Diplomasi Publik Israel: Dapatkah Membohongi Realitas?

Delegasi Israel (paling kiri dan paling kanan). Yang kacamata ini adalah Sekretaris Kabinet di Kantor Perdana Menteri.

Hari ini, kampus kami kedatangan delegasi dari Palestina dan Israel dalam rangka “Young Leader session”, suatu program yang dilaksanakan oleh Kementerian Luar Negeri Jepang sejak 1997.  Program ini, formalnya, bertujuan untuk meningkatkan saling pengertian dan memicu kepercayaan baru dalam mengatasi berbagai konflik dan perbedaan.

Ada 5 orang hadir pada session terbatas yang diadakan selama sekitar 2 jam. Dua orang dari Israel (salah seorang adalah The Cabinet Secretary, begitu tertulis di kartu namanya), dan tiga orang lainnya dari Palestina. Mereka tidak berasal dari wakil pemerintah.  Bahkan, yang seorang (satu-satunya wanita dan tidak berjilbab) adalah orang Palestina yang sedang belajar Ilmu Politik di Oxford, Inggris.

Seperti biasa, diskusi tentang Israel-Palestina cukup menarik.  Mereka berbicara dengan perspektif yang sangat berbeda, dan sesekali terjadi debat antara mereka.  Wakil Palestina itu begitu mengkritik dominasi dan kecenderungan Israel menjalankan peran sebagai polisi kawasan, kepemilikan nuklir, keengganan meratifikasi Nuclear Proliferation Treaty (NPT), dan berbagai isu lain. Sementara delegasi Israel begitu bangga dengan label sebagai negara paling demokratis di Timur Tengah.

Untuk isu Syiria, misalnya, wakil-wakil Palestina menganggap itu masalah internal dan seharusnya diselesaikan internal, sementara wakil Israel bersikukuh bahwa harus ada intervensi internasional untuk menyelesaikan masalah itu. Mereka juga berbicara tentang isu “rejim tidak demokratis yang bersenjata” adalah sangat berbahaya.

Ketika sessi tanya jawab, saya menyempatkan diri berargumen, meskipun tidak cukup paham masalah ini. Saya katakan: “Bagi kebanyakan orang awam di Indonesia yang mayoritas muslim, akar masalah di Timur Tengah adalah Israel.  Saya juga adalah salah satunya.  Kebijakan Israel peace for land dan land for peace adalah kebijakan yang telah memicu agressifitas negara. Apakah Anda mengetahui hal ini?  Dan apakah Anda tahu bagaimana dengan di negara-negara muslim lainnya? Dan bagaimana respon Anda?”

Mereka berdua nampak tercengang, mungkin tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. Namun dengan (anggapan saya) lips service mereka berusaha menjawab dengan berapi-api, membantah anggapan demikian.  Tetapi, tidak disangka-sangka, jawaban mereka justru dibantah langsung oleh wakil dari Palestina. Ia nampaknya senang mengetahui bahwa ada orang yang sepaham dengan mereka, dan memanfaatkan waktu untuk berbicara tentang realitas aneksasi, pengambilalihan wilayah, kekerasan, pembunuhan di wilayah konflik.

Ketika diskusi selesai, kedua delegasi Israel itu datang dan berkata: “berkunjunglah ke Israel untuk mengetahui realitas yang sebenarnya, agar Anda tidak hanya mengetahui realitas dari media dan opini yang mungkin saja bias”. Maka, kita tukaran kartu nama dan foto-foto…

Beberapa jam setelahnya, saya bertemu dengan seorang rekan Palestina, mahasiswa Ph.D juga, tetapi ia tadi tidak hadir. Saya bertanya, mengapa tadi tidak hadir. Ia berkata, itu forum propaganda Israel. Mereka ingin menampilkan wajah lainnya yang palsu kepada dunia.  Saya tidak ingin terlibat perdebatan di forum, karena saya menghargai kampus kita yang mengundang mereka.

Lalu, kawan ini, Iyaas Salim, bercerita lebih banyak lagi tentang wajah Israel di Palestine. Ia bukan berbicara dari buku atau media, tetapi dari pengalamannya sebagai orang Palestina. Saya berpikir, jika benar Israel sedang menjalankan diplomasi publik, dapatkah negara itu membohongi realitas? Bukankah, dalam diplomasi publik modern, ada ungkapan: “if you want to change the image, then change the reality”? (*)