Jalur Enrekang – Toraja

Saya kembali melakukan perjalanan ke Toraja, tepatnya Rantepao, yang sekarang menjadi wilayah Kabupaten Toraja Utara. Sejak tahun 2007, Kabupaten Toraja terbagi 2. Wilayah induk beribukota di Makale, dan wilayah pemekaran beribukota di Rantepao.

Masih seperti dulu, perjalanan ke Toraja sangat melelahkan. Jika beberapa tahun lalu Makassar-Toraja bisa ditempuh sekitar 7 jam, sekarang ini membutuhkan sekitar 9 jam. Perbaikan jalan di jalur Pangkep-Parepare yang telah 2 tahun belum rampung-rampung sangat menghambat akses ke wilayah Sulawesi Selatan bagian Utara, termasuk ke Toraja. Meskipun konstruksi jalan beton ini telah rampung sekitar 70%, namun (seperti biasa) kita tidak memperkirakan berapa lama lagi proses ini selesai.

Setelah melewati Enrekang, jalur menuju Toraja masih membutuhkan sekitar 105 km untuk mencapai Makele dan 120 km ke Rantepao. Jalanan berkelok-kelok. Bagi yang tidak biasa traveling, kondisi ini sangat menyusahkan. Orang bisa mual-mual karena mabuk perjalanan (travel sickness).

Sepanjang jalur ini terdapat beberapa tempat singgah untuk melepas lelah sambil minum kopi khas Enrekang, kopi Kalosi. Juga kita dapat menikmati makanan kecil khas Enrekang, atau membeli souvenir. Banyak wisatawan asing yang singgah disini.

Saya sangat terkesan dengan makanan khas Enrekang, nasu cemba. Kali ini saya sempatkan untuk menikmati sajian daging sapi bertulang yang dimasak dengan kuah asam ini. Rasanya benar-benar khas. Bagi penikmat kuliner, perlu sekali-sekali mencicipi sajian ini. Kata teman saya, sajian yang enak dapat dinikmati di pasar Cakke’ (sekitar 20 km dari kota Enrekang). Saya setuju dengan kata teman ini.

Enrekang, khususnya wilayah antara kota Enrekang dan Toraja, sangat terbantu dengan posisinya sebagai jalur perjalanan wisatawan ini. Mungkin inilah yang menyebabkan masyarakat di sekitar sini sangat berharap agar tidak ada penerbangan langsung Makassar-Toraja, yang dapat dipastikan akan mematikan usaha di sepanjang jalur ini.

Meskipun di Toraja telah ada bandara perintis, tetapi memang tidak ada penerbangan reguler pesawat komersil. Pilihannya memang sulit. Menyediakan penerbangan langsung ke Toraja berarti memajukan pariwisata Toraja, tapi juga berdampak pada bakal ludesnya sumber pendapatan masyarakat di sepanjang jalur Alla, Anggeraja, Cakke’ dan Kalosi.***