Putaran Terakhir Yang Membuat Mega-megap

Menjelang putaran terakhir kampanye, sebagian besar lembaga survei memberi hasil berbeda untuk pemenang Pilgub DKI. Tetapi ada gambar yang seragam dari sebagian besar survei: posisi ketiga ditempati AHAY-Silvy.

Meskipun muda, energik, dan tampan, namun konstituen Jakarta nampaknya lebih rasional. Hal ini tampak dari respon warga terhadap Debat Publik Pilgub DKI. Selalu saja ada trend berbeda paska debat. Menariknya, trend itu menunjukkan dukungan terhadap AHAY-Silvy yang terus merosot.

[rpi]

Sederhananya, penurunan pada putaran ini dipicu oleh fakta bahwa AHAY-Silvy belum cukup matang mempersiapkan konsep untuk Jakarta. Warga nampaknya memantau dan menilai. Di tengah sorotan begitu massif, AHAY-Silvy tidak mampu menarik keuntungan. Bahkan, saya perhatikan beberapa kali blunder.

Saya membayangkan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono sedang resah. Beliau sepertinya menyadari bahwa ia keliru ambil keputusan pada Oktober lalu, ketika memanggil AHAY memasuki dunia politik. Ia menyadari bahwa semakin dekat ke hari pencoblosan, semakin sulit bagi anaknya dapat memenangkan pertarungan.

Tetapi sebagai mantan Presiden dan tokoh sentral di Partai Demokrat, SBY tidak boleh terlihat salah. “Untungnya”, di menit-menit akhir Antasari Ashar (AA) muncul dengan apa yang oleh SBY disebut sebagai serangan terhadap dirinya untuk menjatuhkan elektabilitas anaknya.

Kompleksitas Putaran Terakhir

Ini sebenarnya logika yang kompleks. Pada banyak kesempatan, baik SBY, AHAY, maupun kader Partai Demokrat selalu mengatakan bahwa tidak ada kaitan antara pencalonan AHAY dengan sosok sang ayah SBY. Namun dalam kasus ini, serangan terhadap oleh SBY spontam dimaknai oleh SBY sebagai serangan terhadap AHAY juga.

Nampaknya, kehadiran AA menjadi semacam “blessing disguise” bagi SBY. Ia bisa tetap menjaga reputasi politiknya pada level yang tinggi. Jika saja AHAY dan Silvy kalah dalam Pilgub hari ini, ada justifikasi yang telah siap: “lawan gunakan cara-cara kasar untuk menghancurkan reputasi dirinya”. Namun, jika AHAY menang dalam Pilgub ini, maka SBY akan naik kelas sebagai politisi tangguh.

Disinilah hebatnya politik ala SBY, Presiden ke-6 RI. Baik kalah maupun menang, ia akan tetap naik kelas.

Hanya saja, sangat disesalkan pada tingkatan seperti sekarang ini Pak SBY masih mengurusi dan terlibat (tepatnya: melibatkan diri) dalam politik praktis. Seharusnya, beliau telah menjadi Bapak Bangsa. Tempat dimana semua kelompok datang mengadu ketika hadapi kebuntuan.

Kekuasan politik memang mencandukan. Sekali merasakan, sulit melepaskan diri. (*)