Warkop Yang Melengkapi Makna

Ada semacam senang setiap kali mampir disini. Namanya Warkop 51, di depan kompleks perumahan Bukit Khatulistiwa (saya menyebutnya “Bukatul”), di daerah Daya, Makassar. Selain kopinya yang enak, suasana ramai anak-anak muda alay campur baur dengan beberapa sosok dewasa yang tampak serius. Di latar belakang, dengan volume sedang, selalu terdengar lagu-lagu top forty, baik yang sedang atau yang telah.

Awalnya, saya terdampar disini karena membutuhkan akses internet murah. Ya, murah, karena untuk akses bertiga byte sekalipun, kita hanya butuh sedikit cangkir kopi seharga Rp. 7.000,- untuk ukuran kecil, atau Rp. 9.000,- untuk gelas normal.

Warkop ini menyediakan wifi “gratis” dengan kecepatan memadai. Bahkan pada saat jumlah user sedang tinggi sekalipun, internet yang terpancar melalui 4 hot spot masih sanggup mengatasinya. Maka, mayoritas orang duduk disini membuka laptop atau tablet. Tentu saja, ada banyak alasan orang-orang ini mengakses internet. Namun ada yang dominan: akses sosial media atau nonton film, baik via YouTube atau media streaming lain.

Jika pulang dari kampus tidak terlalu larut, saya sempatkan mampir. Mungkin menjajaki segelas kopi, atau sekedar bertemu teman untuk ngobrol. Tentu saja teman yang tinggal tidak jauh dari Warkop ini. Menariknya, setiap mampir disini selalu saja saya bertemu teman-teman yang tidak terduga. Maksudnya, tidak terduga bertemu disini.

Begitulah. Warkop ini bukan lagi tempat minum kopi. Kini ia tempat mengelola pertemanan dengan cara tidak terduga. Dalam banyak hal, pertemanan tidak terduga selalu memberi banyak peluang baru. Itulah kekuatan networking.

Dan itulah yang terjadi kemudian. Saya merasakan penemuan dari setiap ketidakterdugaan. Segelas kopi di warkop ini mungkin tidak mengangkat lelah. Tetapi ia melengkapi makna. Bagi saya, sebaik-baik hari adalah hari yang bermakna. (*)