Kondisi Layanan RS Daya Sangat Memprihatinkan

Meskipun telah menempati gedung baru, Rumah Sakit Daya masih belum maksimal dalam memberikan layanan kepada pasien. Ini terasa sejak pasien masuk sampai ketika berada di ruang periksa/poliklinik.

Ini pengalaman saya pada Selasa, 12 Oktober 2010, sekitar pukul 09.15, ketika menggunakan layanan kesehatan di RS Daya, dengan fasilitas Asuransi Kesehatan (Askes). Saya tidak tahu apakah hal ini juga dialami oleh pasien non Askes, tapi melihat situasi RS yang begitu semrawut, saya yakin pasien kategori apapun merasakan situasi ini.

Begitu masuk di lobby Rumah Sakit, pasien akan menuju tempat Informasi/Rekam Medik (dimeja juga tertulis Resepsionis) yang padat, riuh, dan bising. Pasien atau keluarganya, jumlahnya sekitar 30-an orang, berkerumun di depan meja untuk mengambil rekam medis.

Meskipun ada tempat duduk, tetapi jaraknya relatif jauh (sekitar 5 meter) dari meja petugas. Pasien kesulitan mendengar namanya jika dipanggil, apalagi memang tidak ada pelantang suara.

Setelah dari meja yang sesak itu (padahal tempatnya di sisi hall yang cukup luas), pasien Askes akan menuju loket untuk memperoleh jaminan Askes. Namanya loket, tetapi pelayanan tidak jauh berbeda dengan meja sebelumnya. Bahkan lebih parah lagi.

Sekitar 4-5 orang staf duduk di ruangan berukuran (kira-kira) 2 meter x 4 atau 5 meter. Ruangan itu tidak memiliki AC, tidak ada kipas angin, dan tidak ada satupun dari tiga lampu neon di langit-langit yang menyala. Staf-staf ini dikerumuni oleh puluhan pasien. Ada yang menunggu proses Askes, ada yang minta penjelasan, bahkan juga ada temannya yang ngobrol dengan staf itu, entah urusan apa.

Ruangan yang panas, dipenuhi orang, remang-remang (kalau tidak mau dikatakan gelap). Pasien atau keluarganya berkerumun karena khawatir tidak mendengar jika nama mereka dipanggil. Memang ada tempat duduk di depan ruang ini, tetapi dengan keriuhan seperti ini, orang-orang tentu tidak ingin duduk saja, semua ingin cepat.

Apakah suasana semrawut ini berakhir disitu? Belum.

Saat terlepas dari keriuhan dan suasana semrawut disitu, pasien akan menuju ke poliklinik. Di sinilah pasien-pasien akan ditangani oleh dokter, sesuai jenis penyakitnya. Kepadatan kembali tampak.

Di sini terdapat banyak poliklinik, saya menghitung 12 poli. Ada poli gigi, THT, anak, interna, syaraf, jiwa, umum, Voluntary Conseling and Testing (VCT), bedah, kulit dan kelamin, mata, dan poli khusus pemeriksaan haji.

Keseluruh poli ini adalah ruang-ruang terpisah, berjejer pada satu areal sepanjang kira-kira 20-an meter, berhadap-hadapan. Maka, disepanjang lorong itu, pasien-pasien bejibun. Ada sekitar 80 sampai 100-an pasien yang menumpuk, menunggu giliran diperiksa, pada lorong berukuran lebar 2 meteran dan panjang sekitar 20-an meter. Sangat padat.

Belum lagi tata letak poliklinik itu yang simpang siur. Poliklinik anak diapit oleh poliklinik interna (penyakit dalam?) dan poliklinik kulit dan kelamin, dan di depannya adalah poliklinik mata. Pasien anak-anak campur baur dengan pasien penyakit lain.

Berapa kursi yang tersedia di areal ini? Hanya 5 bangku panjang dengan kapasitas maksimum 4 orang per bangku. Sementara pasien harus menunggu giliran rata-rata 1 jam sebelum diperiksa.

Pelayanan di RS Daya sangat memprihatinkan.***

Powered by Telkomsel BlackBerry®