Pelayanan IT Integrated di Restoran D’Cost

Wanita ini bernama Hasma. Dia bekerja sebagai pelayan di D’Cost, tempat makan berslogan “Rasa Bintang Lima, Harga Kaki Lima”. Yang ditangannya itu adalah PDA ber-merk HP. Dia sedang mencatat pesanan.

Meski telah beberapa kali makan di sini, baru sekarang saya tertarik dengan sosok pelayan di d’Cost. Dulu saya kira pelayan-pelayan disini hanya sok IT-minded dengan mengganti alat pencatat pesanan, dari kertas dan pulpen dengan gadget lumayan canggih ini. Tapi ternyata tidak sesederhana itu.

Kata Hasma, yang ada di tangannya adalah PDA-Phone, yang terkoneksi wireless dengan komputer di kasir dan komputer di dapur. Saat menulis pesanan kami di PDA-nya, pesanan itu juga langsung tercatat di komputer kasir dan komputer dapur.

Hasma juga tahu makanan apa yang kebetulan habis atau tidak tersedia hanya dengan melihat PDA ditangannya itu. Benar-benar efektif, sebab ia tidak perlu lagi menyampaikan hal itu beberapa saat kemudian, sebagaimana lazim kita temui di restoran-restoran lain.

Saya dan teman-teman tentu saja takjub. Baru kali ini kami mendapat pelayanan di restoran dengan metode yang begitu IT Integrated. Padahal d’Cost bukan restoran mahal. Bayangkan saja, harga segelas teh tawar adalah Rp. 100,- (jumlah nol-nya dua, jadi itu bukan salah tulis, ya).

Ketika sibuk mengagumi metode menangani pesanan pelangganan yang begitu canggih (setidaknya untuk ukuran rumah makan di Makassar), Hasma si pelayan bahkan masih sempat berkata: “Inipun sebenarnya sudah ketinggalan, pak. Sebab teman-teman lain ada yang sudah dilengkapi dengan i-Pod”. Wow…

(Saya jadi miris ketika membayangkan banyak kantor pemerintah di daerah ini merasa sudah mengadopsi IT untuk mendukung kinerjanya, padahal layar-layar desktop di kantor-kantor itu tertampil Solitaire, Zuma, atau Bounce alias “game bola-bola”).

Powered by Telkomsel BlackBerry®