Pembacaan Data Pribadi Semakin Kritikal

Ini pengalaman pribadi. Sejak tahun lalu, setiap kali membuka aplikasi-aplikasi di telepon genggam, selalu muncul iklan yang menyentuh hati. Di sosial media dan media-media online, berseliweran iklan baju kaos, topi, atau scarf dengan desain bertuliskan: “Ayah terbaik lahir di bulan Oktober” atau “Suami terbaik lahir di bulan Oktober“.

Bagaimana tidak menyentuh hati, saya lahir di bulan Oktober. Dan saya adalah ayah yang bangga memiliki empat anak, juga suami yang memiliki istri hebat.

Hari ini, iklan baju kaos yang muncul makin menohok hati: “ayah terbaik lahir di bulan Oktober 1972”. Wow, gue banget, kata hati saya.

Iklan yang menyentuh hati ini membuat saya berpikir cepat: benarkah ayah terbaik atau suami terbaik lahir di bulan Oktober 1972? Logikanya bagaimana?

Maka, sayapun Googling.

Ternyata, ayah terbaik (atau suami terbaik) itu lahir di semua bulan sepanjang tahun. Pencarian Google banyak menampilkan pabrik atau desainer baju kaos yang menawarkan produk dengan embel-embel “ayah terbaik lahir di bulan bla bla bla“.  Lebih spesifik lagi, hasil pencarian paling menyolok menampilkan toko-toko online yang menawarkan produk demikian.

Mengapa iklan yang muncul di HP yang saya gunakan begitu spesifik dan detail?  Dugaan saya spontan tertuju kepada isu yang sedang marak akhir-akhir ini: “keamanan data pribadi di internet”.

Saya membayangkan suatu routine yang sedang berlangsung seperti ini:

HP saya, yang sejatinya adalah benda mati dan seharusnya pasif, kini berubah menjadi sesuatu yang aktif mengumpulkan informasi yang secara teratur saya ketikan di HP ini: nomor kontak saya, alamat-alamat email relasi, informasi apa saja yang paling sering saya cari, aplikasi apa saja yang paling sering saya gunakan, dan sebainya.

Dari hasil perekaman tersebut, HP saya (sebenarnya lebih tepat disebut aplikasi atau aplikasi-aplikasi di HP saya), sekarang mengetahui dengan pasti kalau saya adalah seorang laki-laki, seorang ayah yang sedang terikat hubungan romantis dengan keempat anak yang mulai melek dunia. Ia tahu saya seorang suami yang perhatian pada istri. Ia tahu saya lahir di bulan Oktober, pada tahun 1972. Ia tahu saya senang dengan t-shirt dan topi. Ia tahu saya sering membuka-buka situs belanja online.

Informasi ini bisa dikatakan hasil analisis terhadap serpihan aktivitas dan karakter interaksi yang saya lakukan dengan aplikasi-aplikasi di HP.  Jadi, setiap kata (teks) yang saya ketikan di HP, baik itu ketika menggunakan sosial media, browsing, bahkan chat, direkam oleh aplikasi-aplikasi, disimpan, dan dianalisis untuk mengetahui profiling individual.

Targeted Audience

Aplikasi-aplikasi ini kemudian “memberikan” (tepatnya: mentransaksikan) profiling individual jutaan penggunanya tadi kepada pemasang iklan, baik perusahaan maupun agensi periklanan.  Maka, pemasang iklan kini memiliki data berharga target iklannya, sehingga mereka dapat merancang iklan yang langsung sesuai kebutuhan pembacanya.  Iklan dibuat bisa lebih efektif dan efisien, dengan tingkat ketertarikan yang lebih tinggi untuk memperoleh respon audiens.

Pasar itu besar dan beragam.  Para pengiklan yang menawarkan suatu produk perlu melakukan segmentasi.  Misalnya, jika suatu perusahaan memproduksi kosmetik, maka sasarannya tentu adalah seluruh wanita.  Tetapi jika yang diproduksi adalah “kosmetik yang dapat menghilangkan jerawat”, maka hanya wanita dengan masalah jerawat sajalah yang menjadi target.

Sehingga, audiens dari iklan yang dibuat oleh produk perlu ditargetkan secara spesifik, yang disebut sebagai “target audience”.  Secara konseptual, ada tahapan tertentu yang harus dilakukan oleh setiap perencana periklanan. (Tentu hal ini akan lebih cocok jika diuraikan oleh penstudi dan praktisi periklanan itu sendiri).

Secara konvensional, pengiklan akan melakukan cara manual untuk menyasar target audiens tadi. Misalnya, membuat event yang mengundang wanita-wanita dengan masalah jerawat pada contoh di atas.

Data Pribadi

Analisa terhadap data pribadi seperti itu menyebabkan seseorang di luar sana sekarang mengetahui apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita (heart and mind).  Padahal, apa yang ada dihati dan pikiran kita adalah satu-satunya kekuatan yang kita miliki di era information superhigh way yang penuh keterbukaan seperti sekarang ini.

Siapa saja tidak bisa lagi menyembunyikan kekuatan dan kelemahan kasat mata yang dia miliki.  Seorang yang memiliki kekayaan, tidak bisa lagi menutupinya.  Setiap orang yang pernah melakukan sesuatu di masa lalu, selalu saja memiliki catatan sekecil apapun. Seseorang yang memiliki dan mengendalikan pasukan rahasia, suatu negara yang memiliki persenjataan, dan sebagainya, tidak bisa lagi dirahasiakan.  Semua telah serba terbuka.

Satu-satunya kekuatan yang dimiliki oleh individu dewasa ini adalah kapan dan bagaimana semua itu digunakan. Hal ini tersimpan di hati dan pikiran.  Maka, mengetahui apa yang ada di hati dan pikiran seseorang, berarti potensi untuk mengontrol penuh seseorang, mengarahkannya untuk bertindak sesuau keinginan orang yang mengontrolnya.

Mungkin kita berpikir bahwa penggunaan data pribadi kita untuk memprofil karakter kita dan digunakan untuk keperluan iklan produk bukanlah masalah besar.  Tetapi bagaimana jika pengetahuan terhadap “what lies in our heart and mind” itu dimanfaatkan untuk membentuk preferensi kita terhadap pemimpin politik, menggerakkan kita untuk memilih orang-orang yang buruk, bahkan menghipnotis kita untuk membela orang-orang sebenarnya salah.

Yang menjadi persoalan dari proses ini adalah ketika pengumpulan data pribadi kita, dan bahkan pemberian data pribadi kepada pihak ketiga itu: berlangsung atas seijin kita, tetapi kita tidak sadar pernah memberikan ijin itu!

Coba ingat-ingat. Ketika pertama kali mengintall suatu aplikasi di HP, kita kemungkinan besar pernah menekan tombol “Saya Setuju” atau “I agree” dari suatu terms of service (TOS).  Tetapi pernahkah kita membaca TOS secara lengkap? Mayoritas tidak pernah.  Kenapa? Panjang, membosankan, dan kadang-kadang tidak jelas.  Tetapi, menekan “Setuju” adalah prasyarat untuk menjalankan aplikasi itu.

Proses “tidak sadar” yang dianggap dilakukan dengan kesadaran inilah yang kini menjadi jebakan bagi setiap orang yang memiliki akses online. By the way, masih adakah orang yang menggunakan smart phone tidak memiliki akses online?

Penetrasi pengumpul data memasuki ruang privat seharusnya menjadi kepedulian kita dewasa ini.(*)

Jual Tanah Kaflin, Sejujur-jujurnya Iklan

Di sekitar daerah Samata, Kabupaten Gowa, disisi kiri jalan menuju kompleks Zarindah, saya menemukan iklan sederhana ini. Tertulis pada sebilah papan hitam, terbaca cukup jelas: “JUAL TANAH KAFLIN”. Iya, ini adalah iklan penjualan tanah di Kecamatan Bontomarannu, lengkap dengan nomor handphone yang bisa dihubungi.

Bagi sebagian orang, bahasa di iklan itu adalah bahan lawakan. Tulisan tanah kaflin yang dimaksud pastilah tanah kavling. Orang Makassar bilang ini okkots. Anak-anak alay mungkin akan mengatakan ini okkots yang akut.
Tetapi, sungguh saya melihatnya sebagai sebenar-benarnya iklan.

Setiap hari, saya dan kita semua, pasti melewati iklan-iklan yang tersebar di banyak tempat. Juga iklan yang menawarkan tanah kavling. Tetapi seberapa sering kita memperhatikannya? Saya sendiri selalu saja mengabaikan iklan-iklan seperti itu.

Kali ini, saya memilih berhenti sejenak untuk mengamati baik-baik. Sebelum memotret iklan ini dengan kamera HP, saya sempat tersenyum sekilas. Tanpa sadar, iklan ini (yang sekilas tampak seperti bahan olok-olok, telah mencapai tujuan pemasangannya: menarik orang untuk singgah. Ya, iklan ini menjadi eye-catching.

Bukankah itu salah satu tujuan iklan?

Dikenal sejak jaman Yunani kuno, pada awalnya iklan berisi informasi pencarian terhadap budak-budak yang melarikan diri dari tuannya, atau mengenai informasi pertandingan Gladiator yang akan dihelat. Tujuannya, tentu, agar dibaca orang. Dengan begitu, informasi akan tersebar luas.

Iklan cetak yang termuat di koran seperti kita kenal sekarang dulunya merupakan sesuatu yang ekslusif. Dalam sejarah, iklan di media cetak pertama kali terbit di Imperial Intelligencer pada Maret 1648 di Inggris. Sayangnya, melalui pencarian di internet, saya tidak berhasil menemukan konten dan gambar iklan pertama itu.

Iklan modern, konon, dipelopori oleh seorang Inggris bernama Thomas J. Barratt di London. Ia bekerja untuk mempromosikan sabun merk Pears dengan menerapkan prinsip-prinsip slogan untuk audiens yang spesifik (targeted audience), menggabungkan frasa dan gambar. Salah satu slogan yang ia rancang adalah: “Good morning. Have you used Pears’ soap?” menjadi sangat populer hingga awal abad ke-20. Tidaklah berlebihan jika Barratt dikenal sebagai Bapak Iklan Modern.

Perusahaan besar seperti Coca Cola telah mengawali iklan di media cetak sejak abad ke-19. Tanggal 28 Mei 1886, iklan Coca Cola dengan slogan “Delicious! Refreshing! Exhilirating! Invigorating!” diterbitkan oleh John Pamberton (pendiri Coca Cola) di The Atlanta Journal. Pada masa itu, slogan ini merupakan ungkapan yang menarik dan akan selalu diingat.

Jika tujuan utama pemasangan iklan adalah untuk menanamkan dalam ingatan publik tentang suatu produk atau jasa yang hendak dipasarkan, maka tidak diragukan lagi iklan tanah kaflin yang saya temukan ini telah berhasil mencapai sebagian tujuan itu. Entah siapa yang membuat dan memajang iklan ini. Bisa jadi, ia membuatnya karena ketidaktahuan penulisan kata “kavling” yang benar.

Apakah ini kesalahan dari ketidaktahuan? Saya kira, banyak orang sukses yang mengawali langkahnya dengan ketidaktahuan dan kesalahan. Mungkin saja, seseorang dibalik iklan tanah kaflin ini juga demikian. Mungkin saja, seseorang itu adalah RahinG. (*)