Anjing Gila, Wamen Denny, dan Al Capone

Dua hari ini media ramai memberitakan gaya “ugal-ugalan” Wakil Menteri Denny Indrayana yang main tampar petugas Lapas Pekanbaru.  Berkunjung pada pukul 02.30 WIB dini hari tanpa pemberitahuan (namanya inspeksi mendadak sih), menggedor-gedor pintu Lapas, telat dibukakan pintu, lalu main tampar petugas Lapas.

Wamen Denny membantah melakukan penamparan.  Tetapi surat Kepala Lapas yang menceritakan kronologis kejadian mengisahkan peristiwa itu.  Setidaknya, dua orang petugas Lapas, yaitu Sipir Khoiril dan Sipir Darso Sihombing (yang juga komandan jaga), kena sasaran kemarahan dan menjadi korban penganiayaan Wamen dan ajudannya.

Nampaknya, Wamen Denny sedang gerah dengan kekuasaan para penjahat yang telah memasuki ranah hukum.  Praktek peredaran narkotika di Lapas adalah rahasia umum, dan patut diduga bahwa banyak petugas lapas yang telah dibeli oleh penjahat-penjahat narkotika untuk memuluskan operasi dan bisnis narkotika di penjara.

Kisah ini membuat saya teringat pada film The Untouchables, yang dibintangi Kevin Costner dan Robert de Niro, dirilis tahun 1987 silam.  Kevin Costner memerankan Elliot Ness, seorang penegak hukum idealis yang gerah dengan sepak terjang Al Capone (diperankan de Niro) penjahat kelas kakap yang tidak tersentuh hukum.

Al Capone tidak pernah dapat disentuh hukum bukan saja karena ia kerap bertindak kejam terhadap lawan-lawan dan anak buahnya yang mencoba untuk berkhianat, tetapi juga karena ia dapat membeli dan mengendalikan aparat penegak hukum.  Banyaknya polisi dan petugas keamanan korup di berbagai level, membuat Al Capone dapat menggunakan pengaruh uang untuk menguasai bahkan hukum sekalipun.

Menyadari hal itu, Elliot Ness membentuk tim kecil yang dia rekrut sendiri, dan dia yakini tidak dapat dibeli oleh Capone.  Lalu, dengan gaya anjing gila, Jaksa Ness bertindak diluar hukum untuk menyeret Al Capone mendapatkan pengadilan di muka hukum.  Kontradiksi memang.

Kisah Wamen Denny nampaknya terinspirasi oleh Ness.  Tindakan dan sepak terjang yang ditampilkan seolah tidak percaya pada mekanisme formal hukum.  Inspeksi mendadak Wamen Denny sering dilakukan di berbagai Lapas tanpa berkoordinasi dengan bawahannya yang mengatur dan mengelola Lapas.  Nampak jelas, Wamen Denny tidak percaya kepada aparat-aparat Lapas, kepada bawahannya, dan mengawali tindakan “selebor”-nya dengan asumsi ketidakpercayaan terhadap aparatnya.

Hukum di Indonesia memang penuh perdebatan.  Sebagian kalangan tidak percaya bahwa hukum adalah mekanisme yang tepat untuk memperoleh keadilan.  Uang adalah dewa yang bekerja menentukan siapa yang benar dan salah.

Sebagian lain masih menganggap setiap negara membutuhkan instrumen yang disepakati bersama untuk membangun ketertiban.  Sejelek-jelek hukum di Indonesia, hukumlah alat yang tersedia untuk itu.  Jika memang aparat-aparat penegak hukum masih banyak yang korup, itulah yang perlu dibenahi.  Bukan dengan cara mengawali tindakan dengan asumsi ketidakpercayaan terhadap hukum.

Wamen Denny, terlepas dari benar-tidaknya peristiwa penamparan terhadap aparat Lapas, telah memberi contoh yang keliru.  Masyarakat bisa berpikir, sedangkan pejabat saja tidak percaya pada prosedur dan mekanisme, bagaimana kami akan percaya?  Ini bisa makin mendorong praktek suap untuk memperoleh SIM dengan cara cepat dan singkat, suap dalam perijinan, dan sebagainya.  Masyarakat akan terinspirasi untuk menempuh langkah-langkah di luar prosedur untuk menyelesaikan urusan mereka.

Elliot Ness memiliki sosok musuh yang dapat dia eksploitasi menjadi public enemy, yaitu Al Capone.  Tetapi, Wamen Denny Indrayana tidak memiliki musuh seperti itu.  Apa yang menjadi kebencian Denny adalah kebencian sebagian besar rakyat Indonesia.  Di luar sana, jutaan rakyat mendambakan keadilan dan ketertiban.  Tetapi, rakyat masih percaya pada sistem dan hukum dan mekanisme dan prosedur.

Lalu, mengapa Wamen Denny yang nota bene seorang pejabat justru menjadi anjing gila yang bertindak seenaknya, apalagi terhadap bawahan dan pegawai rendah selevel Sipir Lapas.

Saya, dan banyak orang di luar sana, mendambakan sosok anjing gila untuk mengamuk dan menyeret Al Capone di balik BLBI, Century, Mafia Pajak.  Bukan Sipir Khoiril dan Sipir Darso Sihombing. Bersediakan Anda menjadi anjing gila seperti harapan kami, Wamen Deny? (*)