Tidak Paham Bahasa Jepang, Jangan Ragu Bertanya

Hari kedua (Rabu, 21/09/2011) berada di Kyoto saya dilanda kebingungan: Bagaimana mencampai kampus?  Sehari sebelumnya, saat tiba, saya dipandu oleh seorang Student Volunteer.  Tapi hari ini saya harus ke kampus sendirian.  Satu-satunya pegangan saya adalah selembar peta kampus yang menunjukkan dimana kampus berada.  Tetapi peta itu tidak cukup detail, sebab tidak ada gambaran saya harus menggunakan jalur yang mana.

Maka, ketika tiba di halte bis, saya harus mencari tahu dulu Bis nomor berapa yang harus saya gunakan.  Sepengetahuan saya, saya harus menggunakan dua bis berbeda.  Di halte bis ada penunjuk yang jelas mengenai rute-rute bisa, akan tetapi semua ditulis dalam huruf Kanji.  Saya sama sekali buta dengan huruf Kanji.

Maka saya bertanya kepada satu-satunya orang yang ada di Halte Bis itu, yang nampaknya juga sedang menunggu bis: “Excuse me, do you speak English?”.  Dia menyilangkan tangan, bahasa isyarat yang umum dipakai orang Jepang untuk mengatakan tidak.  Ditilik dari pakainnya, gadis ini nampaknya anak sekolah, berusia belasan tahun.

Kecuali di lingkungan kampus, jarang sekali orang bisa berbahasa Inggris di Jepang.  Jadi, saya tidak heran kalau remaja ini juga tidak bisa bahasa Inggris.

Namun demikian, saya tetap saja menunjukkan peta yang saya bawa.  Di peta itu tercantum tulisan Doshisha University dan nama jalannya huruf Kanji.  Si remaja nampaknya mengerti bahwa saya ingin ke kampus itu.  Maka dia pun mengambil handphone-nya, mengutak-atik sebentar, dan berbicara dengan bahasa Jepang (yang sama sekali tidak saya mengerti), namun juga memberi isyarat-isyarat tangan yang bisa saya mengerti maksudnya.

Kira-kira ia berkata: Anda harus menyeberang jalan untuk menunggu bis di halte sebelah, lalu naik bis nomor 4, kemudian nanti pindah ke bis nomor 37 di persimpangan ke-5 yang dilewati.

Saya pikir itu sudah cukup.  Setidaknya, saya tahu bahwa saya harus mengambil bis di jalur sebelah, bukan di halte ini.

Maka, saya menuju ke jalur penyeberangan untuk pejalan kaki (kira-kira 10 meter dari halte itu), menunggu hingga lampu hijau untuk pejalan kaki, dan menyeberang.  Saya menunggu bis nomor 4 seperti yang disarankan.

Dari seberang jalan, saya memperhatikan remaja itu masih sibuk dengan handphone-nya.  Tidak lama kemudian, ia terburu-buru menuju tempat penyeberangan lalu menyeberang jalan dan mendatangi saya.  Nampaknya, tadi ia salah memberi petunjuk.  Ia kemudian mengambil kertas dari bukunya, dan menulis dengan huruf Kanji.

Catatan rute bis dari Flat menuju Doshisha... 🙂

Setelah itu, ia memberi bahasa isyarat lagi. Kira-kira katanya: “gunakan bis nomor 9, lalu turun di halte ini, dan gunakan bis nomor 201 dan turun di halte ini”.  Dia lalu menyerahkan carik kertas tersebut kepada saya dan pergi kembali menyeberang jalan menuju halte bis dimana tadi dia menunggu bis.

Saya kemudian teringat bahwa di kota-kota di Indonesia kita tidak lagi menemukan remaja-remaja atau orang dewasa seperti ini.  Saya berkali-kali mengalami masalah tidak tahu jalur atau bingung mencari alamat, baik di Makassar atau Jakarta.  Sering sekali terjadi orang yang ditanya menggeleng tidak tahu, atau juga seringkali kita diberi petunjuk jalan yang salah dengan sengaja.

Ketika pengalaman ini saya ceritakan di kampus, seorang staf administrasi di Graduate School of Global Studies menegaskan agar tidak ragu bertanya.  Jika orang yang kita tanya itu tidak tahu, maka ia akan mencarikan orang lain yang tahu.  Ia akan merasa “tidak bertanggung jawab” jika ia tidak bisa mengatasi kebingungan kita.

Ada prinsip hidup orang Jepang yang tidak diajarkan di sekolah-sekolah, namun dibiasakan di rumah dan lingkungan tempat tinggal, yang disebut Ninjo atau rasa kasih sayang terhadap sesama manusia, dan Gimu atau kewajiban untuk membantu.  Prinsip ini sangat lumrah dan sangat terjaga dan menjadi karakter orang Jepang.

Adalah hal yang menarik untuk mendalami, bagaimana prinsip universal seperti ini dapat tetap terjaga dan hidup di masyarakat.  Kita tahu bahwa prinsip-prinsip seperti itu juga ada di banyak kebudayaan, khususnya dalam masyarakat Indonesia.  Akan tetapi, di Indonesia nilai-nilai itu hanya menjadi pengetahuan.  Sementara di Jepang, nilai itu teraktualisasi dalam kehidupan sehari-hari. (*)