Bekerja di Perusahaan Jepang, Diharapkan Seumur Hidup

Perusahaan-perusahaan Jepang menganggap tenaga kerjanya (human resource) sebagai asset paling penting perusahaan. Itu bukan hanya slogan, tetapi dibuktikan dalam praktek sehari-hari.

Kemarin saya berbincang-bicang dengan seorang teman di kampus, namanya Kazuto Nakamura. Dia mahasiswa master tahun kedua (istilahnya M2) di Graduate School of Global Studies, Doshisha University, yang meneliti tentang Azerbaijan. Saya bertanya, apa rencananya setelah selesai kuliah. Dengan santai ia menjawab, bekerja.

Lalu, ia bercerita bahwa ia telah melewati proses seleksi pada suatu perusahaan kimia (perusahaan itu baru saja membuka perwakilan di Kalimantan, katanya).  Setelah selesai ujian thesis pada Maret tahun depan, ia akan mulai bekerja pada April.  Artinya, masa tunggunya setelah kuliah tidak sampai sebulan.

Saya bertanya, apakah kamu bisa bekerja secepat itu karena kamu bergelar Master? Dia bilang, perusahaan Jepang lebih senang merekrut pegawai dengan tingkat pendidikan sekolah menengah, sekolah kejuruan, atau sarjana. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin terbatas pilihan kerja baginya. Umumnya, kalau seseorang memutuskan untuk melanjutkan ke pendidikan doktoral berarti dia memilih karir untuk menjadi peneliti (di perguruan tinggi atau lembaga riset swasta) atau menjadi dosen.

Lelaki berbaju biru ini sangat humble, penampilan sederhana, tidak berbeda dengan pegawai lainnya. Tetapi, di perusahaan ini, dia adalah CEO tertinggi.

Saya jadi ingat special lecture sekitar bulan Mei 2012. Juga pada suatu kunjungan ke beberapa perusahaan Jepang di bulan yang sama. Apa yang dikatakan Nakamura San, persis seperti apa yang diungkapkan oleh Agola Sensei yang memberi lecture ketika itu. Dan persis juga dengan apa yang saya lihat di Kyowa Enterprise, perusahaan pemasok spare part untuk Mitsubishi, Kawasaki, dan Yamaha, yang saya kunjungi bersama beberapa rekan.

Perusahaan Jepang memandang pegawai dan pekerjanya sebagai asset, dalam arti sesungguhnya. Saat wawancara kerja, aspek pengetahuan dan skill adalah penilaian nomor kesekian. Prioritas selalu diberikan pada aspek-aspek psikologis, seperti integritas, loyalitas, komitmen, kerjasama, dan lain-lain.  Apapun latar belakang seorang pekerja baru, ia akan melewati serangkaian proses pelatihan dan peningkatan skill sebelum diberi tanggung jawab menangani suatu pekerjaan.

Perusahaan-perusahaan mempersiapkan pekerjanya untuk tinggal lama, bahkan jika mungkin seumur hidup. Itulah sebabnya, proses seleksi dilakukan ketat. Dalam hal pekerjaan, perusahaan betul-betul memperhatikan kebutuhan dan kepentingan karyawan, memastikan ia tidak bosan dan bersedia tinggal lama. Bagaimanapun, biaya besar untuk melatih dan mempersiapkan karyawan menjadi tenaga skillful adalah asset yang harus dijaga.

Dengan sistem seperti ini, maka tentu perusahaan lebih menyukai tenaga kerja yang, ibarat bangunan, “memiliki fondasi kuat, tetapi belum ada bangunan apa-apa”. Karena fondasinya kuat (analogi untuk karekter mental dan personality), maka ada peluang membuat bangunan kokoh dan tinggi (analogi untuk: skill dan keahlian handal). Ini menjelaskan mengapa para sarjana jauh lebih disukai dibandingkan para master apalagi doktor.

Sistem promosi di kebanyakan perusahaan menggunakan metode senioritas.  Asumsinya, seseorang yang sudah lama berada disuatu perusahaan berarti sudah menguasai sejumlah pekerjaan. Ia sudah tahu kelebihan dan kekurangan dari jenis-jenis pekerjaan, apa yang harus ditingkatkan, dan bagaimana gagasan untuk memperbaikinya.

Sehingga, jarang sekali ada anak-anak muda bergelar Ph.D bidang manajemen dari perguruan tinggi ternama yang ujuk-ujuk direkrut menjadi manajer di suatu perusahaan Jepang.  Seorang manajer adalah seseorang yang “tahu bekerja”, bukan yang “tahu bagaimana bekerja”. Mungkin, itulah sebabnya semakin tinggi jabatan seseorang, semakin lama dia menghabiskan waktu di kantor untuk memastikan semua pekerjaan selesai.

Saya kemudian menduga-duga, jangan-jangan inilah salah satu kunci kekuatan sistem manajemen bisnis Jepang. Sejak Perang Dunia II berakhir, dunia sudah beberapa kali melewati krisis ekonomi serius. Kebanyakan perusahaan-perusahaan Jepang berhasil melewati masa-masa krisis, pada saat kebanyakan perusahaan di Amerika dan Eropa megap-megap untuk waktu lama sampai kemudian diselamatkan atau dibiarkan mati.

Agola Sensei bercerita dalam kuliahnya (sayangnya, belum bisa saya konfirmasi dengan data aktual) tentang salah satu perusahaan besar di Jepang yang sangat terkenal.  Sekali waktu, perusahaan mengalami krisis serius akibat ekonomi lesu dan penjualan menurun drastis.  CEO perusahaan menemui Presiden Komisaris yang sedang sakit. Sang CEO menyampaikan kondisi aktual perusahaan, sekaligus usulan mengatasi keadaan: “memberhentikan ratusan karyawan, untuk mengurangi beban perusahaan terhadap gaji dan tunjangan”.

Sang Presiden Komisaris marah.  Ia berkata: “bagaimana kita bisa memproduksi barang-barang berkualitas jika pegawai-pegawai yang sudah begitu ahli kita lepaskan?”, katanya.  Lalu, sang Presiden Komisaris berkata kepada CEO, “kembalilah kepada pegawai, kumpulkan mereka, bicarakan kondisi perusahaan, dan dengarkan apa saran mereka. Perusahaan ini adalah rumah dan keluarga bagi mereka. Mereka tahu apa yang terbaik”.

Dengan perasaan malu, sang CEO melakukan saran itu. Tanpa banyak proses, seluruh pegawai secara suka rela sepakat agar gaji mereka dipotong dan jam kerja mereka ditambah hingga perusahaan kembali normal. Di tengah badai krisis ekonomi, perusahaan itu tetap bertahan.

Saya jadi ingat, bagaimana cara perusahaan-perusahaan Amerika mengatasi krisis.  Pada 2009, perusahaan asuransi terkenal AIG terancam bangkrut akibat krisis ekonomi.  Manajemen AIG “merengek-rengek” kepada pemerintah, meminta dana talangan demi menyelamatkan perusahaan yang menyangkut hajat hidup orang banyak itu.

Betul, pemerintah AS menyuntik US$ 170 Juta untuk menyelamatkan perusahaan itu.  Ironisnya, tidak sampai sebulan setelah itu, para eksekutif AIG membagi-bagi bonus senilai total US$ 165 Juta, sebagai bagian dari upaya memotivasi kinerja!

Bagi saya yang awam, kisah ini cukup memberi penjelasan bagaimana kapitalisme di Amerika dan Jepang bekerja: “kapitalisme berbasis profit” vs “kapitalisme berbasis manusia”. Itu istilah saya… (*)