Taksi Online, Bukti Kecepatan Teknologi

Media massa hari ini dipenuhi berita demonstrasi yang berujung kekerasan di Jakarta. Ratusan pengemudi angkutan saling berhadap. Di sisi satu ada kumpulan taksi konvensional, di sisi lain ada pengemudi “taksi” berbasis aplikasi online (kemudian pengemuji ojek online juga bergabung).

Persoalannya jelas: masing-masing pihak menuntut “keadilan”.

Taksi konvensional menilai pemerintah tidak tegas membatasi seruak taksi dan ojek online yang tetiba menjamur. Ada ancaman serius bagi masa depan pendapatan mereka, masa depn yang tidak terlalu jauh. Bis jadi, besok, lusa, atau minggu depan, mereka tidak lagi dapat memenuhi target setoran harian. Sesuatu yang sering mereka alami, dan mereka tahu bagaimana sakitnya.

Sementara taksi dan ojek online melihat peluang profesi ini sebagai jalan keluar dari himpitan ekonomi yang makin hari makin berat. Begitu ada peluang yang lebih manusiawi untuk memanfaatkan benda-benda harian sebagai sumber pendapatan, mereka manfaatkan. Terima kasih kepada inovasi teknologi yang menawarkan peluang ini.

Kini, kedua pihak sama-sama melihat bahwa sumber pendapatannya terancam. Adalah alamiah ketika masing-masing mempertahankan. Siklus hukum realis, homo homini lupus, tinggal menunggu waktu. Dan masing-masing pihak, tidak berkenan menjadi serigala yang dimangsa. Ya, siapa yang mau?

Tetapi begitulah teknologi bergerak. Sesuatu yang tidak terpikirkan tahun lalu, kini telah menjadi ancaman. Sekarang, level ancaman tidak lagi pada konteks “berhadap-hadapan”. Ancaman telah meluber hingga situasi begitu banyak lagi orang lain kesulitan memperoleh angkutan.

Ini situasi yang rumit untuk menemukan solusi semua menang. Mengijinkan yang satu, mengancam yang lain. Melarang yang satu mengancam yang lain. Bagaimana mungkin mengijinkan keduanya?

Taksi konvensional menjadi mahal karena ada syarat dan pajak berlaku untuk menjadi taksi konvensional. Sementara itu, taksi online terbebaskan dari syarat dan pajak hanya karena pemerintah tidak punya regulasi.

Maka, maslah rumit ini sebenarnya akan teratasi begitu ada regulasi.

Sayangnya, di negeri kita begitu berkelok untuk hasilkan regulasi. Bisa jadi, ketika regulasi siap diterapkan -bisa jadi bulan depan, atau mungkin dua tahun mendatang- masalah telah berbeda.

Richard Buckminster Fuller pernah mengatakan:

“you never change things by fighting the existing reality. To change something, built a new model that makes the existing model obsolete”

Bucky adalah seorang arsitek, juga penulis lebih 30 buku, dikenal sebagai penganut teori sistem, desainer, dan penemu. Kata-kata Bucky terimplementasi dalam seteru taksi kali ini. Kita tidak perlu menantang-nantang atau membentak-bentak taksi konvensional. Tapi kehadiran taksi online membuat sistem pertaksian konvensional menjadi terlihat usang.

Dan ini harusnya menjadi motivasi bagi taksi konvensional untuk berinovasi cepat, sehingga taksi online bisa terlihat usang.

Bisakah? Mengapa tidak…