Ruang Lingkup Studi Hubungan Internasional

“Dunia kita begitu luas dan kompleks”, demikian tulis Prof. Joshua Goldstein pada kalimat pertama bukunya, “International Relations” (2004).  Buku yang setiap tahun mengalami revisi (untuk menyesuaikan dengan konteks aktual) ini dianggap sebagai salah satu buku text terbaik untuk memahami studi hubungan internasional.

Pada awal kelahirannya di tahun 1919, studi hubungan internasional diakui sebagai ilmu yang mempelajari hubungan antarnegara.  Latar belakang situasu dunia yang baru saja selesai Perang Dunia I telah mendorong para ilmuwan dan negarawan untuk memikirkan suatu mekanisme pengelolaan hubungan antarnegara yang dapat mencegah terjadinya perang besar pada masa mendatang.

Selama puluhan tahun, asumsi-asumsi dominasi peran negara dalam hubungan internasional menjadi motif utama kajian akademis studi ini.  Namun, asumsi-asumsi itu makin dipertanyakan sehubungan dengan makin bervariasinya faktor-faktor yang berpengaruh dalam hubungan internasional.

Dengan menggunakan perspektif dominasi peran negara dalam hubungan internasional, Karl W. Deutsch (dalam Mas’oed, 1994) mengidentifikasi setidaknya 12 isu yang menjadi ruang lingkup studi hubungan internasional, yaitu: (1) Bangsa dan duni; (2) Proses transnasional dan interdependensi internasional; (3) Perang dan dama; (4) Kekuatan dan kelemahan; (5) Politik Internasional dan masyarakat internasional; (6) Kependudukan versus pangan, sumber daya alam dan lingkungan; (7) Kemakmuran dan kemiskinan; (8) Kebebasan dan penindasan; (9) Persepsi dan ilusi; (10) Aktivitas dan apati; (11) Revolusi dan stabilitas; dan (12)  Identitas dan transformasi.

Ruang lingkup yang diajukan oleh Deutsch mungkin relevan untuk masa itu, pada era dimana perebutan hegemoni antara blok-blok politik dunia masih dominan.  Dunia kita hari ini berada situasi yang jauh lebih kompleks dalam hal interaksi internasional, yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap berbagai perubahan global.

Definisi terhadap ancaman bagi keamanan nasional, misalnya, tidak lagi terbatas pada potensi serangan militer yang tangible, tetapi telah memasuki wilayah-wilayah intangible, seperti kemiskinan, kejahatan, penyakit menular, dan isu kesejahteraan.  Gagasan tentang kompleksitas ini telah mendorong pandangan baru tentang bagaimana membatasi ruang lingkup studi hubungan internasional yang “nyaris tidak terbatas” tersebut.

Professor Goldstein mencoba menyederhanakan isu-isu yang menjadi ruang lingkup studi hubungan internasional dalam dua kelompok utama, yaitu: “International Security” dan “International Political Economy”.  Kedua pilar ini adalah variabel utama dalam memahami hubungan internasional kontemporer, sekaligus untuk membedakannya dengan disiplin ilmu lainnya.  Meskipun demikian, Goldstein tetap menekankan peranan politik dalam menempatkan kedua isu itu:

IR (international relations) is a field of political science concerned mainly with explaining political outcomes in international security affairs and international political economy.

Menurut Mary Kaldor, terdapat pilar ketiga yang seharusnya ditambahkan dalam memahami realitas perubahan-perubahan baru dalam studi hubungan internasional kontemporer, yaitu “Global Civil Society”.  Dalam ulasannya pada Journal of International Affairs Volume (vol. 79, tahun 2003) berjudul “The Idea of Global Civil Society”, Kaldor mengidentifikasi peranan gerakan masyarakat sipil transnasional dalam konteks cosmopolitanism dan soft revolutionary.

Perspektif lain untuk memahami ruang lingkup disiplin ilmu hubungan internasional adalah dengan mengidentifikasi tingkat-tingkat analisa dalam penelitian dan analisa akademik.  (Uraian tentang tingkat analisa akan dibahas pada bagian terpisah).