Meskipun Laptop, Tetap Saja Ini Sampah

Ketika masuk di Kampus hari ini, saya agak kaget dengan pemandangan beberapa meter dari kamar kerja saya.  Sebuah laptop yang teronggok di tempat sampah.  Ini sebenarnya hal biasa di Kyoto dan Jepang umumnya.  Namun, tentu saja, ini hal tidak (belum) lazim di Indonesia.

Laptop ini menurut pemiliknya, sebenarnya belum rusak.  Alias masih berfungsi baik.  Tetapi ia tidak menggunakannya lagi, dan tentu saja tidak ada lagi temannya yang mau menggunakan laptop seperti ini.  Usianya sudah sekitar 7 tahun, katanya.  Tetapi kecepatannya sudah sangat lambat.  Ia pernah membawanya ke tempat servis untuk meningkatkan kinerja laptop ini, akan tetapi biayanya cukup mahal, terutama untuk mengganti software.

Tentu saja, karena di Jepang orang tidak mengenal software bajakan seperti di Indonesia.  Semua software berlisensi pastilah diinstall ke laptop setelah membelinya.  Ada seorang teman dari Indonesia yang membawa laptop dari Indonesia.  Saat mengalami masalah dan membawanya ke tempat reparasi, si pegawai tidak bersedia memperbaikinya.  Laptop itu penuh dengan software bajakan.  Si teknisi takut dituduh terlibat dalam kejahatan karena memperbaiki laptop bersoftware bajakan.

Jadi, laptop menjadi sampah adalah hal yang lumrah di Jepang.  Pemiliknya tidak segan-segan untuk meletakkannya begitu saja jika memang tidak lagi berguna.

Kalau di saja orang Indonesia menggunakan standar Jepang, terutama untuk urusan software, maka saya sangat yakin, lebih 90% laptop kita adalah sampah… (*)