agung, dan mengambil tindakan militer terhadap “pihak-pihak yang mendukung mantan Presiden Mursi”.

Professor Waleed tiba di Kyoto dua hari menjelang konferensi berlangsung.  Menurut rencana yang kami siapkan, beliau seharusnya meninggalkan Kyoto, Jepang menuju Gaza (via Kairo tentu saja)  pada Minggu, 7 Juli, yaitu sehari setelah konferensi usai.

Namun hari ini (Senin, 8 Juli 2013), saya bertemu Professor Waleed di kantin kampus.  Wajahnya resah dan nampak agak sedih.  Awalnya, saya pikir ada masalah dengan penerbangan yang seharusnya ia gunakan, sehingga ia harus tinggal lebih lama di Kyoto.  Namun, saat berbicara dengannya, saya mengetahui bahwa: “situasi di Kairo memburuk.  Saya tidak bisa pulang ke Gaza”.

Saya bertanya mengapa?  Ia menjelaskan: “saat ini di bandara Kairo terdapat ratusan warga Palestina yang hendak menuju Gaza tidak diperkenankan meninggalkan bandara oleh militer Mesir”, ujarnya.  Sejak dua hari lalu, ia mendapat telepon dari istrinya di Gaza, memintanya untuk tidak kembali dulu sebelum kondisi stabil.

Professor Waleed menjelaskan kondisi seperti ini sering terjadi jika ketegangan di Timur Tengah meningkat.  Tidak jarang, orang-orang Palestina yang hendak ke Gaza akan tertahan di Bandara Kairo berhari-hari, bahkan berbulan-bulan.  Itulah sebabnya diminta untuk tinggal dulu di Jepang beberapa lama, atau terbang ke Inggris untuk sementara waktu.  Prof. Waleed adalah alumni Stanford University, dan saat ini dia mempunyai seorang anak berkewarganegaraan Inggris yang sedang mengambil studi doktor di London.

Mendengar cerita Professor Waleed, saya tiba-tiba teringat kisah Victor Navorski di film The Terminal itu.  Ketika hal itu saya ceritakan kepada Professor Waleed, ia nampak sedikit terhibur. “Semoga ada yang mau memfilmkan kisah saya ini”, katanya sambil tertawa.

Dalam waktu 1 atau 2 hari ke depan, Ramadhan akan menjelang.  Saat seperti ini, kebanyakan warga Muslim di Indonesia akan merindukan berada di tengah keluarga.  Rupanya, hal yang sama juga menjadi tradisi di Palestina.  Itulah mengapa Professor Waleed tampak sedih.  Saya menemaninya beberapa lama, sambil menunggu rekan dari Palestina lainnya, Iyaas Salim, mencarikan solusi untuknya.  Professor Waleed saat ini butuh tempat akomodasi, sebab hotel yang ia gunakan hanya valid hingga kemarin.  Semalam ia menginap di apartemen kecil milik seorang warga asal Suriah, dan ia harus pindah tempat lagi malam ini.  Masalahnya, ia belum tahu akan menginap dimana malam nanti. (*)