“Tuhan itu Tidak Ada”, kata tukang cukur

Seorang lelaki sedang berada di tempat cukur rambut. Si Tukang Cukur langganannya ini selalu bercerita banyak hal sambil mencukur rambutnya.  Seperti kali ini, mereka chit-chat kesana-kemari, hingga sampai ke topik tentang Tuhan.

“Tuhan itu tidak ada…”, kata tukang cukur.

“Mengapa kamu berkata demikian?”, sang pelanggan bertanya heran.

“Lihatlah di luar jendela,” kata tukang cukur sambil menunjuk jendela kaca besar yang menghadap ke jalan raya. “Di luar sana begitu banyak orang menderita, terdera penyakit, kelaparan, kedinginan, miskin.  Padahal Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang kan? Jika memang Tuhan ada, mengapa orang-orang itu ada?  Mengapa mereka tidak disentuh oleh Kasih Tuhan?”

Lelaki yang menjadi pelanggan itu mendengarkan. Ia ingin membantah pendapat Sang Tukang Cukur, tapi ia yakin pasti akan terlibat perdebatan panjang.  Dialog tentang Tuhan selalu saja mengandung sisi emosional yang kadang sulit dijelaskan.  Maka sang lelaki membiarkan saja Tukang Cukur itu menyelesaikan pekerjaan, lalu ia meninggalkan tempat pangkas rambut tersebut.

Baru beberapa langkah berjalan, lelaki itu berpapasan dengan seorang pemuda kumal, rambutnya panjang, tidak terurus, kusut, dan sangat tidak enak dilihat.  Tiba-tiba, ia mendapat inspirasi, dan kembali ke tempat Tukang Cukur.

Si lelaki berkata: “Hei, menurutku tidak ada yang namanya Tukang Cukur…”

Tentu saja si Tukang Cukur keberatan. “Apa maksudmu. Saya adalah tukang cukur, kamu tahu itu kan?  Apa kamu pikir saya tukang cukur gadungan?”

Lelaki itu menjawab: “Saya baru saja dengan berpapasan dengan seorang pemuda di luar sana. Rambutnya sangat jelek, panjang, kusut, warnanya kusam, dan sangat jelek. Jadi saya berpikir, tidak ada tukang cukur di dunia ini”.

Si Tukang Cukur menjawab, “Kenapa ia tidak datang kepadaku?  Saya pasti bisa menata rambutnya menjadi teratur dan menarik.  Saya adalah Tukang Cukur, kamu tahu itu…”

Si lelaki menjawab, “Temanku, begitulah juga Tuhan.  Orang-orang di luar sana menjadi miskin, sakit-sakitan, kelaparan, menderita, bukan karena Tuhan tidak ada. Tetapi karena mereka tidak mau datang kepada Tuhan.”

Ya, si Tukang Cukur menjadi sangat malu…

Catatan: (Kisah ini sangat populer di Russia, dianggap sebagai salah satu cerita rakyat. Banyak sumber di internet telah memuatnya, saya hanya menuliskan kembali).