Kunjungan Obama dan Kemitraan Strategis Indonesia – AS

Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama secara resmi mengumumkan rencana ke Indonesia pada awal Maret 2010.  Awalnya, Presiden Obama direncanakan kunjungan ini setelah Pertemuan Tingkat Tinggi pemimpin APEC di Singapura pada Nopember 2009.  Namun, rencana tersebut dibatalkan dengan alasan “Obama ingin lebih lama berada di Indonesia.  Sedangkan waktu tersedia sangat sedikit”.

Maka, seperti disampaikan Juru Bicara Gedung Putih, Robert Gibbs (dilansir AFP pada Selasa, 2 Pebruari), Presiden Obama akan meluangkan waktu lebih lama di Jakarta.  Ia kemungkinan akan memperkenalkan lingkungan masa kecilnya kepada istrinya, Ibu Negara Michelle Obama, dan kedua putrinya Malia dan Sasha.  Seperti diketahui, Presiden Obama pernah tinggal di Jakarta pada tahun 1967 – 1971, dan pernah bersekolah di SDN 01 Menteng.  Bahkan, sebuah patung kontroversial yang menggambarkan sosok Obama kecil saat ini berdiri di tengah Taman Menteng.

Sebagai kepala negara adi daya, kunjungan Obama tentu saja bukan sekedar “menelusuri kembali jejak masa kecilnya’.  Ia mengemban misi besar dalam konteks hubungan bilateral Indonesia-AS yang kini sedang berada pada tingkatan paling dekat setelah disepakatinya Strategic Partnership kedua negara.  Saat ini, masing-masing pihak di Indonesia dan Washington telah merampungkan negosiasi plan of action (PoA) untuk mengimplementasikan komitmen kemitraan strategis tersebut.

Kemitraan strategis dalam hubungan bilateral Indonesia – AS diusulkan oleh Presiden Yudhoyono sesaat setelah Presiden Obama menjabat Presiden AS.  Usulan ini langsung diterima, meskipun terdapat beberapa isu yang dibahas, dan kemudian dapat disepakati.  Saat ini, AS menghendari agar Kemitraan Strategis ini difokuskan pada bidang pendidikan, demokrasi, dan perubahan iklim.  Dan Indonesia menekankan pada kemitraan jangka panjang dengan penekanan pada people to people contact.  Gagasan ini dilandasi oleh asumsi bahwa “pemerintah saja tidak cukup untuk merealisasikan kerja sama antara kedua negara”.

Indonesia adalah negara kunci di Asia Tenggara.  Di sisi lain, gerakan besar negara-negara di kawasan ini untuk menggabungkan ekonomi, politik, dan sosial budaya dalam kerangka ASEAN Community (yang menurut rencana akan segera diwujudkan pada 2015) telah menjadikan Indonesia sebagai negara yang semakin penting bagi AS.  Setelah mengurangi pengaruh politiknya terhadap Philipina, dan lambat-laun makin sulit mempertahankan ketergantungan Jepang, kebutuhan AS terhadap mitra strategis di Asia Tenggara sangat mendesak.

Dalam lingkup ASEAN sendiri, saat ini sedang berlangsung perdebatan intensif tentang bagaimana arsitektur regional baru akan menampilkan sosoknya setelah integrasi ini terjadi.  Asumsinya, ASEAN tidak mungkin menjadi pemain tunggal dalam penciptaan stabilitas ekonomi dan politik di Asia Pasifik.  Pendapat pertama yang didorong oleh Malaysia dengan gagasan East Asian Community menegaskan bahwa ASEAN harus menjadi kekuatan mandiri dalam ekonomi dan politik regional.  Kalaupun kemitraan perlu dibangun untuk mendukung stabilitas, maka mitra paling rasional yang dapat dilibatkan adalah tiga negara Asia Timur yang memiliki perekonomian dominan, yaitu Jepang, Korea Selatan, dan China (ASEAN +3).

Tetap beberapa negara ASEAN (termasuk Indonesia) beranggapan bahwa melibatkan Jepang dan China mengandung bahaya politik.  Kedua negara ini memiliki sejarah rivalitas yang panjang dan dikhawatirkan menjadikan kawasan Asia Pasifik sebagai arena pertarungan baru.  Dalam konteks itu, potensi ekonomi-politik China dengan kemampuan dan kemajuan teknologi massal-nya telah menjadi ancaman tersendiri.  Untuk itu, arsitektur regional baru di Asia Pasifik seharusnya dibangun dengan melibatkan juga India, Australia, dan (dengan sendirinya) Selandia Baru (ASEAN +6).  India diharapkan dapat mengimbangi kemungkinan dominasi China, sementara Australia (yang secara tradisional tidak terpisahkan dengan Selandia Baru) dapat menjadi kekuatan penghubung dengan negara-negara Barat (Amerika dan Eropa).

Lalu dimana peran AS dalam struktur baru ini?  Hal inilah yang akhir-akhir ini menjadi bahan diskusi pengambil kebijakan di Washington.  Sebagai negara produsen, AS membutuhkan lingkungan strategis untuk mempertahankan eksistensinya.  Lingkungan strategis yang dimaksud adalah kawasan dengan “jumlah penduduk besar” sekaligus yang memiliki “masyarakat dengan daya beli tinggi”.  Asia Pasifik adalah jawaban kebutuhan itu, dimana China, India, dan Indonesia saja menyumbang lebih seperdua jumlah penduduk dunia.

Di Indonesia memang berkembang wacana yang mengkritik strategi concentric circle dalam politik luar negeri Indonesia.  Sebagaimana diketahui, Indonesia menjadikan ASEAN sebagai soko guru politik luar negeri dalam kerangka strategi tersebut.  Bagi para pengkritik, gagasan ini tidak realistis, sebab Indonesia menekankan fokus politik luar negeri pada upaya meningkatkan ekonomi.  Jika fokus ini yang diinginkan, seharusnya Indonesia justru menekankan hubungannya dengan negara-negara maju, tidak semata-mata terpaku pada ASEAN saja.  Dalam kenyataannya, kata pengkritik ini, Indonesia tidak memperoleh apa-apa dari ASEAN, justru ASEAN-lah yang memanfaatkan Indonesia.

Apabila dikaitkan dengan arsitektur regional baru di Asia Pasifik, maka seharusnya Indonesia mengadopsi strategi Asia Pacific Eight (AP-8), yaitu poros hubungan strategis antara delapan negara yang menghubungkan titik-titik ekonomi dan politik strategis di Asia Pasifik, yaitu: Indonesia, Jepang, China, India, Australia, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Rusia.

Tentu saja, kunjungan Obama ke Indonesia kali ini memiliki banyak makna.  Namun, dalam kerangka bilateral dan regional, AS nampaknya ingin menunjukkan keseriusannya menjadikan Indonesia sebagai partner utama dalam hubungan internasional.  Selain itu, AS juga ingin menekankan bahwa dalam setiap pembahasan mengenai arsitekrut regional dalam konteks seperti apapun, sebaiknya negara ini dilibatkan.  Bagaimanapun, adalah penting untuk memanfaatkan hubungan dengan AS, dan memperluas isunya meliputi orientasi people-to-people-contact.  Bukankah ASEAN Community yang hendak diwujudkan pada 2015 juga berorientasi pada pola hubungan people-to-people-contact?

Nampaknya, ini pilihan yang harus diperhitungkan…