Jangan Menulis Jika Malas Membaca

Otak kita penuh imajinasi. Dan imajinasi itu bisa bergerak sangat liar, kesana-kemari, tanpa batas. Saat sedang kekurangan uang, kita bisa saja membayangkan diri kita adalah seorang yang sekaya Alexander Onassis atau Bill Gates. Saat sedang menghadapi ancaman tilang karena pelanggaran sepele, kita membayangkan diri kita adalah anak atau keponakan Kapolda.
Imajinasi yang liar bisa menjadi bahaya jika dipendam. Kita bisa menghadapi tekanan bathin luar biasa karena menemukan kenyataan yang kita alami menjadikan diri kita pada posisi tidak berdaya. Sementara itu, realitas imajiner itu tidak bisa serta-merta kita pindahkan ke dunia nyata.

Konon, salah satu cara menjinakkan imajinasi yang liar itu adalah dengan menulis. Proses replikasi gagasan menjadi dokumen yang dapat disebarluaskan (atau dapat dibaca kembali) menyebabkan imajinasi yang liar itu terkenali dalam batas-batas realistis.

Tetapi, pengalaman saya menunjukkan bahwa niat untuk menulis saja tidak cukup membuat imajinasi itu jinak. Saya seringkali ingin menulis, memiliki banyak gagasan dikepala, tetapi tulisan itu tidak kunjung selesai. Saya tidak tahu harus mulai dari mana dan mengakhirinya dimanaa. Sepertinya, soal-soal seperti ini banyak dihadapi oleh orang-orang yang ingin menulis.

Kemudian saya sadari, bahwa kegagalan memetakan imajinasi menjadi tulisan membutuhkan tahapan membaca. Dengan membaca, kita membuat alur bagi imajinasi-imajinasi liar tersebut. Membaca itu seperti membuat kandang, dan menulis itu seperti menuntun ternak-ternak agar menjadi tertib.

Nah, kalau mau menulis, alangkah baiknya kalau kita banyak membaca.