Astaga, Ada Pelanggaran Hukum Massal di Kyoto

Pengendara sepeda di Jepang berasal dari berbagai lapisan, ibu rumah tangga hingga eksekutif. Suasan sore di pusat bisnis Osaka. (Photo: Ishaq)

Akibat tingginya angka kecelakaan yang melibatkan pengendara sepeda dan pejalan kaki, National Police Agency (NPA) Jepang akan menertibkan pengendara sepeda, dan “mengusirnya” dari jalur pejalan kaki  (pedestrian). Ini aturan sebenarnya,  tetapi selama ini diabaikan.  Baru tahu, kalau ternyata orang Jepang bisa juga mengabaikan peraturan yang berlaku… hehe.

Menurut revisi Undang-Undang Lalu Lintas Jepang tahun 2008,  pengendara sepeda harus menggunakan sisi kiri jalan raya, dan tidak boleh melintas di jalur pejalan kaki (pedestrian).  Aturan ini dikecualikan bagi pengendara anak-anak di bawah 13 tahun, orang tua di atas 70 tahun, pengendara yang cacat fisik, atau karena kondisi terpaksa (misalnya konstruksi jalan).

Pada sisi jalan yang lebar, jalur pengendara sepeda dan pejalan kaki dipisahkan. Tapi, hanya sedikit jalur seperti ini, seperti tampak di Jl. Horikawa, Kyoto. (Photo: Ishaq)

Juga aturan ini menyebutkan bahwa jika pedestrian lebarnya lebih minimal 2 meter, maka dibuat jalur khusus (biasanya dengan warna jalan yang berbeda) untuk pengendara sepeda.   Memang, di beberapa jalan utama yang sisi jalannya cukup lebar, ada jalur untuk pejalan kaki dan ada juga penanda untuk jalur pengendara sepeda.  Tetapi, itu tidak banyak.  Sebagian besar jalur pejalan kaki tidak sampai 2 meter lebarnya.

Jadi, selama ini orang-orang di Kyoto (bahkan mungkin di seluruh Jepang) melakukan pelanggaran hukum massal.  Setiap hari saya bersepeda ke kampus, dengan waktu tempuh sekitar 25-30 menit.  Begitu juga pulangnya.  Saya biasa memilih jalan yang berbeda-beda, biar tidak bosan.  Kadang-kadang juga saya ke pusat kota Kyoto sekitar stasiun atau sekitar Kyoto Tower.

Yang saya saksikan adalah pengendara sepeda 99% menggunakan jalur pejalan kaki.  Sudah pasti, saya yang orang asing berpikir inilah aturannya.  Apalagi beberapa kali berpapasan dengan polisi, dan tidak pernah dilarang atau diberi peringatan.

Sepeda adalah alat transportasi penting di Kyoto. (Photo: Ishaq)

Rupanya, menurut laporan NPA sebagaimana dilansir koran The Yomiuri Shimbun (27/10), dalam 10 tahun terakhir ini, kecelakaan di jalan raya yang melibatkan sepeda mengalami penurunan sebesar 10%.  Akan tetapi, kecelakaan antara sepeda dan pejalan kaki mengalami kenaikan hingga 50% atau mencapai angka  2.760 kasus.

Penyebabnya sudah dapat dipastikan: karena pejalan kaki dan pengendara sepeda berada di jalur yang sama.  Tudingan diarahkan kepada pengendara sepeda yang “ugal-ugalan”, bahkan ada yang memacu sepeda hingga kecepatan mencapai 40 atau 50 km/jam.

Untuk itu, masih menurut The Yomiuri (oh ya, link beritanya ada disini), sejak Selasa 25 Oktober 2011, NPA menginstruksikan seluruh jajarannya, termasuk di perfektur dan kota-kota di Jepang, untuk “mengusir” pengendara sepeda dari pedestrian, kecuali yang memang disiapkan jalur untuk sepeda.

Pada langkah awal, polisi akan menghentikan setiap pengendara sepeda yang ditemui di pedestrian dan meminta mereka menggunakan sisi kiri jalan, sesuai aturan yang berlaku.  Tidak akan ada hukuman.  Teguran keras (biasanya dengan pencatatan identitas) akan diberikan bagi pengendera sepeda yang ugal-ugalan.  Jika pengendera seperti ini kedapatan lagi melakukan hal yang sama, barulah diberi sanksi.

Artinya, sepanjang cara bersepeda kita cukup normal dan wajar, tidak perlu khawatir ditahan oleh polisi.  Paling-paling dihentikan dan disuruh pindah ke jalan raya saja.

Kemarin, ketika dalam perjalanan ke kampus, saya memang sempat melihat ada 1-2 pengendara sepeda yang berbicara dengan polisi.  Nampaknya, mereka dihentikan oleh polisi, awalnya saya menduga mereka melakukan pelanggaran.  Mungkin, itu bagian dari sosialisasi pengaktifan kembali kebijakan lalu lintas tersebut.

Tentu saja, regulasi ini masih menimbulkan perdebatan kecil.  Pengguna jalan raya mengkhawatirkan terjadinya peningkatan kecelakaan di jalan raya yang melibatkan pengendara sepeda.  Dengan berpindahnya sepeda ke jalan-jalan raya, maka jalur untuk mobil dan motor akan sedikit menyempit.  Resiko untuk terjadinya kecelakaan makin besar.

Kita tinggal lihat saja, apakah pengguna sepeda memang bersedia untuk pindah ke jalan raya, yang sebenarnya lebih nyaman dan bisa lebih cepat.(*)