Wisata Kampus, Hanya Ada di Doshisha, Kyoto…

Seorang student volunteer (memegang bendera Doshisha) sedang memberi penjelasan kepada peserta tour kampus. (Photo: Ishaq)

Doshisha University adalah universitas swasta papan atas di Jepang.  Berbeda dengan universitas lainnya, kampus ini memiliki sejarah panjang.  Berdiri pada tahun 1875 oleh Joseph Hardy Neeshima yang baru kembali dari Amerika membawa gagasan baru tentang kebebasan berpikir.  Saat ini jaringan pendidikan Doshisha meliputi jenjang taman kanak-kanak hingga program doktoral.

Ada beberapa kampus Doshisha.  Kampus yang terletak di Kyotanabe, Nara (sekitar 40 menit dengan kereta dari Kyoto City) mencakup wilayah sangat luas, sampai-sampai areal itu disebut Doshisha City.  Sementara kampus di Kyoto City terletak di perempatan Jalan Imadegawa dan Jalan Karasuma.  Di kampus ini (dimana Global School of Graduate Studies tempat saya belajar berlokasi), penuh bangunan bersejarah peninggalan abad ke-19 yang tetap dipergunakan, namun tidak sedikitpun meninggalkan arsitek lama.

Papan pengumuman dipajang pada lokasi yang tidak mengganggu gedung Kampus. (Photo: Ishaq)

Kampus Doshisha di Imadegawa ini juga dikelilingi oleh beberapa kuil.  Hanya beberapa puluh meter di sebelah utara terletak Kyoto Imperial Palace, kawasan Istana Kekaisaran saat Kyoto masih menjadi ibu kota Jepang.  Di sebelah utara, terdapat Sokoku-ji Temple, salah satu kuil Budha yang berdiri sejak tahun 1382.  Kawasan yang sangat asri, teduh, dan menyenangkan. (Dari jendela ruangan saya di lantai 2, kita bisa menyaksikan kuil ini dan pemandangan indah disekitarnya).

Arsitektur peninggalan Abad ke-19 yang tersebar di lingkungan Kampus Doshisha di Imadegawa. (Photo: Ishaq)

Meskipun bangunan-bangunan adalah peninggalan abad ke-19, namun Doshisha adalah kampus yang sama modernnya dengan kampus-kampus Jepang dan kampus-kampus di negara maju.  Misalnya, akses masuk ke gedung-gedung utama menggunakan kunci elektronik berkode (setiap mahasiswa memiliki nomor kode khusus yang harus diinput pada panel di dinding). Jadi, saat di luar jam kantor, setiap orang yang masuk dan keluar tercatat secara eektronik.

Setiap hari, biasanya yang ramai pada akhir pekan, banyak rombongan wisatawan datang berkunjung.  Mereka dipandu oleh student volunteer yang dikoordinasikan oleh International Office, memberi penjelasan tentang berbagai hal, terutama sejarah dan arsitektur bangunan.  Tentu saja, ada banyak hal yang membuat rombongan ini datang.  Tapi nampaknya, promosi Doshisha-lah yang paling berperan.  Internasional Office rajin sekali menyebarkan informasi tentang hal ini ke berbagai institusi, baik di dalam negeri Jepang maupun di luar negeri.

Mahasiswa program Master, Kanat Abdurrahmanov dari Kyrgiztan. (Photo: Ishaq)

Di Indonesia, mungkin kita tidak menemukan hal seperti ini.  Soalnya, bangunan kampus dari jaman Belanda umumnya dirombak atau diabaikan.  Misalnya, di Jakarta kita mengenal STOVIA adalah sekolah kedokteran yang menjadi cikal-bakal Universitas Indonesia, dan menjadi bagian penting dari kelahiran Budi Utomo pada 1908.  Tetapi, dimana sekarang Gedung Stovia itu?  Hanya sedikit orang yang tahu bangunan tua yang (nyaris) terabaikan di sekitar Senen tersebut.

Sementara kampus Universitas Indonesia di Salemba saat ini begitu sesak dan semrawut.  Padahal, gedung Fakultas Kedokteran di kampus itu adalah peninggalan Belanda yang tentu saja mempunyai makna sejarah.

Di Makassar, kita sudah hampir pasti akan kehilangan Kampus Baraya di Kandea, tempat pertama kalinya Universitas Hasanuddin berdiri.  Setelah kampus Tamalanrea dibangun, kampus Baraya tinggal menunggu penawar tertinggi yang kemungkinan akan menghancurkan bangunan itu dan menjadikannya pusat belanja atau kawasan perumahan. Ini sebenarnya aneh.  Dengan luasnya tanah di Makassar, kenapa orang tidak berpikir menjaga sejarah? (*)