Konektivitas dan Sinergi Antardaerah Adalah Tantangan ASEAN Community

Pasar tunggal ASEAN dalam kerangka ASEAN Community 2015 sudah didepan mata.  Dalam waktu sekitar 4 tahun lagi, negara-negara di kawasan ini akan terintegrasi menjadi satu perekonomian bersama.  Namun, Indonesia masih menghadapi sejumlah masalah yang membutuhkan perhatian serius.

Salah satu persoalan tersebut adalah lemahnya sinergitas ekonomi antardaerah pada level domestik.  Sebagaimana diketahui, geliat ekonomi nasional saat ini berpusat di Pulau Jawa, dimana sekitar 70% – 80% peredaran uang ada disana. Perekonomian Pulau Jawa sangat didominasi oleh industri manufaktur, perdagangan barang dan jasa, dan sektor perbankan.

Sementara daerah-daerah di luar Jawa banyak menjadi penghasil bahan-bahan mentah dengan nilai ekonomi yang jauh lebih rendah.  Beberapa kawasan industri yang dibangun di luar Jawa belum maksimal menggerakkan perekonomian setempat.  Akibatnya, kebanyakan daerah di luar Jawa hanya menjadi penghasil barang-barang dengan nilai ekonomi rendah yang harus diproses di tempat lain.

Bahkan yang lebih tragis adalah kecenderungan terjadinya kecenderungan own trading.  Barang-barang mentah di luar pulau Jawa dikirim ke luar negeri sebagai barang ekspor (terutama ke China dan negara-negara Asia Timur), lalu di kirim kembali ke Indonesia, dengan sasaran daerah-daerah di Pulau Jawa yang menjadi pasar potensial.

Hal ini disinyalir oleh Deputy Menteri Koordinator Bidang Ekonomi dan Perdagangan RI, Edy Putra Irawadi, sebagai dilansir antaranews.com (Rabu, 15/02).  Tentu saja Indonesia mengalami kerugian beruntun, sebab negara lain memperoleh keuntungan dari perdagangan barang yang bersumber dari negara kita.

Membangun konektivitas dan sinergi antardaerah merupakan salah satu langkah yang harus ditempuh untuk mengatasi masalah ini.  Pemerintah pusat harus dapat menjadi koordinator dalam interaksi ekonomi domestik, untuk memastikan bahwa daerah-daerah ini bersinergi terkait satu sama lain.***