Sebenarnya, Kamu Ahli Apa?

Ini pertanyaan seorang teman kepada saya beberapa waktu lalu. Teman ini rupanya diam-diam mengamati. Atau bisa jadi, dia selalu tanpa sadar menemukan postingan saya yang semrawutan di time line media sosialnya.

Sebagai dosen, mungkin teman saya atau juga beberapa orang lain, membayangkan bahwa saya (dan juga dosen-dosen lainnya) adalah sosok yang memiliki keahlian khusus yang piawai dalam satu topik saja.  Sehingga, ketika ia menemukan variasi tidak beraturan pada postingan kita di media sosial, ia bertanya-tanya.

Tentu saja saya menyadari hal ini. Bukankah ketika menulis sesuatu, seratus persen kesadaran saya utuh. Sejujurnya, saya memang tidak peduli dengan warna postingan di sosial media. Toh media ini, menurut saya, adalah tempat berekspresi rasa dan rasio. Dan bukankah untuk mengekspresikan itu kita tidak harus jadi ahli, kan? Sepanjang memiliki rasa dan rasio, setiap kita berhak berekspresi. Begitu kira-kira justifikasi saya.

Tapi tetap saja saya peduli dengan pertanyaan teman ini.

Saya memang mengekspresikan banyak hal. Ketika sedang terjebak macet, saya menulis tentang tata kelola transportasi dalam kota yang, menurut saya, amburadul. Ekspresi saya bisa menjadi-jadi, dengan sedikit atau mungkin banyak selipan marah, ketika tahu bahwa pemerintah kota bahkan bangga dengan penghargaan sebagai kota dengan sistem lalu lintas terbaik.

Pada keempatan lain, saya mungkin berekspresi tentang politik dan politisi. Hanya karena sedang membaca berita, radar ketidaksetujuan (atau mungkin juga kesetujuan) saya bisa berbip-bip. Tidak lama setelah itu, saya berekspresi lagi tentang sampah, perang, dan IT. Seolah ketiga hal itu berada level yang layak untuk disetarakan.

Sejujurnya, saya tidak pernah merasa diri sebagai ahli. Meskipun untuk hal-hal “serius” (ada makna pejoratif dengan tanda kutip itu), saya lebih banyak menulis tentang demokrasi, keterbukaan informasi, dan korupsi. Tetap saja saya bukanlah ahli di urusan itu. Tulisan serius saya selalu penuh kutipan, bukti bahwa untuk menulis pun saya masih butuh “beking”.

Akhirnya, hanya jawaban dengan pertanyaanlah yang bisa saya berikan kepada teman ini. ” haruskah seseorang menjadi ahli untuk berekspresi?” (*)