Manajemen Waktu di Masa Pandemi

Setelah lebih setahun berada pada situasi pandemi, salah satu persoalan besar yang saya hadapi adalah manajemen waktu. Dulu, jika akan kuliah atau rapat atau hadiri kegiatan, kita harus hadir secara fisik. Maka, ada hitung-hitungan logis terkait waktu yang dibutuhkan untuk mencapai lokasi kegiatan.

Tentu saja, jika akan rapat di suatu tempat pada, misalnya pukul 09.00, saya tidak mungkin menjadwalkan kegiatan lain pada pukul 10.00, bahkan 11.00 sekalipun. Apalagi jika diundangan rapat tertulis jadwalnya adalah pukul 09.00 sampai selesai. Ini adalah jenis rapat yang tidak bisa diprediksi kapan akan selesai.

Ketika pandemi melanda, orang-orang mulai diperkenalkan pada metode rapat, pertemuan, tatap muka secara online. Kelebihan aktivitas online adalah kita tidak membutuhkan kehadiran fisik pada ruang nyata. Kehadiran pada ruang virtual diwakili oleh konektivitas dan gadget. Artinya, sepanjang memiliki koneksi internet dan perangkat, kita hadir.

Terasalah betapa efisien berbagai pertemuan. Pagi hari, kita bisa bangun pukul 04.30, melakukan ibadah, dan hal-hal rutin lain. Pukul 07.00 bisa tidur lagi hingga pukul 08.30. Setelah bangun, mandi, sarapan, dan meeting pukul 09.00.

Sebelum pandemi, jika akan hadir pada rapat pukul 09.00, kita harus meninggalkan rumah paling lambat pukul 08.00, bahkan beberapa orang di Jakarta, pukul 06.30. Tanpa terasa, kita menghemat waktu yang signifikan.

Persoalan kemudian muncul ketika kita merasa dapat hadir pada rapat apa saja pada waktu berdekatan. Kita hanya perlu menambah gadget. Bahkan, kita dapat hadir pada lebih dari satu rapat pada waktu yang bersamaan.

Maka, setiap hari ada begitu banyak rapat dan pertemuan yang kita agendakan. Apalagi jika pada rapat atau pertemuan tersebut kita hadir sebagai peserta, bukan sebagai tuan rumah atau moderator atau pimpiman pertemuan.

Saya pernah menghadiri 8 pertemuan dalam satu hari. Tapi itu belum seberapa. Seorang kolega, Dekan di salah satu fakultas, pernah hadiri 4 pertemuan pada waktu bersamaan. Di hadapannya ada 4 perangkat yang terkoneksi dengan fasilitas virtual meeting: PC, Laptop, HP, dan Tablet. Keempatnya dengan topik berbeda.

Pertanyaan kritikalnya kemudian adalah sejauh mana kita dapat fokus pada rapat? Apalagi jika beberapa rapat yang kita hadiri tersebut membahas topik yang berbeda dan tidak nyambung. Dapat dipastikan, kinerja mata, telinga, dan otak menjadi lebih berat.

Leave a Comment