Osaka: Kota Besar, Pusat Jasa, Tidak Semrawut…

Sungai yang membelah kota Osaka tertata rapi dan nyaman (Photo: Ishaq)

Selasa (18/10/2011) saya berkunjung ke Osaka, salah satu kota perdagangan dan jasa di Jepang.  Tujuan sebenarnya melaporkan diri ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI), sebab sebagai pengguna passport dinas, saya sangat wajib untuk melaporkan diri (setidaknya menjadi contoh sebagai warga negara yang baik… ;p ).

Kebetulan salah seorang teman kuliah, Ono San, adalah pengacara.  Setelah mengurus bisnis dengan klien-kliennya, dia lalu mengajak jalan-jalan keliling Kota Osaka.  Sebenarnya, jarak Osaka – Kyoto tidak terlalu jauh, hanya sekitar sejam menggunakan kereta.  Jadi kita bisa jalan-jalan kapan saja.  Kebetulan Ono San hari ini tidak banyak klien, jadi dia meluangkan waktu mengajak kami jalan-jalan.

Sekilas, penampakan Osaka mirip kota-kota dunia umumnya seperti Singapura atau Budapest.  Namun, Osaka nampaknya unggul dalam urusan green policy, sesuatu yang nampaknya lumrah di banyak kota di Jepang.  Janganlah kita berbicara sampah, sebab sampah adalah barang langka di kota-kota Jepang.  Yang menarik disini adalah komitmen untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan terpelihara.

Di tengah Osaka ada beberapa sungai yang mengalir.  Di antara bangunan tinggi bertingkat puluhan yang menjadi aktivitas jasa dan perdagangan, sungai-sungai ini tetap terpelihara baik, sangat bersih, dan menyenangkan.  Juga ada taman-taman kota yang nampak jelas sangat terjaga dengan rapi.  Sore hari, banyak orang menghabiskan waktu duduk-duduk di sekitar sungai, atau duduk di taman kota, atau duduk-duduk di taman kota di tepi sungai, atau duduk-duduk di tepi sungai yang ada tamannya.

Salah Satu Taman Kota di Osaka (Photo: Ishaq)

Sementara itu, gedung-gedung bertingkat dan ratusan (atau mungkin ribuan) orang yang bekerja di seluruh sentra-sentra bisnis Osaka melakukan aktivitas seperti biasa.  Ketika jam kerja usai, memang terjadi peningkatan kepadatan di jalan raya.  Tetapi, tidak ada sedikitpun macet yang terjadi.  Semua orang sabar dan percaya pada traffic light, sebab traffic light disediakan oleh pemerintah yang layak dipercaya.

Banyak pekerja berjas dan berdasi yang lalu lalang.  Apakah mereka bermobil?  Tidak. Justru kebanyakan mereka menggunakan sepeda atau berjalan kaki menyusuri gedung-gedung tinggi.  Ini adalah salah satu ciri khas Jepang, saya kira.  Orang-orang sangat rasional (atau terpaksa, entahlah) dalam bertransportasi.  Pejalan kaki dan pengguna sepeda sangat nyaman.  Selain karena jalur yang tersedia tertata rapi, dan suasana yang teduh karena banyak pohon, juga karena pengguna kendaraan bermotor (mobil atau sepeda motor) sangat menghormati pejalan kaki.  Mobil dan sepeda motor akan berhenti dan mendahulukan pejalan kaki dan pengguna sepeda di setiap perempatan.

Berjas dan berdasi tidak berarti harus bermobil (Photo: Ishaq)

Tentu saja, ingatan saya segera tertuju ke kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, atau Makassar (bahkan Yogyakarta dan Denpasar).  Tidak ada lagi sungai yang bersih.  Taman kota sangat terbatas dan tidak menjadi pilihan orang untuk bersantai (di Makassar, orang-orang kebanyakan pilih mall).  Dan, tentu saja, jalan raya adalah tempat “berbahaya” bagi pejalan kaki, apalagi pengguna sepeda.

Akan panjang kalau kita diskusikan kenapa kota-kota seperti Osaka dan Kyoto (dan juga mungkin Singapura, Budapest atau kota lainnya) bisa begitu nyaman, dan mengapa kita tidak bisa seperti mereka.  Namun saya berpikiran sederhana, kita harus selalu belajar dari model-model ini. (*)