Respon Aparat Pemerintah Yang Dimarahi Warga

Dalam tata urutan pemerintahan di Jepang, ada istilah -ku, yaitu level pemerintahan di bawah -shi (kota). Saya tinggal di Sakyo-ku, Kyoto-shi. Kalau di Indonesia, -ku ini kira-kira selevel dengan kecamatan, meskipun kalau dilihat dari fungsi pelayanan publik, lebih luas dibanding kecamatan. Dalam bahasa Inggris, -ku diterjemahkan sebagai “ward“.

Pada saat istri dan anak-anak datang ke Kyoto, tentu saya harus berurusan dengan kantor -ku (kuyakusho) untuk memperoleh Alien Registration Card, mendaftar National Health Insurance, mendaftar sekolah anak yang mau masuk elementary school, dan juga mendaftar bayi-bayi kami untuk memperoleh layanan kesehatan dan tunjangan subsidi bulanan.

Ow, ya, meskipun kita adalah orang asing, namun undang-undang Jepang memberi hak yang sama jika kita tinggal dalam waktu lama. Jadi, ketiga anak saya juga memperoleh tunjangan dari pemerintah, diberikan subsidi untuk belanja perlengkapan sekolah, dan juga pelayanan kesehatan.

Semua urusan itu saya lakukan di Sakyo-kuyakusho, pada satu kantor meskipun loket yang berbeda-beda. Urusan registrasi penduduk dan asuransi di lantai 2, urusan tunjangan subsidi anak-anak di lantai 2, dan urusan pelayanan kesehatan anak-anak di lantai 3.

Ketika saya tiba di lantai 3, di salah satu meja pelayanan ada seorang ibu muda yang sangat jelas sedang marah-marah. Ia berbicara dengan suara yang terdengar lebih keras dari pembicaraan biasa, dengan intonasi geram. Saya kira, ketika sedang marah-marah, bahasa apapun yang digunakan kita seharusnya bisa tahu bahwa itu adalah marah-marah, kan?

Saya belum terlalu paham bahasa Jepang. Tetapi dari sebagian kata-kata yang sempat saya mengerti, nampaknya ibu itu marah tentang suatu surat pemberitahuan yang terlambat ia terima, sehingga ia tidak dapat mengikuti sesuatu. Saya bertanya kepada kawan yang menemani saya, yang sangat mengerti bahasa Jepang. Kawan itu bilang, “Ibu itu menganggap pegawai-pegawai di sini tidak bekerja maksimal”.

Yang menarik dari adegan marah-marah itu adalah apa yang terlihat di hadapan ibu itu: dua orang pegawai di bagian pelayanan kesehatan ini. Dua-duanya adalah pria.  Yang seorang masih sangat muda, berusia antara  20 atau 30-an tahun.  Seorang lagi separuh baya, mungkin usianya sekitar 50-an tahun.

Kedua pegawai duduk terdiam di hadapan ibu itu, dengan kepala menunduk sangat dalam, dan mata menatap lantai tanpa berani melihat ke wajah ibu itu. Ya, keduanya nampak sangat menyesal telah melakukan kesalahan yang membuat ibu ini mengalami kekecewaan terhadap layanan publik.

Tidak ada kata-kata bantahan atau kalimat-kalimat debat yang diucapkan oleh kedua pegawai itu, selain kata-kata “hai…hai…” (iya…iya…) untuk membenarkan apa yang dikatakan ibu itu. Adegan marah dan kecewa itu berlangsung selama kira-kira 10 menit, dan selama itu pula kedua pegawai tidak bergerak sedikitpun.

Setelah selesai mengungkapkan kekecewaannya, ibu itu pergi dari situ.  Saat ia akan berdiri meninggalkan kursinya, kedua pegawai itu membungkukkan badan lebih dalam lagi, untuk menunjukkan penyesalan mendalam.

Awalnya, saya berpikir kedua pegawai ini adalah staf di bagian yang khusus menerima komplain atau semacamnya. Tetapi, saya benar-benar terperangah ketika belakangan saya tahu, bahwa lelaki separuh baya yang dengan sabar mendengarkan kekecewaan ibu muda itu, ternyata adalah kepala kantor disini. Dia adalah pimpinan tertinggi di seksi pelayanan kesehatan.

PS: tentu saja tidak ada foto untuk adegan ini, pastilah tidak sopan memotret orang yang sedang marah-marah kan…