Balas Dendam Terhadap Musharaff?

Pada tahun 1999, Jenderal Pervez Musharaff mengambil aih kekuasaan politik di Pakistan melalui kudeta militer.  Ia kemudian menjadi kepala negara mayoritas muslim di Asia Selatan itu dengan (tentu saja) militeristik.  Sejak kemerdekaan pada tahun 1947 dari Inggris (tetapi masih menjadi bagian dari India), dan menjadi Republik Islam pada tahun 1956, Pakistan telah berkali-kali mengalami kudeta militer.

Militer telah memainkan peranan fundamental dalam politik Pakistan.  Tercatat pada periode 1958-1971, periode 1977-1978, dan 1999-2008, Pakistan dikuasai oleh junta militer.  Pada masa perang dingin, dominasi militer dapat dipahami dalam konteks internasional, sebab negara-negara Barat (terutama AS), tidak akan peduli suatu negara itu akan dikuasai oleh militer atau tidak, yang penting negara tersebut tidak menjadi bagian dari komunisme.

Namun, dominasi militer Pakistan pada periode 1999-2008 memiliki makna berbeda.  Pada masa itu, dunia internasional sedang bergerak ke arah demokrasi, dimana banyak rejim-rejim otoriter dan militeristik di berbagai belahan dunia mengalami kejatuhan.  Namun, Pakistan dibawah Pervez Musharaff mampu bertahan hingga akhirnya ditumbangkan melalui pemilihan umum tahun 2008 yang dipenuhi kemarahan rakyat.

Salah satu alasan paling masuk akal mengapa Musharaff dapat bertahan adalah kemampuannya memposisikan Pakistan sebagai titik strategis dalam perjuangan global melawan terorisme paska serangan WTC-911.  Pakistan menyediakan wilayahnya sebagai tempat transit bagi tentara AS dan sekutunya yang sibuk memburu Osama Bin Laden dan Al Qaedah di Afghanistan.

Adalah Benadzir Bhutto, putri pemimpin Pakistan Zulfikar Ali Bhutto yang digulingkan dan digantung pada masa-masa krisis politik di awal berdirinya Pakistan.  Motivasi kepemimpinan yang diturunkan dari ayahnya mendorong Benadzir menjadi tokoh kharismatik.  Ia terpilih sebagai Predana Menteri Pakistan pada 1988, namun 20 bulan kemudian ia dikudeta oleh rejim militer yang dipimpin oleh Ghulam Ishaq Khan.

Benadzir Bhutto menjadi orang termuda (dalam usia 35 tahun) yang memimpin Pakistan.  Ia juga tercatat sebagai perempuan pertama yang menjadi pemimpin negara muslim di jaman modern.

Pada tahun 1993, Benadzir kembali terpilih dalam pemilihan umum.  Namun, 3 tahun kemudian ia digulingkan oleh Presiden Farooq Leghari dengan tuduhan korupsi.  Benadzir yang alumni ilmu politik dari Universitas Harvard dan Universitas Oxford ini terus menjalankan perlawanan terhadap tuduhan-tuduhan yang dipenuhi konspirasi politik.

Setelah bertahun-tahun di pengasingan, Benadzir Bhutto kembali ke Pakistan pada Oktober 2007 untuk mempersiapkan diri menghadapi pemilu, melawan Presiden Pervez Musharaff.  Dukungan rakyat melalui partai yang dipimpinnya dari pengasingan (Pakistan People Party) begitu kuat.  Ia mendapatkan sambutan luar biasa disetiap wilayah yang dikunjungi.

Namun, pada 27 Desember 2007, Benadzir Bhutto terbunuh.  Ia ditembak dileher dan menjadi korban dari seorang pelaku bom bunuh diri.  Pemerintahan Musharaff dituduh berada di balik pembunuhan itu, sebab khawatir dengan popularitas Benadzir.

Pemilu kemudian berlangsung pada Februari 2008.  Partai yang dipimpin oleh mendiang Benadzir Bhutto memperoleh kemenangan telak dan menguasai parlemen.  Pada Agustus 2008, atas impeachment yang diterima, Pervez Musharaff mengundurkan diri sebagai Presiden Pakistan.  Dalam pemilihan umum berikutnya, suami Benadzir Bhutto, Asif Ali Zardari meraih kemenangan mudah atas rival-rivanya.

Dapat ditebak bagaimana arah politik domestik Paskitan paska perubahan rejim ini.  Namun, sedikit yang yakin bahwa Musharaff akan mengalami nasib yang begitu tragis.  Setelah di-impeach dari jabatan Presiden, ia harus hidup di pengasingan di Inggris.  Kini, Pengadilan Pakistan telah mengeluarkan surat penangkapan terhadapnya, atas tuduhan berkonspirasi dalam pembunuhan Benadzir Bhutto.***