Kekerasan, Terorisme dan Perempuan

Pada tanggal 29 Maret 2010 terjadi ledakan dahsyat di Stasiun Lubyanka dan Stasiun Park Kultury, di jantung kota Moskow, Rusia.  Peristiwa yang mengejutkan dunia setidaknya menewaskan 39 orang dan puluhan lainnya luka-luka.  Sesaat setelah ledakan, otoritas resmi Rusia menuduh kaum bersenjata Cechnya berada dibalik serangan tersebut.  Dua hari kemudian, dunia dikejutkan dengan fakta bahwa pelaku kekerasan dan serangan ini adalah dua orang perempuan yang tergabung kelompok “Black Widows” (janda-janda hitam).

Menurut Kuncahyono (Kompas, 31/03/2010), kelompok ini mulai diduga muncul pada tahun 1994.  Awalnya, puluhan wanita Cechnya yang kehilangan suami atau keluarga dekat dalam pertempuran dengan tentara Rusia diorganisir untuk melakukan balas dendam terhadap pemerintah Rusia.

Adalah Shamil Basayev, tokoh kelompok bersenjata Cechnya yang mengorganisir kelompok ini.  Basayev yang tewas dalam pertempuran tahun 2004 telah menciptakan pejuang militan yang memiliki motif sangat kuat dan nyata untuk menyerang otoritas Rusia, yaitu balas dendam.

Aksi Black Widows pertama kali terdengar pada bulan Juni 2000, ketika dua orang wanita Chechnya mengendarai truk penuh bom dan menerjang kantor polisi.  Salah seorang perempuan itu adalah Khava Barayeva.  Pada tahun 2002, sekelompok orang menyerang gedung teater Moscow Dubrovka dan menyandera 700 orang.  Sebanyak 19 dari 41 penyerang yang dipimpin Movsar Barayev (masih kerabat dekat Khava Barayeva) ini adalah anggota Black Widows.

Perempuan dan Kekerasan

Fenomena keterlibatan kaum perempuan dalam aksi-aksi terorisme adalah hal yang tidak lazim, dan ini menjadi indikasi betapa motif individual dapat dengan mudah dibelokkan untuk mencapai kepentingan politik.  Dalam perspektif feminisme, kaum perempuan selalu diidentikkan dengan dengan sikap anti-kekerasan.

Dalam politik internasional, feminisme adalah pendekatan alternatif yang mengedepankan sifat “keperempuanan” dalam memahami interaksi antaraktor.  Feminisme adalah karakter, bukan jenis kelamin (gender).  Ada pandangan umum yang diterima oleh para teoritisi feminis ini bahwa persoalan konflik, perang, dan kekerasan disebabkan oleh tidak terlibatkannya kaum perempuan dalam proses-proses pengambilan keputusan politik.

Tidak mengherankan apabila ketidakterwakilan perempuan menyebabkan lahirnya asumsi-asumsi, pandangan-pandangan dan akhirnya kebijakan-kebijakan yang timpang.  Keputusan untuk berperang, misalnya, hampir pasti tidak pernah diputuskan dengan mengikutsertakan kepentingan perempuan. Padahal, kaum perempuan (serta anak-anak) yang paling banyak menjadi korban perang.  Fenomena kemunculan Black Widows didasari oleh fakta bahwa mereka adalah perempuan-perempuan yang menderita akibat kehilangan suami dalam perang.

Feminisme dan Patriarki

Dalam uraiannya tentang konflik dan kekerasan, Johan Galtung mengajukan tesis yang menarik dari pendekatan feminisme, yang berangkat dari perbedaan gender, tetapi tidak menjadikan seksualitas sebagai satu-satunya faktor determinan.  Perdamaian dan konflik bukan milik perempuan dan laki-laki, meskipun konstruksi sosial memberikan peranan kepada laki-laki sebagai aktor dominan yang menyebabkan terbentuknya politik internasional yang penuh kekerasan.

Galtung (2003) mengatakan: “untuk menjelaskan perdamaian/kekerasan sebagai variabel tergantung (dependent variable) kita akan menggunakan wacana variabel bebas empat-faktor yang didasarkan pada tubuh, pikiran, struktur, dan kultur. ‘Tubuh’ dibahas sebagai wanita-pria; ‘pikiran’ sebagai empati tinggi-rendah; ’struktur’ sebagai horisontal-vertikal (hirarkis); dan ‘kultur’ sebagai sentripetal-sentrifugal (ekspansionis)”.

Dengan asumsi ini, Galtung mengajukan hipotesis: “perempuan memiliki empati tinggi, secara hierarkis bersifat horizontal, secara kultural bersifat sentripetal serta berkecenderungan pada perdamaian. Sedangkan pria memiliki empati rendah, secara hierarkis bersifat vertikal, dan secara kultural bersifat sentrifugal yang menjadikannya menyukai kekerasan.”

Patriarkhi adalah institusionalisasi dominasi pria dalam struktur vertikal, dengan korelasi sangat tinggi antara posisi dan gender, yang dilegitimasi oleh kebudayaan (misalnya, dalam agama dan bahasa), dan sering muncul sebagai kekerasan langsung dengan pria sebagai subjek dan perempuan sebagai objek. Kekerasan langsung adalah sebuah fenomena pria.

Dari uraian tersebut tampak bahwa politik internasional yang mengedepankan perdamaian dan dialog adalah cara pandang feminis, dengan tidak mempedulikan apakah pandangan itu berasal dari laki-laki atau perempuan.  Seorang laki-laki yang berpandangan feminis (cenderung pada perdamaian) tidak menjadikannya perempuan. Dan sebaliknya, seorang perempuan yang berpandangan realis (cenderung pada kekerasan) tidak akan mengubahnya menjadi seorang laki-laki.

Tindakan kekerasan bukanlah pilihan yang bisa diterima dalam mengajukan tuntutan atau menyampaikan aspirasi.  Tentu saja, dalam sistem internasional yang begitu sensitif dengan isu terorisme, setiap kelompok yang memilih jalan kekerasan akan dengan mudah diberi stigma sebagai kelompok teroris.  Akan tetapi, hadirnya kaum perempuan dalam tindak-tindakan kekerasan ini yang secara normatif merupakan respon mereka atas perilaku kekerasan yang mereka alami perlu dijadikan renungan.  Ini mengindikasikan bahwa derita akibat kekerasan yang mereka alami selama ini begitu kuatnya, sehingga kaum perempuan itu begitu mudah diseret untuk menjawab kekerasan dengan kekerasan.

Di Indonesia, kita tidak atau belum menemukan fenomena yang mengkhawatirkan seperti ini.  Tetapi, hal ini tidak tertutup kemungkinan akan terjadi.  Pertarungan elit, fenomena pembangunan, dan berbagai realitas sosial politik yang terjadi di negeri ini selalu menjadikan kaum perempuan (bersama anak-anak) pada posisi rentan dan terus-menerus dikorbankan.  Jika saja negara fenomena-fenomena maskulinitas ini tidak segera direvisi untuk menjadi lebih feminis, tidak tertutup kemungkinan kekerasan ini juga akan menjadi pilihan terakhir yang digunakan oleh kaum perempuan di negeri ini.  Dan kita tentu tidak ingin hal ini terjadi.***