Lagi-lagi tentang Orang Gila

Seorang lelaki tertangkap kamera pada suatu masjid di Palembang: menampar imam shalat. Sudah dapat dipastikan, peristiwa seperti ini akan viral. Dan kemudian kita akan mendapati, selama beberapa hari mendatang, perbincangan publik yang membedah berbagai aspek: politik, sosial budaya, religius, medis, keamanan, hingga gosip.

Akan tetapi, yang menarik perhatian saya adalah postingan di grup WA alumni kampus. Namanya grup alumni, ya anggotanya minimal sarjana. Bahkan banyak sekali yang magister dan doktor. Dosen hingga yang berpangkat akademik profesor juga banyak disitu.

Video rekaman CCTV itu dibagikan dan menyebar cepat. Postingan awal di grup alumni itu dibagikan seorang teman yang saya tahu pasti ia cerdas. Juga ia adalah pejabat publik. Ketika memposting video tersebut, terdapat narasi caption berikut (saya ketik verbatimnya saja):

Telah terjadi pemukulan terhadap Juhri Asyari Hasibuan, yg menjadi imam sholat shubuh di Masjid Baitul Arsy, Pekanbaru, pada shubuh Jumat, 7 Mei 2021.

Sungguh biadab.., mereka sudah nantang terang-terangan. Mirip PKI!

Tentu saja, berbagai respon bermunculan. Pertama, banyak yang mempertanyakan validitas informasi. Setelah terkonfirmasi beritanya benar, maka mulai bermunculan reaksi. Dari sekian banyak reaksi di grup, tidak ada yang mempertanyakan: “mengapa teman ini, yang pendidikannya lumayan tinggi, yang juga pejabat publik, langsung ikut memvonis bahwa mereka sudah terang-terangan, mirip PKI?

Pada saat video dibagikan, di Metro TV sedang dibacakan berita tentang peristiwa tersebut, pada segmen Metro Petang. Peristiwa yang terjadi pagi hari (shubuh) tentu telah ada versi resmi, minimal dari hasil penyelidikan awal aparat kepolisian.

Dan memang, polisi menyebutkan bahwa pelaku adalah seseorang yang mengalami kelainan jiwa. Beberapa orang, termasuk jamaah masjid, juga mengkonfirmasi hal itu. Artinya, ada penjelasan untuk menenangkan publik. Toh, orang gila memang tindakannya aneh dan penuh kontroversi.

Sayangnya, teman yang tadi membagikan sama sekali mengabaikan informasi resmi tersebut. Ia lebih percaya sumber dari jejaring kontak di WA-nya, tanpa mau mencari tahu benar-tidaknya. Pokoknya, teman ini langsung membagikan saja apa yang dia terima, dan dia anggap menarik kepentingannya.

Pada tahap seperti ini, saya jadi bertanya-tanya, siapa sih sebenarnya yang disebut gila?(*)

Leave a Comment