Jalan Rusak, Rasa Malu, dan Kearifan Walikota Ilham

Selasa, 21 Januari 2014, ada pernyataan “menyakitkan” dari Walikota Makassar, terbaca di Tribun Timur Online (di link ini). Menyikapi banyaknya jalan yang rusak di Kota Makassar, Walikota berkata: “itu hal yang wajar”. Ya, wajar karena sekarang musim hujan dan wajar karena tidak ada anggaran untuk perbaikan. Jadi, jalan rusak itu wajar, kata Walikota Ilham.

Apakah ketika mencalonkan diri periode kedua, IASMO ada menuliskan target jumlah “jalan rusak” yang akan mereka capai hingga akhir periodenya? Tentu saja tidak ada. Justru, yang ada pada dokumen visi-misi IASMO adalah mewujudkan Makassar sebagai “kota bermartabat” (hal. 7). Juga ada program prioritas: “pembangunan infrastruktur, diantaranya adalah pembangunan dan pemeliharaan jalan, drainase, dst…” (hal. 9).

Kita mungkin pernah mendengar kata-kata bijak: “lakukan apa yang kamu ingin orang lain lakukan pada dirimu”. Sayangnya, di Indoneia kata-kata itu dihafal oleh banyak orang, tetapi hampir tidak ada yang mempraktekkannya.

Sementara di Jepang, prinsip ini telah menjadi semacam heartware yang terinstal di diri setiap orang. Seorang pejabat tidak perlu disuruh-suruh mundur. Jika ada perkataan atau perilakunya yang “melukai hati warga”, ia akan malu dan bertanggung jawab, yang jika dipadukan akan bermuara pada tindakan “mengundurkan diri”.

Pada 11 Maret 2011, ketika tsunami melanda Jepang, reaktor nuklir Fukushima rusak. Presiden Tokyo Electric Power Company (TEPCO), yang pengelola reaktor Fukushima, adalah seorang lelaki berusia 66 tahun bernama Masataka Shimitzu. Ia berjanji akan “memulihkan keadaan agar warga bisa secepatnya kembali ke rumah mereka”.

Masataka Shimizu yang berlutut diliput luas oleh media massa. (sumber: theautomaticearth.blogspot.jp)

Pada Mei 2011, Shimitzu berkunjung ke Fukushima. Ia mendapati keadaan masih jauh dari pulih. Saat bertemu warga, seorang wanita tua berteriak: “Kamu berbohong! Kamu bilang akan segera memulihkan keadaan. Tetapi ini sudah 2 bulan. Saya kehilangan suami dan anak, dan saya masih di pengungsian!”. Sontak, Shimizu melakukan zarei (berlutut dan membungkuk), memohon maaf sedalam-dalamnya dihadapan ibu itu. Sepuluh hari kemudian, lelaki yang memimpin perusahaan 40 ribu karyawan dan aset 1.500 trilyun itu, mengundurkan diri karena malu. Ia malu, bukan karena dicaci oleh seorang ibu tua, tetapi karena gagal memenuhi janji.

Pada bulan September tahun yang sama, Menteri Perdagangan Yoshio Hachiro, juga ke Fukushima. Sudah enam bulan setelah bencana, dan keadaan belum sepenuhnya pulih. Dalam wawancara media ketika perjalanan pulang, Hachiro berkata sambil bercanda kepada wartawan: “Wah, seperti kota hantu ya… Awas, nanti kalian saya tulari radiasi”.

Esok harinya, ia mendapat kritikan tajam. Masyarakat menudingnya tidak punya perasaan, menjadikan penderitaan warga sebagai bahan olok-olok. Dua hari kemudian, Yoshio Hachiro mengundurkan diri.

Yoshio Hachiro memohon maaf sesaat setelah menyatakan penyesalan atas kata-kata bercandanya. Ia mengundurkan diri pada hari yang sama (Sumber: Asahi Shimbun)

Shimitzu adalah profesional, mencapai posisi puncak karena keahlian dan karir. Sementara Hachiro adalah pejabat publik, menjadi menteri karena faktor politis. Kesamaannya adalah, keduanya manusia biasa dengan standar heartware yang sama, yaitu ingin memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan.

Shimitzu tidak ingin orang lain mengingkari janji kepada dirinya pada saat dirinya sangat ingin janji itu direalisasikan. Sebagaimana Hachiro juga tidak ingin orang lain menjadikan penderitaan dan kesedihan dirinya sebagai bahan olok-olok. Mereka berdua tahu, suatu saat mungkin saja mereka berada pada posisi warga yang telah mereka lukai perasaannya.

Walikota Ilham pastilah bisa berargumentasi dengan rasional soal keterbatasan anggaran, tentang bagaimana mekanisme perencanaan dan implementasi pembangunan, soal skala prioritas pemerintah dan sebagainya. Presiden Shimitzu dan Menteri Hachiro juga dapat bersilat lidah, mencari pembenaran menggunakan rasionalitas dan akal sehat, atau mungkin mencari pihak lain yang lebih layak disalahkan.

Kita tentu tidak berharap Walikota Ilham mengundurkan diri. Toh, calon penggantinya tinggal menunggu waktu pelantikan saja. Tetapi sebagai pejabat publik, kita berharap Walikota Ilham dapat mewariskan nilai rendah hati bagi penerusnya, dan bagi setiap pejabat publik di berbagai tingkatan. Itu adalah semacam bentuk kearifan pemimpin yang dapat menjadi warisan berharga, daripada mewariskan gedung-gedung tinggi atau jalan rusak.

Daripada mengatakan “jalan rusak itu wajar”, adalah jauh lebih arif jika Walikota Ilham berkata: “mohon maaf, jalan kita masih rusak”.  Bagi Walikota Ilham, sikap kearifan itu seharusnya telah melekat pada dirinya. Bukankah nama lengkap beliau adalah Ilham Arief Siradjuddin?(*)