Perjalanan Panjang Menuju Kyoto (1): Mengapa Jepang?

Mengapa Jepang?

Saat yang ditunggu-tunggu menuju Kyoto makin dekat.  Jika tidak ada aral melintang, pada tanggal 10 September 2011, saya akan berangkat ke Osaka, tempat dimana Bandara Internasional Kansai berada, sebagai pintu masuk internasional menuju Kyoto.  Saatnya saya membagi refleksi proses panjang “memburu” beasiswa, mendaftar universitas, hingga berbagai persiapan menuju Kyoto.

Saya ingin mengawali dengan pertanyaan ini dulu: mengapa memilih Jepang?

Awalnya, saya tidak peduli dengan pertanyaan ini.  Meskipun memiliki motif pribadi, tetapi seperti kebanyakan orang Indonesia, cita-citanya selalu ingin menuju Eropa atau Amerika.  Sesungguhnya, saya pun demikian.

Akan tetapi, pikiran untuk ke Eropa atau Amerika akhirnya berubah karena beberapa hal.

Pertama, saya mencoret Amerika karena nama saya yang tidak Amerika friendly.  Yup, sejak Amerika begitu galau dengan segala yang berbau teroris dan muslim, saya sudah membayangkan kesulitan dan kerumitan yang akan saya hadapi ketika mengurus entrance permit ke Amerika dengan nama saya yang sangat ke-muslim-muslim-an (dengan akhiran huruf Q pada Ishaq pula).

Lalu saya mencoret Eropa karena dua alasan sederhana. Saya pernah ke Eropa, dan saya belum pernah ke Jepang.

Pada saat mengurus persiapan ke Jepang, saya mendatangi bagian kerja sama di Unhas, unit yang tugasnya mengatur dosen-dosen yang akan belajar ke luar negeri.  Ketika saya mengatakan bahwa saya ingin ke Jepang dan sudah ada universitas yang mau menerima saya, Ibu Sri, kepala bagian kerja sama, tercengang.

“Ishaq, dalam 20 tahun terakhir, tidak ada dosen FISIPOL yang belajar ke Jepang. Baru kamulah yang mendaftar ke sana”, kata Ibu Sri.

Wow!

Padahal Jepang adalah negara dengan adat ketimuran yang sangat kental, negara dimana tradisi dan modernisasi dipertahankan dengan maksimal.  Negara dimana toleransi, karakter komunal, dan sikap rendah hati masih bertahan dan hidup bersama dengan kemajuan teknologi.

Saya kira, itulah alasan utama mengapa saya memilih Jepang.  Selama puluhan tahun, ratusan (bahkan mungkin ribuan) orang belajar di Jepang.  Tetapi, mereka belajar sains dan teknologi.  Tetapi, hanya sedikit yang ke negara itu untuk belajar ilmu sosial dan humaniora.  Kebanyakan orang Indonesia belajar ilmu sosial dan humaniora ke Amerika, Eropa, atau Australia.

Saya berpikir, nampaknya salah satu faktor yang menyebabkan masyarakat kita makin kehilangan jati diri sebagai bangsa Timur adalah karena kita terlalu banyak belajar ilmu sosial di Barat.  Para cendekiawan kita gagal memberi contoh sikap-sikap ke-Timur-an, karena mereka telah terkooptasi oleh karakter ke-Barat-an.

Nampaknya, perlu banyak orang belajar ilmu sosial ke negara-negara maju di Timur.  Ini tekad saya: “memprovokasi lebih banyak orang untuk belajar ilmu sosial di Timur…” (*)