Penduduk Usia Lanjut di Jepang: Terbesar se-Dunia

Seorang warga usia lanjut yang sedang membuat sketsa bunga di Taman Kota Osaka (Photo: Ishaq)

Jepang adalah negara dengan jumlah penduduk sekitar 128,5 juta jiwa (sensus penduduk 2010), atau menempati peringkat sepuluh dunia setelah China, India, Amerika Serikat, Indonesia, Brazil, Pakistan, Nigeria, Bangladesh, dan Rusia.  Namun, salah satu isu sensitif bukanlah lapangan pekerjaan atau pemukiman (sebagaimana lazim dialami oleh negara-negara berpenduduk banyak), akan tetapi persoalan penduduk usia lanjut (elderly people).

Pada dekade 1950-an, jumlah penduduk Jepang berusia di atas 65 tahun (yang dikategorikan sebagai usia lanjut) adalah sekitar 5% dari populasi.  Namun, dengan makin meningkatnya standar kualitas hidup dan meningkatnya usia harapan hidup, pada tahun 2010 jumlah usia lanjut di Jepang sekitar 30 juta jiwa atau 23% dari seluruh penduduk.  Angka ini menjadikan Jepang sebagai negara dengan persentase penduduk usia lanjut terbesar di dunia.

Bagi kebanyakan orang Jepang, populasi berusia lanjut ini mulai dirasakan sebagai satu tantangan sendiri.  Pada satu sisi, hal ini menunjukkan keberhasilan meningkatkan kesejahteraan hidup, dengan makin tingginya angka harapan hidup.  Namun pada sisi lain, hal ini juga mulai berkaitan dengan isu-isu sosial ekonomi, seperti produktivitas dan penghasilan keluarga.

Orang-orang tua di Jepang tidak mungkin dibiarkan sendirian.  Sementara itu, tidak cukup banyak orang muda yang bisa mendampingi dan menjaga mereka, sebab penduduk usia muda ini harus sekolah atau bekerja.  Maka, akhir-akhir ini kebutuhan terhadap tenaga kerja yang bisa mendampingi orang-orang tua ini makin meningkat.

Telah sejak beberapa tahun lalu saya mendengar tentang hal ini di Indonesia, dan konon pemerintah Indonesia bermaksud memenuhi kebutuhan tersebut dengan menyediakan tenaga kerja yang lebih trampil.  Namun, sepanjang yang saya ketahui, tidak ada tenaga kerja asal Indonesia yang menjadi perawat orang tua di Kyoto.  Mungkin di tempat lain ada.

Padahal, setiap hari saya bisa berpapasan dengan puluhan atau mungkin ratusan orang tua di jalan-jalan, bis kota, atau tempat-tempat umum lainnya.  Tidak sedikit dari mereka yang badannya sudah bungkuk dan berjalan tertatih-tatih dengan bantuan tongkat.  Ada juga yang berjalan dengan bantuan kereta mesin (semacam mobil yang lebih kecil dari mobil golf).  Orang-orang berusia lanjut ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Kyoto.(*)