Jangan Remehkan Migrain

Selama bertahun-tahun saya mengalami masalah serius dengan migrain. Saya yakin, banyak orang yang pernah menderita sakit kepala sebelah ini, tetapi saya tidak yakin se-kronis yang saya alami.

Awalnya, migrain ini saya alami sekali-kali saja. Biasanya saya beralasan, “ah, ini mungkin kelelahan”. Biasanya, migrain memang menyerang saat-saat lelah, atau saat-saat makan tidak teratur. Jadi, saya mengkonsumsi obat-obat paten yang dijual bebas untuk menyembuhkan rasa sakit karena migrain.

Obat-obat itu memang menghilangkan rasa sakit. Tetapi, hati-hati, itu tidak menghilangkan migrain. Persoalan migrain (atau sakit kepala sebelah) tidak sesimpel itu. Mungkin Anda bisa googling untuk menemukan apa itu migrain. Namun, saya akan membagikan pengalaman pribadi saya.

Pada awal 2010, serangan migrain makin sering terjadi. Saya mulai khawatir, sebab jika dulunya masih bisa diatasi dengan obat-obat penghilang rasa sakit, sekarang ini sudah tidak bisa lagi.

Saya lalu mulai berpikir untuk ke dokter. Migrain, kata dokter, adalah fenomena sakit kepala akibat aliran darah ke otak yang terhambat di salah satu sisi (kiri atau kanan) saraf kepala. Begitu kira-kira penjelasan awamnya. Penyebabnya bisa macam-macam, begitu juga pemicunya. Pengobatan migrain harus diawali dengan mengenali pemicu dan mengetahui penyebabnya.

Itulah yang dilakukan dokter saraf terhadap saya. Serangkaian pemeriksaan dilakukan. Ada yang namanya EEG (entah apa kepanjangannya), lalu ada CT-Scan, dan diakhiri dengan MRI. Pemeriksaan ini dilakukan bertahap, sambil beberapa pengobatan dilakukan.

Dokter kemudian memberi saran terapi: saya harus berhenti berpikir beberapa lama, sambil diberi obat untuk menghilangkan sumbatan di saraf kiri. Berhenti berpikir itu bertujuan untuk mengurangi tekanan darah ke kepala. Dokter bahkan memberi penenang untuk memastikan saya tidak menggunakan otak selama beberapa waktu.

Saya tidak dilarang untuk beraktivitas. Saya hanya dilarang berpikir. Tentu ini tidak mudah, sebab sebagian besar aktivitas saya adalah berpikir. Tetapi hal itu harus dilewati. Kata dokter, jika ingin sehat kembali, Anda harus sedikit bersusah-susah.

Akhirnya, proses itu selesai juga. Sudah sebulan lebih saya tidak lagi mengalami migrain. Dokter hanya menyarankan untuk mengurangi (kalau bisa menghentikan) kebiasaan merokok. Beberapa jenis makanan yang menjadi pemicu juga harus dikurangi, seperti kacang-kacangan, keju, coklat, dan daging.

Migrain memang sepele, tapi sebaiknya jangan diremehkan. Sebagaimana kebanyakan penyakit lain, ini hanya gejala. Ada persoalan lain yang lebih serius sebenarnya. Itu yang saya alami… ***