Taksi dan Supir Yang Senang Berbicara

Pukul 03.00 WIB saya harus menuju bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, untuk mengejar flight pukul 05.30 WIB.  Jika saja ini adalah siang hari, saya pasti tidak mau berjudi dengan berangkat 2 jam sebelum waktu keberangkatan.  Tetapi ini adalah dini hari, waktu dimana jalan-jalan raya Jakarta sangat bersahabat.  Shutlle Bus yang dioperasikan Perum Damri baru beroperasi pukul 04.00 WIB.  Jadi, pilihan paling aman (meskipun lebih mahal) adalah menggunakan taksi.

Di Jakarta, memilih angkutan umum tipe itu ada trik-nya.  Ini berkaitan dengan tarif ganda yang saat ini berlaku.  Taksi yang dikelola oleh Blue Bird Grup memberlakukan tarif “normal”, dimana sekali buka pintu penumpang telah dikenakan biaya Rp. 6.000,-.  Sementara kebanyakan taksi lainnya memberlakukan “tarif bawah”, yang sekali buka pintu tarifnya Rp. 5.000,-.  Perbedaan juga akan terasa pada unit pembayaran tarif, yang selisihnya cukup jauh.

Kebiasaan yang sering saya lakukan saat naik taksi dimana saja adalah mengajak supir ngobrol.  Mungkin sekedar chit-chat, atau mungkin juga kita bisa terlibat pembicaraan menarik.  Selain saya ingin menunjukkan penghargaan kepada supir, mengajak supir bercerita sebenarnya memiliki manfaat lain, terutama kalau kita berkendara pada dini hari di jalan tol.  Ngobrol dengan supir dapat membantu supir untuk tidak terjebak mengantuk yang tentu saja berbahaya.  Apalagi kalau kita akan menempuh jarak seperti yang akan saya lalui ini, sekitar 45 menit menuju bandara.

Dari pengalaman saya selama ini, bahan pembicaraan dengan supir taksi itu bisa macam-macam.  Tetapi, para supir akan senang dan bercerita dengan antusias ketika kita bertanya tentang hal-hal pribadinya.  Mungkin dengan pertanyaan: “asalnya darimana Pak?”, atau mungkin “sudah berapa lama jadi supir taksi, pak?”, atau juga “bagaimana rasanya jadi supir taksi di Jakarta, pak?”.

Dengan pertanyaan itu, kita kemudian tinggal mendengarkan saja, sambil sesekali menyela dengan “oh, begitu, ya?”, atau “wah, hebat juga Bapak, ya?”, atau mungkin “lalu?”, dan seterusnya.  Saya jadinya paham, kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri, ingin di dengar, ingin dianggap ada, adalah kecenderungan umum yang ada pada setiap orang.  Bukankah kecenderungan manusiawi seperti itulah yang membuat situs-situs jejaring sosial menjadi populer? (LOL)

Tahukah kita, dengan mengajak ngobrol supir-supir taksi, kita sebenarnya memperoleh informasi tangan pertama tentang realitas kebanyakan orang?  Kita bisa memperoleh banyak sekali pengalaman sesungguhnya yang kadang-kadang jauh dari bayangan kita.  Saya menemukan banyak kisah hidup dan pengalaman kemanusiaan dari 30-45 menit waktu perjalanan bersama supir taksi.

(Beberapa pengalaman supir taksi ini akan saya bagikan di posting-posting berikutnya).***

Cengkareng, 05.13/menunggu boarding…