Sejarah Ilmu Hubungan Internasional (Bag. 1 dari 3)

Secara formal, ilmu hubungan internasional terbentuk pada tahun 1918, yang ditandai dengan berdirinya Chair of International Relations – Woodrow Wilson Chair at Aberystwyth, University of Wales.  Namun, proses pembentukan itu tidak lahir begitu saja.  Terdapat sejarah panjang yang memotivasi para negarawan dan ahli ilmu sosial untuk menjadikan bidang studi ini sebagai disiplin ilmu mandiri.

Momentum paling berpengaruh adalah Perang Dunia I.  Pada tahun 1914, negara-negara utama di daratan Eropa terlibat perang besar, yang melibatkan setidaknya 19 negara.  Kutub perang terbagi dalam dua kubu, yaitu Poros Sekutu dan Poros Tengah.  Di pihak sekutu, terdapat Inggris Raya (termasuk 5 negara koloninya yaitu Kanada, Australia, Selandia Baru, India dan Afrika Selatan), Rusia, Prancis, Italia, dan Amerika Serikat.  Sementara di Poros Tengah terdapat Austria-Hungaria (Prussia), Jerman, Bulgaria, dan Turki (dibawah Kekaisaran Ottoman).

Sebanyak lebih 40 juta jiwa (militer dan penduduk sipil) tewas dalam perang ini.  Empat dinasti besar (Ottoman, Habsburg, Romanov, dan Hohenzollern) yang telah berkuasa sejak perang Salib (1091-1291) mengalami keruntuhan.  Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, senjata-senjata pemusnah massal (weapon of mass destruction) juga diaplikasi dalam perang ini, dengan penggunaan senjata kimia.

Kerusakan dan dampak destruktif bagi kemanusiaan telah memotivasi para negarawan dan ahli ilmu sosial untuk berpikir kembali tentang tatanan hubungan antarnegara.  Pertanyaan besarnya adalah mengapa negara-negara di dunia nyaris gagal hidup berdampingan dalam perdamaian?

Sejarah Dunia adalah Sejarah Perang

Jika kita mencermati sejarah, sebagian besar momentum-momentum penting yang tercatat selalu saja berkaitan dengan konflik dan perang.  Jejak ini dapat ditelusuri dalam karya-karya klasik, seperti dalam buku “The History of Pelopponesian War” yang ditulis oleh Thucydides.  Buku ini mengisahkan perang antara Sparta dan Athena (dua negara kota pada jaman Yunani Kuno) yang berlangsung pada tahun 431 SM – 404 SM.

Buku memberikan pengaruh besar dalam hubungan antarnegara modern.  Thucydides menulis: “War, which robs people of the easy supply of their daily wants, is a violent schoolmaster matching most men’s tempers to their condition” (Microsoft ® Encarta ® 2009).  Perang antara Sparta dan Athena yang berlangsung dalam beberapa tahapan, sesungguhnya merupakan upaya masing-masing pihak untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan masyarakat.  Dalam konteks itu, segara cara ditempuh oleh masing-masing pihak untuk memenangkan perang.

(sorry, will be continued soon)