Masjid 99 Kubah: Kebesaran yang Murung

Tadi sore (Sabtu, 8/5) saya mengajak anak-anak buka puasa di luar. Ramadhan hampir usai, sesekali tidak salah mengajak mereka jalan sore, ngabuburit, mengganti suasana.

Tujuan kami adalah kawasan Center Point of Indonesia (CPI) yang dipenuhi kontroversi sejak awal kemunculannya. Mulai dari reklamasi yang menuai kritik, pembangunan berbagai sarana dan prasarana, hingga keberadaan Masjid 99 Kubah yang ikonik.

Kawasan CPI diinisiasi oleh Gubernur Syahrul Yasin Limpo, termasuk Masjid 99 Kubah di atasnya. Hingga akhir masa jabatannya pada 2018, masjid ini belum rampung. Sayangnya, penerus Syahrul, Gubernur Nurdin Abdullah, menunda kelanjutan pembangunan. Dengan alasan akuntabilitas anggaran dan audit mutu bangunan, Gunernur NA mengatakan ada masalah yang harus diselesaikan terlebih dahulu, sebelum pembangunan dilanjutkan.

Tahun lalu, beberapa tokoh masyarakat dan aktivis serta intelektual menggagas gerakan untuk melanjutkan pembangunan masjid. Selain “menekan” pemerintah provinsi untuk mengalokasikan anggaran, juga diikuti aksi “perlawanan” atas sikap lambat pemprov.

Meskipun konstruksi bangunan masjid belum rampung, Gerakan Masjid 99 Kubah “nekat” menggelar shalat Jum’at. Gubernur NA sampai harus meminta Dewan Masjid Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia Sulsel turun tangan. Kegiatan shalat Jum’at di Masjid 99 Kubah akhirnya dihentikan setelah sempat berlangsung beberapa kali.

Masjid 99 Kubah adalah sarana ibadah. Namun, ketika pembangunannya berkaitan dengan kebijakan publik, maka elemen politis terselip didalamnya. Ada selentingan, Gubernur NA enggan “cuci piring” terhadap dugaan penyimpangan pembangunan masjid ini. Entah benar atau tidak, tapi begitulah selentingan yang beredar.

Beberapa janji kemudian diutarakan. Namun, hingga tahun 2021 ini, Masjid 99 Kubah yang indah dari kejauhan nampak belum ada tanda-tanda akan dirampungkan. Tentu saja, penyebabnya bukan soal anggaran. Toh pemprov memiliki kewenangan anggaran yang fleksibel.(*)

Leave a Comment