Masa Lalu Tuhan
Pembukaan Konsulat Australia di Makassar
Kebetulan? Kebetulan Dari Hongkong
Strategi Legal Mencuri Hasil Pemilu Presiden
Bunda Nadjemiah, Wanita Hebat dari Timur
Jalan Rusak, Rasa Malu, dan Kearifan Walikota Ilham
Selasa, 21 Januari 2014, ada pernyataan “menyakitkan” dari Walikota Makassar, terbaca di Tribun Timur Online (di link ini). Menyikapi banyaknya jalan yang rusak di Kota Makassar, Walikota berkata: “itu hal yang wajar”. Ya, wajar karena sekarang musim hujan dan wajar karena tidak ada anggaran untuk perbaikan. Jadi, jalan rusak itu wajar, kata Walikota Ilham.
Apakah ketika mencalonkan diri periode kedua, IASMO ada menuliskan target jumlah “jalan rusak” yang akan mereka capai hingga akhir periodenya? Tentu saja tidak ada. Justru, yang ada pada dokumen visi-misi IASMO adalah mewujudkan Makassar sebagai “kota bermartabat” (hal. 7). Juga ada program prioritas: “pembangunan infrastruktur, diantaranya adalah pembangunan dan pemeliharaan jalan, drainase, dst…” (hal. 9).
Kalau Jadi Presiden, Hati-hatilah Berpidato
Bagi orang Indonesia yang tinggal di Jepang, tempe dan Rustono adalah dua kata yang tidak bisa dipisahkan. Ya, dapat dikatakan 100% kebutuhan tempe di Jepang dipasok oleh Rustono, seorang lelaki asal Grobogan, Jawa Tengah yang memiliki pabrik tempe terpopuler (mungkin satu-satunya, dan juga yang pertama) di Shiga, Jepang.
Minggu, 19 Januari 2013, saya dan rekan-rekan Kyoto Muslim Indonesia (KMI) berkesempatan menemui Rustono, berkenalan, dan ngobrol-ngobrol (tepatnya mendengarkan dia ngobrol) tentang pengalamannya mengawali bisnis tempe di Jepang (saya akan menulis khusus tentang ini di postingan lain). Pada kesempatan itu, ada satu kalimat (semacam keluhan kecil) yang sempat ia lontarkan: “soal dampak buruk kata-kata “bangsa tempe” yang pernah dilontarkan Bung Karno.
Pacar Gelap Presiden, Adakah Batas Privacy Untuknya?
Presiden mempunyai pacar gelap, atau marilah kita terang-terangan saja menyebutnya: berselingkuh. Itu bukan perbuatan baik. Selain cermin ketidakjujuran, juga pertanda penipuan. Begitu buruknya stigma sosial terhadap selingkuh, sampai-sampai di banyak daerah di Indonesia sebutan bagi seorang wanita yang menjadi pasangan selingkuh adalah “wanita piaraan”. Keramaian dan kerumitan akan meningkat dengan fakta bahwa yang berselingkuh adalah seorang presiden, sebab debatnya bukan saja pada tataran etika dan moral, tetapi akan menjangkau wilayah hukum dan politik.
Sang presiden marah besar ketika perselingkuhannya diplublikasikan massif oleh media massa. Ia merasa bahwa urusan asmara dan percintaannya, urusan hati dan perasaannya, adalah wilayah privat yang tidak boleh dimasuki dan dicampuri siapapun tanpa seijin dirinya, bahkan negara sekalipun. Ya, presiden juga manusia. Begitu kira-kira di pikirannya. Sementara wanita kekasih gelap sang presiden mengambil langkah hukum, menggugat majalah yang menurunkan laporan tujuh halaman kehidupan pribadinya bersama presiden. Sementara sang presiden, sebagaimana halnya politisi yang kelebihan timbangan di kepalanya, mengatakan akan pikir-pikir dulu.
