Pahamilah Instrumen-instrumen Mengukur Demokrasi

Ada banyak instrumen, baik yang telah diaplikasikan maupun yang sedang dikembangkan, untuk mengukur kualitas demokrasi.  Tentu saja, semua instrumen perlu diawali dengan pendefinisian yang komprehensif dan terukur tentang apa itu demokrasi.  Kenyataannya, hingga kini belum tercapai satu kesepakatan mengenai definisi ini.  Perspektif berbeda tentu akan memberi kesimpulan berbeda.

Weltkarte2Democracy Index yang dikembangkan oleh the Economist Inteligent Unit (The EIU) adalah salah satu instrumen mengetahui kualitas demokrasi.  Juga ada yang indeks yang dirancang oleh Freedom House. Selain itu, ada juga Global Democracy Ranking oleh Democracy Ranking Association (Förderung von Demokratiequalität) yang berbasis di Wina, Austria, atau Democracy Barometer yang didesain oleh University of Zurich dengan pembiayaan Swiss National Science Foundation.

Juga ada beberapa metode yang didesain oleh beberapa perguruan tinggi, namun sifatnya masih dalam tahap pengembangan. Misalnya, Project Polity IV yang dipimpin oleh Ted Robert Gurr, professor di University of Maryland, atau Vanhanen’s Index of Democracy yang didesain oleh Tatu Vanhanen (emiritius professor di University of Tampere dan University of Helsinki).

Instrumen-instrumen ini tentu saja dibangun dengan perspektif berbeda, menggunakan asumsi-asumsi berbeda, dan tools (alat ukur yang juga berbeda).  Democracy Index, misalnya, membagi demokrasi pada 5 variabel utama yang kemudian diturunkan menjadi 60 indikator.  Nampaknya, Democracy Index mengadopsi pendekatan fungsional dalam politik, dimana proses demokrasi itu dilihat sebagai bekerja unit-unit yang mendorong pertumbuhan ekonomi.

Lalu Democracy Barometer memetakan kualitas demokrasi berdasarkan tiga pilar, yaitu: kebebasan (freedom), pengawasan (control), dan persamaan (equality).  Masing-masing pilar terbagi pada 3 variabel, dan setiap variabel memiliki indikatornya sendiri-sendiri.  Pilar-pilar ini diterjemahkan dari definisi lain tentang demokrasi sebagaimana dibangun oleh para teoritisi liberal.

Sementara Democracy Ranking mendefinisikan kualitas demokrasi sebagai: perpaduan antara kebebasan dan karakter khas dari sistem politik dengan kinerja dari dimensi-dimensi non politis.  Dalam konteks demikian, Democracy Ranking memberi bobot 50% untuk aspek politik dari demokrasi, sementara aspek-aspek non politik didistribusikan untuk aspek-aspek non politik, yaitu gender (10%), ekonomi (10%), pengetahuan (10%), kesehatan (10%), dan lingkungan hidup (10%).

Maka, tidak mengherankan jika masing-masing instrumen itu memberikan hasil yang berbeda.  Akan tetapi, ada dua hal yang menarik dari berbagai instrumen tersebut.

Pertama, urutan kualitas demokrasi negara-negara di dunia relatif sama dilihat dari perspektif metode manapun, terutama untuk negara-negara yang berada pada posisi ekstrim.  Misalnya, negara seperti Finlandia, Amerika Serikat, atau Selandia Baru selalu berada pada posisi di atas atau relatif lebih demokratis dibandingkan negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, atau India.

Kedua, pada setiap metode pengukuran voter turnout selalu menjadi indikator dengan kontribusi minimal terhadap keseluruhan postur pengukuran. Artinya, jika kita melakukan simulasi hitung ulang dengan mengeluarkan indikator voter turnout, tidak akan terjadi perubahan signifikan dalam posisi urutan kualitas demokrasi negara-negara di dunia. Jadi, meskipun tanpa variabel voter turnout, Swiss dan Amerika Serikat akan tetap lebih demokratis dibandingkan Laos, Vietnam, dan Kuba.

Pemahaman terhadap data selalu saja penting bagi seorang intelektual apalagi sebagai akademisi.  Kekeliruan memahami konteks data dapat mengarah pada kekeliruan penarikan kesimpulan yang fatal.(*)